Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
PT Agincourt Resources (PTAR) akhirnya angkat bicara setelah beredar kabar yang mengaitkan bencana longsor dan banjir bandang di Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, dengan operasional Tambang Emas Martabe.
Dalam pernyataannya, PTAR menegaskan bahwa banjir bandang yang melanda Desa Garoga tidak berkaitan dengan aktivitas tambang. Menurut manajemen, titik awal bencana berada di Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Garoga dan kemudian menyebar ke sejumlah desa seperti Huta Godang, Batu Horing, Sitinjak, dan Aek Ngadol.
"Banjir bandang terjadi karena alur Sungai Garoga tidak mampu menampung laju banjir yang membawa material kayu dan lumpur secara masif," tulis keterangan PTAR dikutip Kamis (4/11).
Perusahaan menjelaskan bahwa tumpukan kayu gelondongan dalam jumlah masif di Jembatan Garoga I dan Jembatan Anggoli (Garoga II) turut memicu perubahan aliran sungai secara mendadak. Sumbatan mencapai titik kritis pada 25 November sekitar pukul 10.00, sehingga dua anak Sungai Garoga menyatu dan menghantam langsung Desa Garoga. Puluhan warga meninggal dunia dan puluhan lainnya masih dilaporkan hilang.
PTAR menyebut operasional Tambang Emas Martabe berada di sub-DAS Aek Pahu, wilayah yang secara hidrologis terpisah dari sub-DAS Garoga. Meski kedua aliran sungai bertemu, titik pertemuannya berada jauh di hilir Desa Garoga. Karena itu, aktivitas perusahaan di Aek Pahu dinilai tidak memiliki hubungan langsung dengan bencana tersebut.
"Meski ditemukan beberapa titik longsor di sub-DAS Aek Pahu, aliran sungai di wilayah tersebut tidak menunjukkan adanya banjir bandang. Alur Sungai Aek Pahu tidak membawa material lumpur atau kayu dalam jumlah besar yang dapat memicu sumbatan sebagaimana terjadi di Sungai Garoga. Lima belas desa lingkar tambang yang berada di wilayah Aek Pahu pun tidak mengalami dampak signifikan, dan kini justru berfungsi sebagai pusat pengungsian," kata dia.
Melalui pemantauan udara menggunakan helikopter, PTAR menemukan sejumlah titik longsor di tebing-tebing hulu Sungai Garoga. PTAR mengeklaim longsoran tersebut diperkirakan menjadi sumber material lumpur dan batang kayu yang kemudian terbawa arus. PTAR menegaskan bahwa temuan awal ini masih memerlukan kajian lanjutan untuk memastikan seluruh faktor penyebab bencana.
PTAR juga menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga para korban banjir bandang dan longsor di Batang Toru. Perusahaan berkomitmen untuk terus mendukung upaya pemerintah daerah, TNI–Polri, serta berbagai pemangku kepentingan dalam evakuasi, pemulihan, dan penanganan para pengungsi.
Di akhir pernyataan, PTAR mengingatkan pentingnya menjaga akurasi informasi di tengah tingginya perhatian publik terhadap bencana ini.
"PTAR menilai pentingnya menghindari narasi-narasi yang tidak tepat dan berpotensi mengganggu proses pemulihan. Perusahaan mendukung penuh dilaksanakannya kajian komprehensif dan independen untuk memastikan pemetaan penyebab bencana secara presisi, demi penguatan mitigasi risiko di masa mendatang."
Meski demikian, sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, Bulog, BNPB, dan relawan membuat suplai pangan pokok tetap bergerak.
Sebagai langkah awal, KLH/BPLH telah melakukan inspeksi mendadak terhadap dua perusahaan yang beroperasi di Batang Toru.
Menteri Hanif menegaskan pemulihan lingkungan tidak dapat dilakukan secara parsial, tapi harus memandang keseluruhan ekosistem sebagai satu kesatuan.
Perusahaan juga memastikan bahwa pengelolaan air sisa proses dilakukan secara bertanggung jawab.
Menurutnya, seluruh bantuan yang diberikan sangat sesuai dan mendukung peningkatan kualitas pendidikan vokasi yang sedang didorong Pemerintah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved