Jumat 11 November 2022, 20:08 WIB

Hadapi Masa Depan, Indonesia Harus Lakukan Reposisi dan Perkuat Keunggulan 

mediaindonesia.com | Nusantara
Hadapi Masa Depan, Indonesia Harus Lakukan Reposisi dan Perkuat Keunggulan 

Ist
Ketua DPD RI LaNyalla M Mattalitti menjadi pembicara dalam dialog publik di Kantor DPD Jawa Tengah, Semarang, Jumat (11/11).

 

KETUA DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mengatakan Indonesia harus melakukan reposisi dan memperkuat keunggulan untuk menghadapi perubahan global di masa depan.

Saat mengisi dialog publik 'Kebangsaan dan Tata Negara Indonesia' di Kantor Daerah DPD RI Jawa Tengah, Jumat (11/11), LaNyalla mengatakan masa depan Indonesia harus dipersiapkan dari sekarang.

Ia melanjutkan, setiap negara memiliki keunggulan berbeda. Ada yang memiliki keunggulan kompetitif, ada pula yang memiliki keunggulan komparatif.

Korea Selatan misalnya, mereka sudah me-launching posisi masa depannya sebagai negara industri senjata dan alat berat di Asia. Begitu pun dengan Arab Saudi yang meluncurkan Saudi Vision 2023 dengan membangun kota baru di Kota Neom sebagai magnet pariwisata dunia.

"Arab Saudi mulai menyadari bahwa minyak mereka akan habis dan menjadi energi yang bukan primadona lagi," tutur LaNyalla.

Sementara Uni Emirat Arab konsisten dengan membangun ikon raksasa yang menjadi magnet dunia. Saat ini, mereka sedang menyiapkan replika bulan di Dubai. Dengan demikian, turis mancanegara tak perlu naik SpaceX untuk ke bulan, cukup ke Dubai.

"Lalu, Tiongkok sudah memulai proyek menyulap kawasan gurun mereka menjadi hijau. Gurun yang bisa ditanami," papar LaNyalla. "Maklum saja, karena Tiongkok harus memikirkan makan tiga kali sehari bagi 1,5 miliar penduduknya."

Contoh lain ialah Amerika yang akan tetap memastikan keunggulan kompetitif mereka sebagai garda terdepan ekonomi. Karena, ratusan perusahaan raksasa dunia dimiliki oleh warga negara Amerika dan berkantor pusat di Amerika. Sebut saja Apple, Alphabet yang merupakan induk usaha Google, Microsoft, Tesla, Facebook, Zoom, JP Morgan, Bank of America, Chevron, Freeport McMoran, Citibank, KFC, dan ratusan lainnya.

"Mereka semua tidak memindahkan kantor atau unit usahanya keluar dari Amerika Serikat, sehingga miliaran dolar (AS) keuntungan mereka terdistribusi menjadi pemasukan pajak bagi pemerintahnya," ulas LaNyalla.

Begitu pula dengan industri lainnya, seperti industri film Hollywood yang sampai hari ini mampu mencetak laba miliaran dolar AS dari monetize royalty atas pemutaran film-film produksi mereka di ratusan negara di dunia. Dan industri-industri lain termasuk farmasi, vaksin dan obat-obatan, serta industri militer dan penerbangan.

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Apa yang harus disiapkan? Menurut LaNyalla, Indonesia adalah negara yang memiliki keunggulan komparatif.


Baca juga: Digitalisasi Sektor Wisata di Banyumas Terus Disempurnakan


"Indonesia adalah negara yang memiliki anugerah yang diberikan oleh Allah SWT melalui iklim di garis khatulistiwa, tanah yang subur, laut yang luas, garis pantai terpanjang kedua di dunia, hutan dengan biodiversity yang lengkap, sumber daya alam dan mineral di dalam bumi, serta alam yang sangat indah," tuturnya.

Senator asal Jawa Timur itu melanjutkan, Indonesia merupakan negara kepulauan yang jarak bentang dari Sabang sampai Merauke sama dengan jarak dari London (Inggris) hingga Kazakhstan. Sedangkan bentangan dari Miangas sampai Pulau Rote sama dengan jarak dari Moskow sampai Kairo.

"Sudah seharusnya Indonesia menjadi negara unggul dan kuat, karena kita memang memiliki keunggulan komparatif. Oleh karena itu, sering saya katakan bahwa Indonesia seharusnya menjadi harapan hidup penduduk bumi. Karena Indonesia sangat bisa menjadi lumbung pangan dunia, sekaligus penyedia oksigen bagi penduduk bumi melalui hutan Indonesia," kata LaNyalla.

Ia menambahkan, Indonesia juga sangat bisa menjadi surga pariwisata alam yang natural.  Namun, yang terjadi justru paradoksal di masyarakat. Jutaan rakyat Indonesia sangat miskin. Dan ratusan juta lainnya rentan menjadi miskin. Sementara hanya segelintir orang yang memiliki kekayaan dan menguasai sumber daya alam dan lahan di Indonesia.

"Yang terjadi, semakin hari oligarki ekonomi semakin membesar dan menguasai apa saja. Termasuk menguasai cabang-cabang produksi yang penting bagi hajat hidup orang banyak," kata LaNyalla.

Ia menyatakan seharusnya ekonomi Indonesia dijalankan dengan tiga pilar utama yakni koperasi atau usaha rakyat, perusahaan negara dan swasta, baik swasta nasional maupun asing. Ada pula pembagian tegas antara public goods yang harus dikuasai negara dan wilayah commercial goods yang bisa dikerjakan oleh swasta nasional maupun asing, serta irisan di antara keduanya, di mana negara harus sebagai mayoritas pengendali.

"Konsep inilah yang tertuang dalam Pasal 33 naskah asli Undang-Undang Dasar 1945 beserta penjelasannya. Sebelum dilakukan amendemen konstitusi pada 1999 hingga 2002 silam," jabar LaNyalla.

"Itulah mengapa saya menawarkan gagasan untuk kita mengingat dan membaca kembali pikiran para pendiri bangsa. Tentang sistem demokrasi dan sistem ekonomi yang paling sesuai dengan bangsa yang super majemuk ini. Bangsa yang sangat luas dan kaya akan sumber daya alam ini," pungkasnya.

Hadir dalam kesempatan itu Senator asal Jateng, Bambang Sutrisno dan Abdul Kholik, Kepala Kantor DPD RI Jateng Fahri Okta Syakban beserta jajaran, narasumber dari Sekolah Tinggi Agama Islam Setia Wali Sembilan Semarang, M Adib Ridwan Azizy MH, dan puluhan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Setia Wali Sembilan Semarang. (RO/OL-16)

 

Baca Juga

dok.ant

LKAAM Sumbar Siapkan Lagi Dua Ton Rendang untuk Penyintas Cianjur

👤Yose Hendra 🕔Minggu 04 Desember 2022, 19:25 WIB
LEMBAGA Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar bakal mengirimkan lagi rendang kepada korban gempa di Cianjur Jawa Barat sebanyak 2...
dok.ist

Kemeriahan Warga Desa di Karanganyar Deklarasi Dukung Ganjar Presiden

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 04 Desember 2022, 19:21 WIB
RIBUAN orang memadati Alun-alun Karanganyar yang terletak di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah (Jateng) pada Minggu...
AFP/PUTRI

Aktivitas Vulkanis Semeru Meningkat, BPBD Lumajang Sterilkan Zona Merah

👤Bagus Suryo 🕔Minggu 04 Desember 2022, 18:39 WIB
Kerusakan akibat awan panas Gunung Semeru itu terparah di Dusun Kajar Kuning berbatasan dengan Curah...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya