Senin 07 November 2022, 10:45 WIB

Masyarakat Adat Berbeda Dengan Entitas Kerajaan Dan Kesultanan

Mediaindonesia.com | Nusantara
Masyarakat Adat Berbeda Dengan Entitas Kerajaan Dan Kesultanan

Dok. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara
Kongres masyarakat Adar Nusantata keenam

 

KETUA Dewan AMAN Nasional (DAMANNAS) Abdon Nababan menegaskan Masyarakat Adat tidak bisa disamakan dengan Kerajaan atau Kesultanan karena posisi konstitusionalnya sangat berbeda.

Penegasan itu disampaikan Abdon Nababan saat menjadi keynote speaker dalam sarasehan bertajuk “Memperjelas Kedudukan dan Hak Konstitusi Masyarakat Adat dan Kerajaan/Kesultanan di Indonesia” di Obhe Sereh, Jayapura, Papua, 26 Oktober 2022.

Abdon menyatakan kerajaan atau kesultanan punya sejarah yang tidak bisa disamakan dengan Masyarakat Adat. Di Kongres Masyarakat Adat Nusantara Ke Enam (KMAN VI) ini, AMAN ingin memberikan penegasan posisi dan status yang berbeda antara Masyarakat Adat dan Kerajaan atau Kesultanan.  

Meski dalam konstitusi sudah berbeda, sebut Abdon, pihaknya melihat ada suatu upaya yang bisa mengaburkan batas antara Masyarakat Adat dan Kerajaan atau Kesultanan.

Abdon menjelaskan, Kerajaan atau Kesultanan merupakan negara yang ada sebelum terbentunya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jika mereka (kerajaan atau kesultanan) diterima sebagai pemerintah, artinya harus ada reorganisasi pemerintahan di seluruh wilayah Republik Indonesia. Hal Itu bisa berakibat pada pengambilalihan hak-hak Masyarakat Adat yang dulu di bawah Kerajaan dan Kesultanan.

Dalam konteks ini, kata Abdon, Masyarakat Adat bisa berhadapan dengan “dua negara” sekaligus.

“Dengan satu Negara Republik Indonesia saja masih banyak persoalan yang menimbulkan konflik, apalagi ditambah kehadiran Kerajaan dan Kesultanan. Karena itu, AMAN menegaskan Masyarakat Adat itu berbeda dengan entitas Kerajaan dan Kesultanan,” ujarnya.

Abdon menerangkan hari-hari ini paling tidak sejak 2021, sejumlah pihakndari Kerajaan dan Kesultanan sedang memperjuangkan mereka punya Undang-Undang sendiri dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mereka berjuang lewat DPD RI supaya ada dasar mereka punya posisi dan status hukum di negara ini. 

“RUU yang sedang mereka usulkan lewat perwakilan DPD RI namanya RUU Perlindungan dan Pelestarian Budaya Adat Kerajaan Nusantara,” ungkap Abdon.

Sementara dari Masyarakat Adat, sebut Abdon, sedang berjuang lebih dari 10 tahun supaya memiliki UU yang mengakui dan memberikan perlindungan kepada Hak-Hak Masyarakat Adat, yaitu UU Masyarakat Adat.

Baca juga : Sekjen AMAN Terpilih Ajak Masyarakat Adat Rebut Ruang Politik

Dua RUU tersebut, kata Abdon, kalau tidak cermat dan memberikan batas yang jelas dan tegas, maka bisa menjadi sumber masalah baru. Jangan-jangan wilayah adat yang sedang diperjuangkan oleh Masyarakat Adat tidak kembali ke tangan kita, tapi kembali ke Kerajaan dan Kesultanan.

“Ini patut diwaspadai,” kata Abdon.

Karena itu, Abdon menyatakan pihaknya akan terus mendorong RUU Masyarakat Adat tidak boleh disamakan dengan Kerajaan dan Kesultanan karena posisi konstitusionalnya berbeda.

Ia menerangkan saat ini di Indonesia, AMAN melihat dan merasakan perkembangan satu gerakan yang dibangun dari kalangan kerajaan saat ini. Abdon menyebut ada banyak sekali organisasi mereka (kerajaan/kesultanan). 

“Ada tujuh organisasi yang mereka bangun untuk memperjuangkan pemulihan kembali Kerajaan dan Kesultanan agar bisa menjadi bagian dari pemerintahan RI,” ungkapnya.

Alfrida Ngato dari Masyarakat Adat Pagu yang turut menjadi pemateri dalam sarasehan tersebut menyatakan, Kerajaan dan Kesultanan masih eksis di Ternate-Tidore. Ia minta kepada negara untuk mempertegas kedudukan Kerajaan dan Kesultanan yang ada di daerah tersebut. 

Alfrida menegaskan, hal itu penting karena dalam banyak kasus di Tidore sering sekali para pengelola negara belum paham siapa yang dimaksud dengan Kerajaan atau Kesultanan dan Masyarakat Adat. 

“Harusnya orang-orang yang mengelola negara ini paham siapa Kesultanan dan Masyarakat Adat,” katanya.

Alfrida menambahkan, ketidakpahaman para pengelola negara ini bisa menimbulkan dampak negatif dalam penyelesaian masalah di satu tempat. Ia mencontohkan saat ada permasalahan di kampungnya, yang didatangi para pengelola negara hanya pihak Kesultanan.

“Ini tidak baik, kalau pengelola negara saja tidak paham siapa Kesultanan dan Masyarakat Adat, bagaimana mungkin mereka dapat bertindak adil,” kata Alfrida. (RO/OL-7) 

Baca Juga

MI/HO

Ulama Banten Doakan Ganjar Pranowo

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 09 Desember 2022, 06:34 WIB
Kali ini, bertempat di Pondok Pesantren Roudhotus Sibyan Al-amin, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, Banten, alunan doa untuk Ganjar Pranowo...
DOK.MI

Tim SAR Konawe Utara Cari Kakak Adik Terseret Arus di Sungai Lasolo

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 08 Desember 2022, 23:55 WIB
Usai menerima laporan tersebut, pihaknya memberangkatkan tim penyelamat Unit Siaga SAR Konawe Utara untuk mencari...
DOK MI

Kematian Tersangka Kasus Perampokan, Empat Anggota Polres Tapsel Jalani Pemeriksaan

👤Widhoroso 🕔Kamis 08 Desember 2022, 23:38 WIB
EMPAT anggota kepolisian yang bertugas di Polres Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara dinonaktifkan terkait kasus penganiayaan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya