Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Kerja Sama Pertamina dan Toyota Kembangkan Bioetanol Bisa Kurangi Impor BBM

Heryadi
13/11/2025 21:36
Kerja Sama Pertamina dan Toyota Kembangkan Bioetanol Bisa Kurangi Impor BBM
Mahasiswa mengolah buah bintaro (Cerbera manghas) menjadi bioetanol di laboratorium kimia, UM, Malang, Jawa Timur,(Antara)


RENCANA Toyota mengembangkan ekosistem bioetanol di Indonesia mendapat tanggapan positif. Menurut ekonom senior The Indonesia Economic Intelligence (IEI) Sunarsip, rencana yang akan ditindaklanjuti dengan pembentukan joint venture antara Pertamina dan Toyota paling lambat 2026 tersebut sebagai langkah bisnis yang cerdas.

“Saya kira betul (langkah cerdas). Karena nanti bioetanol yang diproduksi Pertamina akan lebih match dan tepat dengan teknologi pada mayoritas kendaraan bermotor roda empat yang dikembangkan di Indonesia. Karena mayoritas kendaraan roda empat di Indonesia kan produksi Toyota,” ujar Sunarsip, Kamis (13/11). 

Dari sisi ekonomi, Sunarsip menyebut, pengembangan bioetanol akan berperan penting mengurangi impor sehingga bisa menolong neraca perdagangan.

Selain itu, pemanfaatan resource di dalam negeri akan menimbulkan efek domino terhadap aktivitas perekonomian di dalam negeri. Petani akan bisa memperloleh nilai manfaat besar. Sebab, meningkatnya kebutuhan etanol akan menaikkan demand terhadap bahan baku seperti singkong, tebu, dan sebagainya.

“Jadi petani akan mendapat harga lebih baik. Kemudian akan menciptakan lapangan kerja baru sehingga meng-create tambahan sumber ekonomi," katanya.

Hanya, Sunarsip mengingatkan, pemerintah harus menyiapkan skenario kompensasi agar harga bioetanol terjangkau. “Ini yang perlu dicermati pemerintah bagaimana implikasinya dengan fiskal. Ini produk nonsubsidi. Tetapi, harganya secara keekonomian tetap harus disesuaikan dengan daya beli masyarakat,” imbuh Sunarsip. 

Di sisi lain, Sunarsip mengingatkan agar pasar bioetanol produk joint venture tersebut harus dikembangkan secara luas. Sebab, perusahaan tersebut bukan membuat mobil melainkan bahan bakar nabati yang bisa digunakan berbagai merek. Dalam hal ini, pasarnya bukan hanya mobil-mobil produk Toyota, tetapi merek-merek lain.

”Produk bioetanol tersebut juga harus bisa diterima dan compatible dengan produk mobil merek-merek lain temasuk kemungkinan untuk diekspor. Kalau bioetanolnya bisa diserap 100% pasar dalam negeri, oke saja. Tetapi kalau tidak, berarti harus dipikirkan untuk ekspor,” lanjutnya.

Yang jelas, tegas Sunarsip, ke depan Pertamina tidak sendirian. Sejalan dengan kebijakan blending BBM minimal 10%, perusahaan SPBU swasta juga akan berlomba-lomba mengembangkan produk serupa. 

HASIL KUNJUNGAN KE JEPANG
Rencana kerja sama Pertamina-Toyota ini merupakan hasil kunjungan Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu ke Jepang. Dalam kunjungan tersebut, Todotua bertemu Masahiko Fukushima, CEO of Asia Region, Toyota Motor Corporation. 

Rencana kerja sama juga dinilai sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong swasembada energi, ekonomi hijau, serta hilirisasi guna meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dalam negeri. 

"Kami melihat potensi besar kerja sama dengan Toyota untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi bioetanol di kawasan," ujar Todotua. (Ant/E-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya