Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PULUHAN ribu ikan ditemukan mati di pantai perairan Morosari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Kejadian ini diduga karena keracunan atau akibat perubahan iklim di perairan utara Jawa Tengah hingga menimbulkan aroma tak sedap.
Pemantauan Media Indonesia, Jumat (28/11), puluhan ribu ikan terlihat mengambang di pantai Morosari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Kondisi itu menimbulkan aroma tak sedap dan mengganggu lingkungan sekitar hingga membuat warga khawatir.
Sejumlah petugas dari desa, kecamatan hingga Pemkab Demak diturunkan untuk melakukan pemeriksaan atas kejadian tersebut, namun hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebab kematian puluhan ribu ikan di perairan utara Jawa Tengah ini.
"Sudah tiga hari lalu puluhan ribu ikan mati di pantai Sayung ini," ujar warga sekitar, Furqon, 40.
Hal serupa juga diungkapkan warga lain, Achmadi, 55, mengaku kaget banyak ikan mati terdampar di pantai Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Demak. Warga pun merasa takut dan mengira-ngira kejadian ini akibat pencemaran dan dapat berimbas pada perikanan budi daya sekaligus aroma tak sedap ikan busuk tercium hingga radius ratusan meter.
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Demak Sudarwanto mengatakan, setelah mendapatkan laporan adanya puluhan ribu ikan mati di perairan Sayung, petugas diturunkan untuk melakukan pemeriksaan guna mengungkap penyebab kematian ikan secara bersamaan.
"Kita telah ambil sample ikan, kasar air hingga lumpur di pantai Bedono, Kecamatan Sayung, Demak untuk diteliti di laboratorium," kata Sudarwanto.
Menurut Sudarwanto, meskipun telah diturunkan petugas untuk melakukan penelitian, namun hingga kini belum dapat dipastikan penyebab kematian ikan tersebut, karena masih menunggu dan pemeriksaan laboratorium selesai.
"Penyebabnya bisa berbagai hal, namun yang penting saat ini mengatasi lebih ikan yang mati agar tak berdampak pada lingkungan," imbuhnya.
Meskipun tidak menampik adanya dugaan awal yang dipicu fenomena perubahan sanitasi air, sirkulasi air laut dan payau yang terhambat akibat pembangunan Tol Semarang–Demak, sehingga air laut tidak bisa masuk bertukar dengan air tawar di cekungan.
"Namun itu belum dapat dijadikan kesimpulan," tuturnya.
Lokasi matinya puluhan ribu ikan itu, ungkap Sudarwanto, bukan berada di tambak produksi milik warga, tetapi di kolam retensi penampungan lumpur yang dijadikan sebagai persiapan pembangunan kolam retensi. (M-2)
Sebagai hewan ektotermik, suhu lingkungan jadi penentu utama siklus hidup nyamuk. Karena itu perubahan iklim berdampak besar pada penyakit akibat gigitan nyamuk.
TAHUN 2024 tercatat sebagai salah satu tahun dengan kasus DBD akibat gigitan nyamuk aedes aegypti tertinggi dalam sejarah global. Itu merupakan sinyal kuat dari dampak perubahan iklim,
KERUSAKAN ekosistem global dan perubahan iklim tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga memicu perubahan serius dalam hubungan antara manusia dan nyamuk.
Peneliti ciptakan alat 'Stomata In-Sight' untuk mengamati pori-pori daun saat bernapas. Teknologi ini diharapkan mampu menciptakan tanaman yang lebih hemat air.
Studi terbaru mengungkap masa depan budidaya alpukat di India. Meski permintaan tinggi, perubahan iklim dan emisi karbon mengancam keberlanjutan panen.
Penelitian terbaru mengungkap bagaimana pola hujan ekstrem mempercepat pelepasan karbon tanah ke atmosfer dan bagaimana biochar menjadi kunci ketahanan tanah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved