Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
KASUS dugaan perundungan (bullying) dan pemerasan hingga meninggalnya dokter Aulia Risma Lestari, mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang terus bergulir setelah Polda Jawa Tengah menetapkan tiga tersangka yakni TEN, SM dan ZYA.
Ketiga tersangka yakni TEN yang merupakan Kepala Prodi PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Undip), SM, staf keuangan dan ZYA dokter senior, didampingi penasehat hukum dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dan mendapat bantuan hukum dari Universitas Diponegoro (Undip).
"Kita tetap komitmen akan membantu ketiga tersangka, karena kita berkeyakinan ketiga tersangka tersebut tidak bersalah," kata Kepala Kantor Hukum Undip Semarang Yunanto.
Penetapan tersangka kepada tiga orang yakni TEN, SM dan ZYA sudah diketahui, lanjut Yunanto, sehingga segera dilakukan konsolidasi dan tetap fokus pada proses hukum yang sedang berjalan. Yunanto mengatakan tidak kaget saat mendengar kabar ketiga civitas akademika Undip tersebut ditetapkan sebagai tersangka.
Kuasa Hukum Undip Semarang lainnya Khaerul Anwar juga mengatakan akan terus mendampingi ketiga tersangka dan mengikuti proses hukum yang ada, meskipun hingga kini belum mengetahui ketiganya akan diperiksa. "Tiga orang tetap kita dampingi, kita tunggu saja perkembangannya," imbuhnya.
Sebelumnya Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Tengah Telogo Wismo juga membenarkan bahwa IDI masih melakukan pendampingan terhadap tiga tersangka kasus pemerasan PPDS Undip Semarang tersebut. Hal ini karena adanya laporan diterima ketiga tersangka yang merupakan anggota organisasi ini.
"Jadi IDI bisa mengetahui anggotanya terlibat sebuah masalah atau kasus itu jika mendapat laporan, jadi jika tidak melaporkan kami juga tidak tahu," ujar Telogo Wismo.
Ditanya tentang korban dr Aulia Risma Lestari juga merupakan anggota IDI tetapi tidak mendapatkan pendampingan, menurut Telogo Wismo karena yang bersangkutan tidak melaporkan ke IDI. "Beliau ini anggota IDI Kota Tegal, begitu kejadian viral, IDI Tegal sudah berkoordinasi dengan keluarga dokter Aulia tapi pihak keluarga telah menunjuk kuasa hukum," imbuhnya.
Harta Kekayaan
Selain proses hukum yang kini sedang berjalan, kekayaan tersangka TEN, Kepala Program Studi (Kaprodi) Anestesiologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang, yang mencapai Rp9,7 miliar menjadi sorotan.
Harta kekayaan TEN tersebut berupa tanah dan bangunan di sembilan lokasi, alat transportasi, harta bergerak, surat berharga dan kas.
TEN merupakan lulusan Sarjana Kedokteran FK Undip tahun 2005 hingga kemudian 2007 mendapatkan gelar dokter dan pada 2012 mendapatkan gelar Spesialis Anestesi.
Inovasi ini mampu menjaga kualitas gabah secara lebih cepat, efisien, dan stabil di berbagai kondisi cuaca.
Suharnomo menekankan bahwa tantangan sesungguhnya dari penghijauan bukan sekadar menanam, melainkan konsistensi dalam perawatan
Penghargaan Gold Winner menjadi pengakuan tertinggi atas agresivitas Undip dalam membangun jejaring global yang strategis.
Rektor UNDIP Prof. Dr. Suharnomo menyampaikan bahwa capaian tersebut mencerminkan implementasi nyata prinsip keberlanjutan di lingkungan kampus.
UndipĀ Siap Kirim Mesin Desalinasi Air Bersih
Undip berhasil meraih Penghargaan Mitra Bhakti Husada Tahun 2025 dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk kategori Perlindungan Kesehatan Pekerja Perkantoran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved