Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
CUACA ekstrem bersamaan tingginya curah hujan mulai melanda Kota Sukabumi, Jawa Barat. Akibatnya, bencana hidrometerologi terjadi di sejumlah titik.
Berdasarkan data BPBD setempat, dampak cuaca ekstrem terjadi saat hujan deras, Kamis (10/10) petang menjelang malam. Wilayah terdampak berada di Kecamatan Cibeureum.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Sukahumi, Novian Rahmat Taupik, mengatakan akibat tingginya curah hujan, terjadi banjir limpasan di ruas Jalan Lingkar Selatan. Airnya meluber hingga mengakibatnya arus kendaraan yang melintas sempat tertahan.
Baca juga : Cuaca Ekstrem dan Bencana Hidrometeorologi Mengintai Indonesia Hingga Februari 2024
"Banjir limpasan berasal dari saluran irigasi di Kelurahan Cibeureum Hilir," kata Novian, Jumat (11/10).
Selain debit air tinggi, kata Novian, banjir limpasan juga akibat sampah yang menyumbat saluran. Novian mengaku mengerahkan 8 orang personel menangani banjir limpasan.
"Banjir limpasan juga mengakibatkan kanopi di warung pinggir saluran irigasi roboh. Termasuk bangunan TPT (tembok penahan tebing) yang juga roboh. Penanganan sampah yang menyumbat saluran lebih kurang satu jam. Setelah tertangani, saluran air kembali lancar," ucapnya.
Aparatur pemerintah di tingkat kelurahan maupun kecamatan diminta segera menyosialisasikan kepada masyarakat berkaitan peralihan musim. Sosialisasi itu terutama upaya menjaga lingkungan agar tak menjadi pemicu terjadinya potensi bencana.
"Bencana hidrometeorologi salah satunya dipicu rendahnya kesadaran masyarakat menjaga lingkungan. Contoh konkretnya budaya membuang sampah sembarangan. Ini harus dicegah supaya bisa terhindar dari potensi bencana saat musim hujan," pungkasnya. (H-2)
Berdasarkan hasil kajian tim Kementerian PU bersama Universitas Syiah Kuala (USK) ditemukan adanya pergerakan air bawah tanah yang memicu ketidakstabilan lereng.
DPR minta pemerintah prioritaskan pencegahan dan mitigasi bencana untuk kurangi kerugian ekonomi yang terus berulang di Indonesia.
ADA dua artikel yang ditulis Phil O’Keefe, Ken Westgate, dan Ben Wisner dalam dua tahun berturut-turut: 1976 dan 1977.
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyoroti masih minimnya anggaran mitigasi bencana di Indonesia, di tengah meningkatnya ancaman bencana alam dan kerentanan wilayah.
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyoroti alih fungsi lahan dan menurunnya daya dukung lingkungan sebagai faktor utama yang memperparah dampak bencana alam.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menyebut, tanah longsor tidak hanya semakin sering terjadi, tetapi juga menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.
Meskipun modifikasi cuaca merupakan ikhtiar mitigasi yang penting, teknik ini bukanlah solusi permanen.
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim hujan di wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) masih akan berlangsung hingga akhir April atau awal Mei 2026.
KELURAHAN Cisarua di Kecamatan Cikole Kota Sukabumi, Jawa Barat, merupakan salah satu wilayah rawan bencana hidrometeorologi.
Data BMKG selama 16 tahun terakhir (2010–2025) juga memperlihatkan tren peningkatan kejadian banjir dan tanah longsor yang sejalan dengan kenaikan suhu dan perubahan iklim.
Survei pascabencana yang dilakukan Pusat Koordinasi Nasional Mapala se-Indonesia bersama pegiat lingkungan menemukan ratusan titik longsor di kawasan hulu sungai Tapanuli Selatan.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menyebut, tanah longsor tidak hanya semakin sering terjadi, tetapi juga menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved