Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
HINGGA bulan Mei 2025, Wabah Virus mematikan African Swine Fever (ASF), telah menewaskan 1.569 ekor ternak babi milik warga Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain merontokan ekonomi peternak, wabah tersebut menyisakan trauma mendalam bagi warga setempat.
Belum genap 2 tahun berlalu, wabah ASF ini lagi-lagi menewaskan ribuan ternak babi milik warga. Serangan wabah mematikan ini dimulai Maret 2025.
PLT Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lembata, Mukhtar Tanjung, kepada Media Indonesia, Selasa (3/6/2025), menjelaskan, hingga Mei 2025, sebanyak 1.569. Kasus kematian terbanyak terjadi di Kecamatan Nubatukan sebanyak 809. Sedangkan Kecamatan dengan kasus kematian terendah yakni Nagawutun sebanyak 15 kasus.
"Data Kasus Kematian Ternak Babi. Jumlah kasus kematian ternak babi di Kabupaten Lembata sampai dengan Bulan Mei 2025 sebanyak 1569 Ekor dengan rincian Kecamatan Ile Ape Timur 65, Nagawutung 15, Lebatukan 494, Nubatukan 809, Atadei 55, Ile Ape 131," ujar PLT Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lembata, Mukhtar Tanjung.
Menyikapi jumlah kematian yang masif ini, Pemerintah Kabupaten Lembata telah mengeluarkan kebijakan yakni, Pembatasan Lalu Lintas Ternak, Melarang pergerakan atau pembatasan lalu lintas ternak babi antar wilayah, termasuk antar kecamatan.
"Pemda Lembata melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan juga mengeluarkan himbauan kepada masyarakat melalui surat resmi kepada camat, kepala desa, dan paroki-paroki dalam kecamatan serta himbauan publik, agar masyarakat untuk tidak membawa babi hidup atau produk olahan babi seperti daging, roti babi, sosis, sate, dll masuk kedalam Wilayah Kabupaten Lembata," ujar Tanjung.
Selain itu, pihak Dinas Melakukan Calling keliling dalam wilayah Kota saat terjadinya wabah agar masyarakat tidak memotong babi yang sakit dan membagi-bagikan daging babi sakit, serta menguburkan ternak babi yang mati secara tepat agar dapat mencegah penyebaran Virus ASF. (H-3)
DUA ternak di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mati dan diduga terjangkit antraks.
Petugas mengimbau masyarakat maupun pengunjung agar tidak memasuki wilayah dalam radius dua kilometer dari pusat aktivitas gunung.
Asap kawah terlihat berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang dan ketinggian sekitar 10 hingga 100 meter dari puncak.
Meski pengetahuan tinggi, sikap menghindari orang yang hidup dengan HIV (ODHIV) juga sangat tinggi.
Petugas Pos Pengamat Gunung Lewotolok, Syawaludin, mengatakan gunung dengan ketinggian 1.423 meter di atas permukaan laut itu masih berada pada status Siaga atau Level III.
Perlindungan satwa adalah bagian tak terpisahkan dari mitigasi bencana dan keseimbangan ekosistem.
Badan Geologi Kementerian ESDM menaikkan status aktivitas gunung tersebut dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) sejak Minggu (18/1) pukul 11.00 Wita.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved