Kamis 24 November 2022, 10:10 WIB

Petani di Lima Desa Pesisir Lembata Dilatih Pola Pertanian Cerdas Iklim

Alexander P. Taum | Nusantara
Petani di Lima Desa Pesisir Lembata Dilatih Pola Pertanian Cerdas Iklim

MI/Alexander P. Taum
Para Petani dan Penyuluh pertanian di Kabupaten Lembata, NTT diajarkan bertani cerdas iklim dengan pola bingkai A.

 

SEJUMLAH petani, penyuluh pertanian dan pengambil keputusan di Lima Desa di pesisir Lembata, Nusa Tenggara Timur, Rabu (23/11/2022), diajari cara bertani cerdas iklim.

Selain diajari teori mengolah lahan pertanian oleh Pakar pertanian dari Universitas Politani Kupang, para petani juga langsung melakukan praktek bertani cerdas iklim langsung di kebun.

Para petani, penyuluh pertanian dan kepala Desa di 5 Desa pesisir itu diajak LSM Barakat, melalui program INCIDENT (Increasing Resiliency through Climate Change Adaption and Disaster Risk Reduction in Nusa Tenggara) bekerjasama dengan Catholic Relief Services United States
Conference of Catholic Bishops (CRS USCCB), untuk kembali menggeluti pola bertani tradisional, salah satunya dengan teknik bingkai A.

Direktur LSM Barakat, Benediktus Bedil kepada mediaindonesia.com, kemarin, mengatakan, dampak perubahan iklim pada sektor pertanian seperti menurunnya kualitas, kesuburan dan daya dukung lahan, menyebabkan produktivitas hasil pertanian juga ikut menurun. Berkurangnya ketersediaan air  menyebabkan anjloknya produksi pertanian.

Selain itu bergesernya jadwal tanam berbagai komoditi pertanian meningkatkan kemungkinan terjadinya gagal panen.

"Antisipasi dan mitigasi dampak perubahan iklim yang terkait dengan manajemen air, tanah dan pola tanam di tingkat petani merupakan kondisi yang sangat berpengaruh dalam usaha pertanian terutama tanaman pangan. Karena itu, kami memilih bekerja di 5 desa yaitu Desa Bour, Kecamatan
Nubatukan, Desa Wuakerong, Desa Ria Bao, Desa Pasir Putih, dan Desa Lolong, Kecamatan Nagawutung untuk kembali menggeluti pola bertani cerdas iklim," ungkap Benediktus Bedil.

Disebutkan, lebih banyak penduduk di desa ini adalah petani lahan kering dengan pola pertanian tebas bakar dan kebun berpindah-pindah. Kelima desa ini terletak di pesisir karena itu sangat potensial terhadap bencana-bencana yang diakibatkan adanya perubahan iklim.

Pergeseran musim hujan dan musim kemarau panjang yang sulit diprediksi, berdampak negatif pada sektor pertanian. Hal ini menyebabkan gagal tanam, gagal panen dan dengan ini mengancam ketahanan pangan.

Peristiwa cuaca ekstrem dan penggundulan hutan juga menyebabkan tanah longsor, dan menempatkan masyarakat yang sudah rentan menjadi lebih banyak bahaya.

Sementara itu, Alexander Raring, fasilitator pelatihan pertanian cerdas iklim dari LSM Barakat menyebutkan, pemilihan benih juga sangat berpengaruh pada hasil panen.

"Seleksi tanaman Partisipatif (PVS) didapatkan untuk jenis tanaman pangan utama yang akan diintervensi yaitu jagung lokal (jagung pulut, jagung kuning, dan jagung putih), ubi kayu/singkong (ubi putih dan ubi kuning), padi ladang (padi putih dan padi hitam). Untuk sayuran didapatkan terung ungu panjang dan kacang panjang, sedangkan pada Tanaman Umur Panjang (TUP) didapatkan kelapa, mangga, nangka, jambu mente, sukun dan kemiri. Ini tanaman pangan yang direkomendasi untuk ditanam dalam masa sulit ini," jelas Alexander Raring.

Ia juga menyebut, dalam pertanian cerdas iklim juga sekaligus dilakukan konservasi air dan tanah.

"Ini merupakan langkah adaptasi terhadap dampak perubahan iklim yang dapat dilakukan melalui konsep terkait alat pertanian cerdas iklim dan pertanian konservasi, produksi pangan lokal, pemilihan benih, dan pengendalian hama terpadu," ungkap Raring.

Ia menjelaskan, melalui konsep pengelolaan air dan pengelolaan tanah yang baik serta pola tanam yang tepat akan berdampak signifikan dalam melakukan adaptasi terhadap perubahan iklim, untuk tujuan itulah dilakukan pelatihan kepada penyuluh pertanian lapangan di Kabupaten
Lembata," ujar Alexander Raring, staf pada LSM Barakat itu. (OL-13)

Baca Juga: UKM Sahabat Sandi Gelar Pasar Murah di Bandung Jaga Stabilitas Harga Bapok

 

Baca Juga

Dok. BPKH

BPKH dan BAZNAS Salurkan Bantuan Ambulans dan Traktor di Kabupaten Pesisir Selatan

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 05 Desember 2022, 22:05 WIB
"Ambulans dan traktor ini terwujud berkat adanya sinergi yang luar biasa antara BPKH, BAZNAS dan Komisi VIII DPR RI," ujar...
DOK.MI

Polisi Ringkus 4 Anggota Geng Motor Pelaku Pembacokan di Jambi

👤Solmi Ruhan 🕔Senin 05 Desember 2022, 21:52 WIB
Setelah polisi mengamankan satu tersangka, kemudian terungkap siapa saja yang ikut dalam aksi pembacokan...
MI/Kristiadi/DOK.BPBD

BPBD Garut: 135 Rumah Retak akibat Gempa, tapi Masih Bisa Ditempati

👤Kristiadi 🕔Senin 05 Desember 2022, 21:12 WIB
Petugas BPBD maupun instansi lainnya, kata dia, langsung melakukan pengecekan seluruh daerah di Garut untuk mengetahui dampak kerusakan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya