Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Kenduri Blang, Momen Doa Bersama dan Media Bermusyawarah Petani Aceh

Amiruddin Abdullah Reubee
17/11/2025 23:58
Kenduri Blang, Momen Doa Bersama dan Media Bermusyawarah Petani Aceh
Petani menggelar Khanduri Blang (Kenduri Turun Ke Sawah) di bukit kecil tengah sawah kawasan Desa Dayah Bubue, Kemukiman Lampoih Saka, Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

JEMAAH Masjid Taqwa Lampoih Saka, Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, baru saja menunaikan ibadah salat zuhur. Senin (3/11) siang itu jarum jam menunjukkan sekitar pukul 12.45 WIB. Matahari panas membakar bumi.

Satu persatu para kaum ibu membawa hidangan kenduri yang dimasukkan dalam wadah panci terbungkus kain. Dalam wadah lainnya ada beragam lauk ikan masakan khas Aceh. Lauk ikan laut itu dimasukkan dalam rantangan berlapis-lapis.

Tidak ketinggalan kuah sayur lemak santan khas Aceh dan air putih untuk pelepas dahaga. Semua bahan masakan itu tidak saja dimasukkan dalam panci atau wadah rantang, tapi juga terbalut bungkusan dengan kain laksana hidangan dulang kenduri maulid.

"Ini Khanduri Blang (kenduri turun ke sawah) sebelum memulai membajak lahan. Itu pertanda musim tanam telah tiba," tutur seorang perempuan yang mengusung hidangan kenduri ke sebuah gundukan mirip bukit kecil.

Gundukan bukit kecil itu persis di kelilingi hamparan sawah, dimana warga Desa Dayah Bubue, Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie, Aceh, menggelar tradisi kenduri setiap musim turun ke sawah itu dilaksanakan.

"Di gundukan bukit kecil itu ada tiga makam syuhada yang dianggap keramat. Mereka bertiga syahid karena menentang penjajahan kolonial Belanda. Jasad para pejuang itu terpotong-potong oleh kekejaman musuh. Hingga kini lokasi yang nama aslinya Cot Beuringen ini menjadi lokasi kenduri Blang," kata Muhammad Amin, warga Lampoih Saka, kepada Media Indonesia, Senin (17/11).

Media Indonesia, yang kebetulan melewati jalur Nasional Banda Aceh-Medan, dekat lokasi setempat dipersilahkan menikmati kenduri turun ke sawah itu. Ada sekitar tujuh wanita paruh baya dan belasan kaum lelaki mengantarkan kenduri yang dibawa dari rumahnya kawasan Desa Dayah Bubue.

Kenduri tradisi religi ini tergolong unik, namun sangat familiar, kompak, dan terkesan rasa sosial sangat tinggi serta penuh persaudaraan. Ini terlihat dari antusias warga membawa hidangan kenduri atau nasi kulah (nasi bungkusan daun pisang) ke lokasi bukit kecil yang didiami tiga makam syuhada tersebut.

"Warga yang memiliki kemudahan membawa nasi dalam panci atau wadah ukuran lebih besar. Sedangkan yang berkemampuan sedang membawa dua hingga empat nasi kulah berbungkus daun pisang. Sedangkan petani yang hidup pas-pasan hanya membawa dua bungkus nasi campuran lauk alakadarnya," tutur Teungku Jhuni Wahab kepada Media Indonesia, di sela-sela kenduri blang (kenduri sawah) dua pekan lalu.

Sebelum hidangan kenduri itu dinikmati bersama, para petani, anak laki dan anak perempuan baru pulang sekolah masih berpakaian seragam hingga jemaah salat zuhur dari Masjid Taqwa, lebih dulu berzikir, samadiah dan tahlil. Lalu berdoa bersama sambil duduk lesehan di bawah pohon hagu dan batang kepula.

Tetua adat, Teungku Jhuni Wahab yang juga imam rawatib Masjid Taqwa Lampoih Saka, memimpin langsung doa bersama untuk memohon rahmat Allah dan keberkahan. Itu mengawali turun ke sawah musim rendengan (musim turun ke sawah tahap pertama) kali ini.

Kumandang zikir, samadiah dan tahmid yang diwarnai suara anak usia SD terdengar mengalun merdu. Lalu kekhusyukan berdoa sambil menengadah kan tangan ke atas, tampak benar-benar menghambakan diri mengharap kasih sayang Allah kepada hambanya. Saat sang pengasuh doa mengumandangkan agar Allah segera mencurahkan limpahan rahmat berupa agar turun hujan yang membawa berkah. Wajah polos sang petani dan anak-anak sekolah dasar yang hadir itu tampak berkaca-kaca.

"Ya Allah, turunkanlah hujan disekitar kami, bukan diatas kami yang meduratkan. Ya Allah, turunkanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuh pohon," demikian di antara seruan doa mereka kala itu.

Ternyata kebesaran dan kasih sayang Allah segera terwujud sebelum para petani itu beranjak kaki dari bukit kecil yang mereka sebut dengan nama Cot Beuringen itu.

Sebelum doa berakhir awan pun mulai mendung pertanda akan turun hujan. Lalu saat hidangan kenduri dibuka, dibagikan, gerimis pun mulai membasahi sekitar lokasi. Hal yang luar biasa ketika para hamba Allah menikmati kenduri bersama, hujan pun datang mengguyur ratusan hektare lahan sawah setempat. Sebagian anak dan para kaum perempuan berupaya berpindah ke lokasi lain mencari tempat berteduh dari guyuran hujan. Mereka menikmati nasi kenduri makan siang itu di tempat-tempat jualan pinggir jalan atau balai kecil sekitar lokasi.

Sedangkan tetua adat yang juga pemandu ummat, Teungku Jhuni bersama belasan petani lain tetap bertahan dalam guyuran hujan di bukit kecil tengah sawah Cot Beuringen itu.

Sepertinya sang imam rawatib Masjid Taqwa berusia sekitar 80 tahun itu benar-benar meyakini bahwa guyuran hujan kala itu adalah rahmat Allah yang terkabul lewat doa mereka tadi.

Tokoh masyarakat Kabupaten Pidie yang juga Ketua Badan Kemakmuran Masjid Taqwa Mampoih Saka, Bukhari Thahir, kepada Media Indonesia, mengatakan Khanduri Blang (Kenduri Sawah) merupakan tradisi religi yang digelar turun temurun sejak ratusan tahun silam di Aceh.

Dari zaman Kesultanan Aceh sekitar abad ke-15 budaya kenduri hendak turun ke sawah hingga kenduri awal musim panen sudah digelar turun temurun. Setiap musim turun ke sawah sedikitnya ada tiga kali dilaksanakan kenduri di lokasi yang sudah ditentukan. Setiap lokasi atau kawasan sawah ada tempat tempat tertentu dan biasanya dilaksanakan di makam-para ulama.

"Melalui kesempatan Khanduri Blang itu banyak menyimpan makna. Selain media tempat memohon dimudahkan rizki yang halal dan memohon jauh dari mara bahaya seperti terhindar dari serangan hama penyakit. Berikutnya juga peluang tempat petani bermusyawarah terkait keberlangsungan bercocok tanam. Kapan memulai turun ke sawah, soal gotong royong membersihkan saluran air hingga menentukan varietas benih akan di tabur, semuanya bisa dibicarakan saat lenduri itu," tutur budayawan Aceh M Adli Abdullah yang juga dosen senior Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. (MR/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya