Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Cuaca Buruk dan Gangguan Distribusi Picu Lonjakan Harga Cabai di Batam

Hendri Kremer
12/12/2025 22:00
Cuaca Buruk dan Gangguan Distribusi Picu Lonjakan Harga Cabai di Batam
Cabai dan bahan dapur lainnya di pasar tradisional Batam. Harga cabai menjadi salah satu komoditas yang paling terdampak kenaikan.(MI/HENDRI KREMER)

CUACA buruk dan terganggunya distribusi pasokan dari luar daerah memicu lonjakan harga cabai di Kota Batam dalam beberapa pekan terakhir. Harga cabai merah keriting di sejumlah pasar tradisional kini tembus Rp80 ribu hingga Rp95 ribu per kilogram, naik drastis dari kisaran Rp55 ribu sebelumnya.

Pantauan Media Indonesia, Jumat (12/12) pagi di pasar-pasar tradisional menunjukkan kenaikan harga terjadi hampir merata. Para pedagang menyebut pasokan dari Jawa dan Sumatera berkurang tajam akibat hujan berkepanjangan yang memengaruhi panen, serta hambatan pengiriman.

“Barang yang masuk Batam sedikit. Cuaca di daerah pemasok juga lagi jelek, jadi panen berkurang dan kiriman tidak serutin biasa,” kata Munir, 44, salah seorang pedagang cabai di Pasar Tiban Centre.

Kondisi ini langsung berdampak pada pelaku usaha kuliner di Batam, Ajo, 33, pemilik warung makan di kawasan Sekupang, mengaku kenaikan harga cabai membuat biaya produksi melonjak, sementara ia tak berani menaikkan harga jual makanan.

“Cabai itu bahan utama sambal. Harga naik terus, tapi kalau harga menu ikut dinaikkan, pelanggan bisa lari,” keluhnya.

Anto, 44, salah satu pedagang, mengungkapkan bahwa warungnya membutuhkan 2–3 kilogram cabai setiap hari. Lonjakan harga membuat biaya produksi sambal melonjak hampir dua kali lipat. Ia menuturkan para pemilik warung kini menghadapi dilema: menaikkan harga menu berisiko kehilangan pelanggan, sementara mempertahankan harga membuat keuntungan semakin kecil.

“Baru ditambah tambahan Harga aja mereka pada ngeluh. Kami benar-benar kewalahan,” katanya.

Kekhawatiran kian meningkat menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, ketika permintaan bahan pangan biasanya naik dan harga komoditas rawan kembali meroket.

Di sisi lain, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Batam, Mardanis, memaparkan bahwa pasokan cabai untuk Batam sebagian besar masih bergantung pada daerah luar, seperti Mataram, Yogyakarta, Sumatera Utara, Aceh, dan Padang. Namun, wilayah-wilayah tersebut juga sedang mengalami penurunan produksi.

“Lonjakan harga cabai bukan hanya terjadi di Batam, tetapi hampir di seluruh daerah. Karena itu, langkah paling masuk akal adalah memperkuat produksi lokal,” katanya.

Saat ini produksi cabai merah lokal di Batam baru mencapai sekitar 100 kilogram per hari, jauh dari kebutuhan harian yang berada di angka 15–20 ton. DKPP telah mengembangkan lahan cabai merah seluas 15 hektare untuk mengurangi ketergantungan pasokan luar, meski masa tanam yang tidak serentak membuat panen belum bisa mengimbangi kebutuhan.

“Produksi kita belum mampu menutup kebutuhan pasar, tapi pengembangan lahan ini menjadi langkah awal agar Batam tidak terus bergantung pada pasokan luar,” tambahnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya