Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA 26 Desember 2004, gempa bumi dahsyat berkekuatan M 9,3 mengguncang dasar Samudera Hindia, disusul tsunami yang menghantam pesisir dan permukiman warga di Aceh yang akhirnya mengubah sejarah daerah ini.
Gempa dan tsunami ini menewaskan lebih dari 220.000 jiwa menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 5 Januari 2005. Meninggalkan luka yang mendalam di hati masyarakat Aceh.
Berikut sejumlah fakta tsunami Aceh dalam angka
Baca juga : SBY Mengenang Tsunami Aceh, Ujian Pertamanya sebagai Pemimpin
Gempa bumi yang menjadi pemicu tsunami terjadi pada 26 Desember 2004, pukul 07:58:53 WIB, dengan kekuatan magnitudo 9,3. Gempa ini disebut sebagai salah satu gempa terbesar ke-5 dalam sejarah menurut sejumlah ahli.
Meskipun kejadian ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat, dampaknya sangat besar dan meninggalkan luka yang mendalam. Pada saat ini, masyarakat Aceh dan seluruh dunia merenung, mengenang, dan menghormati mereka yang telah kehilangan nyawa dalam salah satu tragedi alam paling memilukan dalam sejarah.
Dengan gelombang tsunami setinggi kurang lebih 30 meter, gempa ini merusak segala sesuatu yang ada di jalurnya.
Baca juga : UAS Ceramah di PLTD Apung Banda Aceh, Saksi Dahsyatnya Tsunami Aceh
Gelombang mematikan ini, diperkirakan setinggi 30 meter dan bergerak dengan kecepatan mencapai 100 meter per detik atau 360 kilometer per jam, menyapu bersih pemukiman, menghanyutkan warga dan hewan ternak, serta menyeret sebuah kapal Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Apung hingga lima kilometer dari pantai ke daratan.
Gempa tersebut menciptakan patahan terpanjang dan durasi terpanjang yang pernah tercatat dalam sejarah seismologi.
Dalam laporan dari kelompok seismolog internasional yang diterbitkan di jurnal "Science", gempa tersebut berlangsung selama 500 hingga 600 detik, menjadikannya fenomena yang luar biasa.
Baca juga : 19 Tahun Tsunami Aceh, Puluhan Ribu Nelayan Libur Melaut untuk Bertafakur
Roger Bilham, seorang profesor ilmu geologi di University of Colorado, menyebutkan bahwa gempa ini melepaskan energi setara dengan bom 100 gigaton.
Menurut ahli seismologi, gempa bumi dengan kekuatan M 9,3 ini tercatat sebagai salah satu gempa terbesar ke-5 dalam sejarah. Berpusat di Samudera Hindia, gempa ini menciptakan retakan besar di dasar laut Bumi, dengan panjang hampir 800 mil. Ketika menyapu dari Los Angeles, California, hingga Portland, Oregon, dampaknya terasa jauh melampaui wilayah pusat gempa.
Sebagai catatan, gempa bumi tersebut berpusat di Samudera Hindia pada kedalaman 10 km di dasar laut, tepatnya pada posisi 2,9 derajat Lintang Utara dan 96,6 derajat Bujur Timur. Guncangan berlangsung selama 10 menit, menyebabkan kerusakan besar dan menelan korban jiwa yang sangat besar, menandai salah satu momen paling tragis dalam sejarah Indonesia.
Baca juga : 7 Tempat untuk Mengenang Bencana Tsunami Aceh 2004
Tsunami Aceh 2004 yang tidak hanya melanda Aceh, Indonesia, tetapi juga menghantam sebanyak 15 negara di seluruh dunia.
Gelombang tsunami yang mengerikan dengan ketinggian mencapai 30 meter dan kecepatan mencapai 100 meter per detik atau sekitar 360 kilometer per jam, menjadikannya salah satu tsunami terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah. Tak hanya menyapu bersih pesisir Aceh, tetapi juga merusak sejumlah negara di Asia dan Afrika.
Selain Indonesia, negara-negara yang terdampak meliputi Sri Lanka, India, Thailand, Somalia, Myanmar, Maladewa, Malaysia, Tanzania, Seychelles, Bangladesh, Afrika Selatan, Yaman, Kenya, dan Madagaskar. Indonesia, Sri Lanka, India, dan Thailand adalah yang paling terpukul, dengan Indonesia sebagai negara yang mengalami dampak paling parah.
Baca juga : Detik-Detik Tsunami Aceh, Warga Diajak Bertafakur 1 Menit
Negara-negara di kawasan Teluk Bengali, seperti India, Sri Lanka, dan Thailand, juga mengalami korban jiwa yang signifikan. Tragedi ini menjadi bukti nyata akan kekuatan alam yang dapat merenggut nyawa ribuan orang dan menyisakan luka yang mendalam dalam sejarah banyak negara di dunia.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis taksiran awal bahwa korban tewas dapat melebihi 220.000 jiwa. Namun, kenyataannya, jumlah korban jiwa Tsunami Aceh mencapai angka yang lebih mengerikan, yaitu sekitar 230.000 jiwa.
Bukan hanya Indonesia yang mengalami dampak paling parah, tetapi negara-negara lain yang turut terdampak juga ikut berkontribusi pada jumlah korban tersebut.
Baca juga : Sepuluh Gempa Paling Mematikan Sepanjang Abad ke-21
Peristiwa ini tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga membuat sekitar 500.000 orang kehilangan tempat tinggalnya. Akibat dampak yang mendalam, Presiden Republik Indonesia saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono, menetapkan tiga hari sebagai masa berkabung nasional. Tsunami Aceh tetap menjadi salah satu bencana alam terbesar dalam sejarah, meninggalkan luka yang sulit sembuh di hati masyarakat Aceh dan dunia.
Tidak hanya meninggalkan luka mendalam di hati masyarakat Aceh, tetapi juga membuka jalan menuju perdamaian antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Indonesia. Peristiwa tersebut menjadi pendorong para kombatan GAM untuk merespon bantuan yang diberikan oleh pemerintah pusat, menandai awal dari berbagai upaya rekonsiliasi.
Pimpinan GAM pada akhirnya tergerak untuk membuka ruang dialog, dan gencatan senjata pun menjadi kenyataan. Wakil Presiden RI Jusuf Kalla memainkan peran sentral dalam perundingan yang berlangsung di Helsinki, Finlandia. Kalla, yang memimpin tim juru runding, menjelaskan alasan mengapa perundingan dilakukan di luar negeri.
Hasil dari perundingan itu adalah penandatanganan Perjanjian Helsinki pada 15 Agustus 2005, yang menjadi tonggak sejarah perdamaian antara GAM dan pemerintah Indonesia. Peristiwa tersebut membuktikan bahwa dalam tragedi besar seperti tsunami Aceh, bisa muncul peluang untuk merajut perdamaian dan menyatukan berbagai kalangan di Indonesia.
Begitulah fakta-fakta yang ada saat bencana besar ini melanda, mari menjaga keharmonisan dan kedamaian antar sesama agar tercipta kerukunan, serta saling membantu dalam kesusahan. (Z-4)
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Aceh Besar mencatat Aceh mengalami sedikitnya 11 kali gempa bumi, Rabu (31/12).
Gempa bumi tektonik Magnitudo 3,9 mengguncang Gayo Lues, Aceh, Kamis malam. BMKG menyebut gempa dipicu aktivitas Sesar Besar Sumatra.
Dampak guncangan dirasakan luas mulai dari Simeulue dengan skala IV MMI hingga sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatera Utara.
Gempa bumi yang terjadi merupakan jenis menengah akibat adanya aktivitas deformasi batuan dalam lempeng (intraslab).
Gempa berkekuatan skala menengah itu dideteksi mengguncang beberapa saat dengan skala intensitas II-III MMI.
Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan mendatar naik.
Wilayah Laut Banda, Maluku diguncang gempa tektonik pada pukul 10.05 WIB.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan adanya kemungkinan terjadinya tsunami danau di kawasan Danau Maninjau.
BMKG menyatakan gempa bumi magnitudo 4,7 yang berpusat di Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat, tidak berpotensi tsunami.
Bencana dahsyat tsunami 26 Desember 2004 silam mengajarkan para penakluk Samudera itu untuk lebih kuat, sabar dan teguh seperti karang dihempas gelombang.
BMKG melaporkan gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,6 mengguncang wilayah Pantai Selatan Bengkulu Utara, Bengkulu, pada Sabtu (27/12).
Peneliti mendeteksi sinyal seismik aneh akibat proses beku-cair batuan di Alaska. Penemuan ini menjadi kunci peringatan dini potensi tsunami dahsyat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved