Headline
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Kumpulan Berita DPR RI
UNTUK melestarikan satwa liar di habitat alaminya, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua melepasliarkan 13 satwa endemik Papua.
Kegiatan ini berlangsung di dua lokasi, yaitu hutan sekitar kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop, Kelurahan Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura dan Hutan Adat Isyo di Kampung Rhepang Muaif, Kabupaten Jayapura. Pemilihan dua lokasi tersebut didasarkan pada habitat asli jenis satwa yang dilepasliarkan.
Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan pada BBKSDA Papua Lusiana Dyah Ratnawati menjelaskan jenis satwa yang dilepasliarkan di hutan sekitar kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop, yaitu 3 ekor kakaktua raja (Probosciger aterrimus).
Baca juga: Mantan Bupati Langkat Ditetapkan Sebagai Tersangka Kepemilikan Satwa Dilindungi
Lalu, 2 ekor kasturi kepala hitam (Lorius lory), 2 ekor toowa cemerlang (Lophorina magnifica) jantan dan betina, serta 4 ekor cenderawasih kuning kecil (Paradisaea minor) jantan dan bentina. Sedangkan 2 ekor cenderawasih mati kawat (Seleucidis melanoleucus), dilepasliarkan di Rhepang Muaif.
Sejumlah satwa tersebut merupakan barang bukti titip rawat dari Ditreskrimsus Kepolisian Daerah Papua. Pihaknya memastikan bahwa semua satwa dalam kondisi sehat dan siap dipelepasliarkan.
“Pihak Ditreskrimsus menitipkan satwa-satwa tersebut di kandang transit Buper Waena sejak 23 Mei 2022. Semuanya sudah menjalani masa habituasi untuk memastikan sifat liar, supaya sanggup bertahan di alam,” ungkap Lusiana, Selasa (12/7).
Lebih lanjut, Lusiana menyebut satwa barang bukti titip rawat keseluruhannya berjumlah 19 ekor. Namun, 5 ekor di antaranya merupakan nuri sayap hitam (Eos cyanogenia) yang tidak dapat dilepasliarkan di Jayapura, karena bukan habitat alaminya. Jenis satwa tersebut rencananya dilepasliarkan di Biak.
Baca juga: Simak Populasinya, Orangutan Sumatera Termasuk Satwa Paling Terancam Punah
Sementara, 1 ekor kakatua koki (Cacatua galerita) masih berstatus barang bukti proses hukum, sehingga belum dapat dilepasliarkan. Kedua jenis satwa yang dilindungi undang-undang tersebut saat ini mendapatkan penjagaan dan pemantauan secara berkala di kandang transit Buper Waena.
Direktur Reskrimsus Polda Papua Komisaris Besar Polisi Sancez Napitulu menyatakan bahwa kegiatan ini bermula dari laporan masyarakat tentang maraknya kegiatan perdagangan satwa, yang akan dikirim keluar dari wilayah Papua.
“Polda Papua sudah melakukan proses penyidikan dan pemerikaan ahli di BKSDA Jakarta. Dalam waktu dekat, akan melakukan proses tahap 1 ke kejaksaan. Apabila dinyatakan lengkap oleh kejaksaan, tersangka kami limpahkan ke JPU dan disidang di pengadilan, biar ada kekuatan hukum,” tutur Sancez.(OL-11)
Kesalahan dalam prosedur pelepasliaran belangkas justru berisiko memicu dampak ekologis baru yang merugikan ekosistem pesisir.
Pelepasliaran juga dapat menambah populasi orangutan di habitat alaminya.
Orangutan jantan Aben, Muaro, Onyo, Batis, dan Lambai juga memiliki riwayat penyelamatan yang hampir sama ketika diselamatkan
Siti juga menekankan bahwa semua burung yang dilepasliarkan telah melalui pemeriksaan kesehatan yang ketat dan menjalani proses habituasi di kawasan Kebun Raya Indrokilo.
BALAI Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jawa Timur bersama Balai Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Timur melepasliarkan 275 ekor burung Madu pengantin.
Ketua Pengurus Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) Jamartin Sihite mengatakan 300 lebih orang utan yang saat ini sedang Dalam masa perawatan menunggu pelepasliaran.
11 bandara perintis di tiga provinsi Papua kini telah diamankan sepenuhnya oleh pasukan TNI setelah Februari lalu ditutup akibat gangguan keamanan oleh kelompok kriminal bersenjata atau KKB
Kepala BSKDN Kemendagri Yusharto Huntoyungo menekankan pentingnya analisis dan evaluasi terhadap kebijakan yang sudah tidak relevan dengan kondisi terkini.
Papua Connection menyerukan penghentian kekerasan bersenjata di Tanah Papua, khususnya yang menyasar warga sipil, guru, dan tenaga kesehatan.
Insiden penyerangan terjadi di Pos Pengamanan PT Kristal Kilometer 38, Kampung Lagari Jaya, Distrik Makimi, Kabupaten Nabire.
KAPOLRES Nabire AKBP Samuel Tatiratu, mengatakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pimpinan Aibon Kogoya menyerang pos milik PT Kristalin yang berlokasi di Makimi, Kabupaten Nabire.
Agenda utama pertemuan adalah pembahasan pengembangan, hilirisasi, serta potensi ekspor komoditas kakao Papua ke pasar global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved