Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Program MBG Dongkrak Ekonomi Bengkulu, Triwulan III Tumbuh 4,56 Persen

Marliansyah
27/11/2025 14:34
Program MBG Dongkrak Ekonomi Bengkulu, Triwulan III Tumbuh 4,56 Persen
Ilustrasi(Dok.Antara/Istimewa)

Di tengah tekanan ekonomi global dan perlambatan yang terjadi di sejumlah daerah, Provinsi Bengkulu masih mampu menjaga pertumbuhan ekonominya. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu faktor pendorong peningkatan aktivitas ekonomi lokal sepanjang 2025.

Dampak program ini mulai dirasakan para pelaku usaha, terutama peternak dan pedagang bahan pangan seperti ayam, telur, serta komoditas sayuran. Roni (42), pedagang telur di Kelurahan Panorama, Kecamatan Singaran Pati, mengaku mendapatkan manfaat langsung dari adanya pasokan rutin untuk dapur MBG.

“Setiap hari saya mendistribusikan sekitar 33 karpet atau lebih dari 1.000 butir telur ke dapur MBG,” ujarnya.
Satu karpet berisi 30 butir, sehingga pasokan harian mencapai seribu butir lebih. Telur yang ia suplai berasal dari peternak lokal dan sebagian dari Sumatera Barat.

Peningkatan permintaan juga dirasakan pedagang ayam potong di Kota Bengkulu. Untuk kebutuhan MBG, pesanan ayam mencapai sedikitnya 50 kilogram per hari.
“Kalau pasokan stabil, harga ayam untuk MBG sekitar Rp34 ribu per kilogram. Dari 50 kilogram itu, rata-rata jadi 700 potong ayam,” jelas salah seorang pedagang.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu mencatat ekonomi daerah ini tumbuh 4,56 persen (yoy) pada triwulan III 2025, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2024 sebelum program MBG berjalan penuh. Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Januari–September 2025 mencapai 4,80 persen (c-to-c).

Meski mengalami kontraksi -2,97 persen (qtq) karena pola musiman, sejumlah sektor tetap menunjukkan penguatan. Pada triwulan II 2025, sektor perdagangan besar dan eceran tumbuh 3,89 persen, naik dari triwulan I yang tercatat 3,82 persen. BPS menyebut kenaikan ini salah satunya dipengaruhi meningkatnya permintaan beras, telur, dan ayam untuk mendukung distribusi makanan MBG di berbagai wilayah.

Di Kota Bengkulu, sebanyak 68.950 siswa telah menerima manfaat Program MBG yang tersebar di 247 sekolah, mulai dari PAUD/TK (87 sekolah), SD (78 sekolah), SMP (33 sekolah), SMA (26 sekolah), MI (2 sekolah), MTS (7 sekolah), MA (5 sekolah), SLB (5 sekolah), hingga pesantren (4 sekolah).

Ketua SPPG Regional Bengkulu, Gloria Situmorang, mengatakan program ini berjalan cukup baik meski masih menemui beberapa kendala teknis.

“Ke depan, MBG diharapkan menyerap lebih banyak tenaga kerja. Saat ini saja sudah ada sekitar 1.833 tenaga kerja langsung di 39 SPPG, belum termasuk pekerja sektor hulu seperti petani dan peternak,” ujarnya.

Ia menambahkan, setiap SPPG bekerja sama dengan sedikitnya 15 pemasok lokal. Dengan 39 SPPG, terdapat sekitar 585 pemasok lokal yang terlibat secara aktif memasok bahan pangan untuk MBG.

Setiap SPPG menerima dana operasional sekitar Rp1 miliar per bulan, dengan 85 persen di antaranya dibelanjakan untuk produk pertanian lokal. Perputaran dana tersebut kemudian mengalir kembali ke petani, peternak, UMKM, dan distributor daerah.

Dengan struktur belanja yang kuat pada produk lokal, MBG menjadi salah satu motor penggerak ekonomi Bengkulu yang memberikan efek berantai — dari dapur produksi, peternakan, pertanian, hingga sektor distribusi

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya