Kamis 22 September 2022, 18:53 WIB

Kisah Sukses Koperasi Desa Ekspor Indonesia Bisnis Vanili

Mediaindonesia.com | Nusantara
Kisah Sukses Koperasi Desa Ekspor Indonesia Bisnis Vanili

DOK Pribadi.
Mahdalena (berkerudung).

 

MAHDALENA sebagai Founder dan Direktur Koperasi Desa Ekspor Indonesia menceritakan kisah suksesnya mengembangkan vanili. Ia mengekspor vanili ke Jepang sejak November 2021 walaupun kuantitas masih sekitar 30-50 kg/bulan. 

"Kami sangat mengapreasiasi dan senang sekali karena Kementerian Pertanian melalui Ditjen Perkebunan aktif membantu promosi produk vanili petani ke luar negeri. Salah satunya melalui Pameran ODICOFF November 2021 yang tidak hanya mempromosikan kopi, teh, kakao, kelapa, dan rempah-rempah, tetapi ada sampel produk vanili yang turut dibawa ke Maroko, Denmark, Mesir, UEA, Serbia, Belanda, dan lainnya, serta terjual sekitar 8 kg vanilla beans waktu itu," ujarnya.

Menurut Mahdalena, selama ini produk vanili yang pihaknya pasarkan dalam bentuk polong kering. Namun saat ini ia sedang mengembangkan produk turunan seperti tepung, ekstrak, dan pasta vanili skala home made. Produk ini siap dipasarkan pertengahan Oktober 2022 dan sudah ada pemesanan 500 botol per bulan di pasar lokal. Sebagian besar masyarakat Indonesia, lanjutnya, perlu lebih mengenal vanili alami Indonesia di tengah munculnya vanili sintetis. Untuk itu, kita perlu mengedukasi sambil terus memasarkan vanili alami Indonesia.

"Selain itu Desa Ekspor aktif mendampingi petani untuk memperbaiki mutu vanili. Sebagai gebrakan perdana di Pulau Flores, Kelompok Tani dan UMKM Kabupaten Manggarai Barat berhasil membuat vanila dengan kualitas ekspor sebanyak 15-20 kg dan diterima pasar Jepang melalui pendampingan pascapanen oleh Desa Ekspor Indonesia dan YDBA," ujarnya.

Bak gayung bersambut, Balai Karantina Pertanian Tingkat II Ende NTT yang dipimpin Kostan tidak mau ketinggalan dalam mendukung pasar vanila sebagai program gratieks. Mereka mengadakan Bimteks Akselerasi Ekspor Vanila di Kabupaten Sikka NTT pada 27 Juli dengan peserta dari para pelaku UMKM dan petani vanili. Hadir sebagai narasumber yaitu Julie Sutrisno Laskoidat (istri Gubernur NTT), Desa Ekspor Indonesia, dan Kepala Dinas Pertanian Sikka.

"Untuk memperbaiki mutu dan peningkatan produksi di hulu, kami harus berkolaborasi dengan para petani vanili senior di beberapa daerah dan para komunitas petani vanili agar aktif mendampingi poktan di daerah masing-masing. Misalnya, poktan vanili Geger Bitung Jawa Barat didampingi Tono, Lampung Barat oleh Amril, Jawa Tengah oleh Rini, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Manggarai, Sikka, Ngada, Papua, dan seterusnya. Pendampingan dapat dilakukan melalui kunjungan di desa terdekat, sarana Whatsapp group, melalui video call atau Zoom di kebun petani. Saat ini anggota yang tergabung di media sosial Facebook mencapai 43.400 orang, baik petani, penggemar tanaman vanili, penjual, pembeli, atau sekdar peminat vanili," lanjut Mahdalena.

Yang tak kalah penting yaitu hilirisasi pengembangan komoditas vanili pascapanen dan pasar yang luas, karena dampaknya dapat membantu ketahanan ekonomi keluarga petani, pemberdayaan perempuan saat pascapanen, dan membuka lapangan kerja milenial khusus produk turunan. "Saya berharap ke depan ekosistem bisnis vanili dari hulu ke hilir dapat terintegrasi," pungkasnya.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementan Andi Nur Alam Syah mengatakan saat ini dari komoditas perkebunan unggulan lain yang harga raw material sudah tinggi ialah vanili. Kisaran harga basahnya mencapai Rp300 ribu-Rp800 ribu/kg. Vanila kering kualitas ekspor bisa di atas Rp3 juta/kg. Potensi ini yang perlu kita garap bersama dimulai dari hulu, perlu dilakukan penataan kebun juga aspek keamanan kebun yang menjadi titik sentral. Dari sisi mutu dan pascapanen harus diperbaiki. 

"Vanili Indonesia saya rasa tidak perlu energi besar untuk mencari buyer, hanya perlu sedikit sentuhan branding, laku terjual. Biasanya kontinu karena buyer tahu vanili Indonesia berkualitas di atas 2,75% kadarnya, bahkan vanila alor bisa mencapai di atas 3%," urainya. Pihaknya mendukung kemitraan ekspor yang harus digali potensi-potensi petani milenial di tiap sentra produksi. Ia berharap dari para petani milenial tersebut, produksi vanili Indonesia mampu menguasai 80% lebih pasar vanili dunia.

Hal senada dikatakan Plt. Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Baginda Siagian bahwa potensi pengembangan budi daya dan pasar vanili sangat menjanjikan karena kebutuhan dunia cukup besar (bisa mencapai 8-10 ribu ton/tahun) tetapi produksi terbatas hanya 5-6 ribu ton/tahun. Saat ini hanya Indonesia, Madagaskar, Papua Nugini, Meksiko, dan Tiongkok yang merupakan lima besar produsen vanili dunia. Tantangan lain yaitu industrialisasi produk yang belum berkembang luas walaupun potensi daerah penghasil vanili cukup banyak. Ke depan, solusi kemitraan produksi dan ekspor bisa menjadi solusi berkembangnya hilirisasi vanili. Ditjen Perkebunan akan mendukung hilirisasi yang berkelanjutan. (RO/OL-14)

Baca Juga

MI/MITHA

Pemda Sigi Gelar Dzikir Akbar Mengenang Peristiwa 28 September 2018

👤Mitha Meinansi 🕔Kamis 29 September 2022, 10:48 WIB
Gempa dan likuifaksi, empat tahun silam, selain menyebabkan ribuan orang meninggal dunia, hilang dan luka-luka, juga mengakibatkan rusaknya...
YouTube: Sekretariat Presiden

Ibu Negara Iriana Jokowi Hadiri Konser Suara 1000 Sasando di Labuan Bajo

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 29 September 2022, 07:05 WIB
Konser Suara 1000 Sasando ini berhasil memecahkan rekor MURI (Museum Rekor-Dunia Indonesia) atas pagelaran dengan pemain sasando terbanyak...
Antara

30.505 Nakes di Sumut Telah Divaksinasi Covid-10 Penguat Tahap Dua

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 29 September 2022, 01:21 WIB
Dinas Kesehatan Provinsi Sumatra Utara mencatat sebanyak 30.505 dari 93.508 persen tenaga kesehatan di daerah tersebut telah mendapatkan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya