Kamis 08 Desember 2022, 20:13 WIB

BMKG Minta Warga dan Pemda tidak Dirikan Bangunan di Patahan Cugenang

Atalya Puspa | Nusantara
BMKG Minta Warga dan Pemda tidak Dirikan Bangunan di Patahan Cugenang

ANTARA/Wahyu Putro A
Tim SAR mencari korban yang tertimbun longsor akibat gempa menggunakan alat berat di Desa Cugenang, yang terdampak paling parah.

 

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika merekomendasikan kepada masyarakat Cianjur dan pemerintah daerah agar tidak mendirikan kembali bangunan di area patahan Cugenang yang memiliki panjang 9 kilometer. Hal itu dilakukan agar jika sewaktu-waktu patahan itu kembali aktif, tidak akan ada bangunan yang hancur dan tidak menimbulkan korban jiwa.

"Patahan Cugenang sepanjang 9 km membentang mulai dari Desa Cibereum melintasi Desa Cijedil, Desa Mangunkerta, Desa Sukajaya, yang masuk dalam Kecamatan Cugenang dan berakhir di Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers yang diselenggarakan secara virtual di Jakarta, Kamis (8/12).

Seperti diberitakan, patahan Cugenang merupakan patahan yang memicu terjadinya gempa berkekuatan 5,6 magnitudo di wilayah Cianjur, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Selain desa-desa tersebut, Dwikorita menyebut bahwa dalam radius 300 m sebelah kiri dan radius 500 m bagian kanan patahan juga dilarang didirkan bangunan.


Baca juga: Presiden: TNI-Polri Harus Bantu Bersihkan Puing Akibat Gempa Cianjur


"Ini sudah kita sampaikan ke bupati, BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) dan PUPR (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) yang akan direlokasi adalah zona tersebut," imbuh dia.

Dwikorita menyatakan, hingga kini terdapat 295 patahan aktif yang tersebar di seluruh Indonesia. Patahan Cugenang ini merupakan patahan yang baru saja ditemukan dan dilakukan identifikasi.

Berdasarkan analisis BMKG, patahan itu aktif setiap kurang lebih 20 tahun sekali. Sehingga perlu upaya mitigasi agar pergeseran patahan itu tidak menimbulkan kerugian materiel maupun korban jiwa.

"Jika terpaksa dibangun dalam radius 500 m atau 200 m, syaratnya harus merupakan bangunan tahan gempa. Itu yang sedang dilakukan pemerintah. Ada model-model bangunan tahan gempa yang sedang disiapkan dan dibangun oleh pemerintah," pungkas dia. (OL-16)

Baca Juga

Dok. BSKDN Kemendagri

Evaluasi Pengukuran IPKD, BSKDN Minta Pemprov dan Pemkab dj Gorontalo Lengkapi Data

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 31 Januari 2023, 07:37 WIB
Evaluasi tersebut dilakukan melalui rapat bersama Badan Pengelolaan Keungan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi...
MI/HO

Komunitas Kiai Muda Jatim Gelar Khitanan Massal di Bojonegoro

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 31 Januari 2023, 06:25 WIB
KOMUNITAS Kiai Muda Jawa Timur melaksanakan khitanan massal bertema Khitan Itu Sehat 2023 di Pondok Pesantren (Ponpes) Nabaul Qur'an Al...
MI/HO

Temui Komunitas Penyandang Disabilitas, Ganjar Siapkan Pelatihan Usaha dan Pemasaran

👤Haryanto 🕔Selasa 31 Januari 2023, 06:20 WIB
 GUBERNUR Jateng Ganjar Pranowo selalu bersedia untuk memberikan pendampingan dan pelatihan bagi para penyandang disabilitas yang...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya