Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Gubernur Papua Kecam Keras RS Tolak Pasien hingga Kematian Irene Sokoy

Marcelinus Kellen
21/11/2025 17:16
Gubernur Papua Kecam Keras RS Tolak Pasien hingga Kematian Irene Sokoy
Ilustrasi.(freepik)

GUBERNUR  Papua Mathius Fakhiri mengecam keras dugaan penelantaran oleh rumah sakit terhadap pasien ibu hamil almarhumah Irene Sokoy dan bayinya yang berujung kematian keduanya pada Senin (17/11). Keduanya telah dimakamkan pihak keluarga pada Rabu (19/11).

Kepada wartawan Gubernur Papua Mathius menegaskan bahwa seluruh fasilitas kesehatan baik rumah sakit maupun puskesmas tidak boleh menolak pasien dalam kondisi apa pun.  Gubernur memberi ultimatum bakal menindak tegas jika ada fasilitas kesehatan yang melanggar.

“Semua direktur rumah sakit dan pemerintah daerah wajib mengambil langkah tegas. Layani pasien terlebih dahulu tanpa mempertanyakan kapasitasnya. Ini wajib,” tegasnya lagi.

Sementara Manajemen Rumah Sakit Dian Harapan (RSDH) Jayapura yang dihubungi melalui Wakil Direktur Aloysius Giyai, Kamis (21/11) sore menegaskan bahwa mereka tidak pernah menolak pasien rujukan dari RSUD Yowari.

Meski mengakui tak punya kewenangan memberi penjelasan, Aloysius Giyai yang juga mantan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua dan Direktur RS Abepura dan RS Jayapura itu mengirimkan jawaban resmi pihak RS Dian Harapan.

Pihak rumah sakit menyampaikan bahwa sejak awal mereka telah memberikan edukasi mengenai kondisi layanan, ketersediaan dokter dan ruang perawatan kepada petugas RSUD Yowari sebelum pasien tiba.

Pihak RSDH memaparkan secara rinci kronologi permintaan rujukan terhadap pasien Ny. IS, 30 tahun, yang mengalami kondisi inpartu kala II lama dengan gawat janin.

Peristiwa bermula pada Senin, 17 November 2025, pukul 00.08 WIT, ketika petugas Kamar Bersalin RSUD Yowari menghubungi RSDH untuk merujuk pasien. Dokter jaga RSDH kemudian meminta konfirmasi ketersediaan dokter spesialis anestesi, ruang perawatan, serta dokumen SOAP rujukan.

Selanjutnya 00.16 WIT: RSUD Yowari mengirimkan foto surat pengantar ambulans. Pemeriksaan internal dilakukan oleh bidan jaga RSDH, yang menemukan bahwa ruang NICU telah terisi penuh oleh delapan bayi, ruang kebidanan juga penuh, dan dokter spesialis Obgyn sedang cuti.

Dokter spesialis anestesi mitra yang dapat dipanggil membutuhkan waktu koordinasi tambahan jika harus melakukan operasi darurat.

Pada 00.43 WIT, dokter jaga mengirimkan pemberitahuan resmi ke RSUD Yowari bahwa kapasitas layanan kritis untuk tindakan operasi sesar darurat (SC CITO) tidak tersedia, dan menyarankan agar pasien langsung dirujuk ke rumah sakit lain. Namun pada 00.59 WIT, RSUD Yowari mengabarkan sudah membawa pasien menuju RSDH.

Sesampainya di IGD pukul 01.10 WIT, petugas RSUD Yowari meminta dokter jaga RSDH memberikan cap rumah sakit dan mengedukasi keluarga pasien. Dokter kemudian menjelaskan secara langsung bahwa dokter Obgyn dan anestesi tidak siaga dan ruang perawatan penuh.

Setelah penjelasan diterima, pihak keluarga memutuskan melanjutkan rujukan ke rumah sakit lain. Dokter jaga kemudian menuliskan keterangan dalam surat pengantar ambulans sebelum kembali menangani pasien darurat lain yang sudah tiba lebih dulu.

Situasi di IGD sempat semakin padat ketika seorang ibu melahirkan di dalam mobil, sehingga bidan RSDH meminta ambulans RSUD Yowari memajukan posisi mobil agar penanganan darurat bisa dilakukan. Ketika petugas RSDH hendak kembali ke ambulans RSUD Yowari, mobil tersebut sudah meninggalkan area rumah sakit.

Manajemen RSDH menegaskan bahwa seluruh prosedur telah dijalankan sesuai standar dan tidak ada unsur penolakan pasien.

Sebelumnya diberitakan Seorang ibu muda asal Kampung Hobong, Kabupaten Jayapura, Irene Sokoy, meninggal bersama bayi yang sedang dikandungnya setelah ditolak sejumlah rumah sakit di Kota Jayapura, Papua. (H-4)

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik