Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
BAKAR jaudah jadi salah satu agenda utama dalam Festival Jangkat di Jangkat, Kabupaten Merangin, Jambi, Jumat (24/6). Jaudah yang lebih dikenal dengan masakan dodol, nyatanya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Jangkat.
Tradisi bakar jaudah sendiri sudah turun menurun dan berlangsung sangat lama. Dalam Festival Jangkat yang baru berlangsung untuk pertama kalinya, ada 2.500 jaudah yang dibakar untuk disajikan kepada masyarakat sekitar.
Seperti dijelaskan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi M Arif Budiman, bakar jaudah sudah jadi santapan masyarakat Jangkat sebelum melakukan aktivitas sehari-hari. Seperti berkebun dan menjalani aktivitas lain sebagainya.
"Jika saat ini, bakar jaudah sendiri dibuat biasanya saat ada perayaan hari besar keagamaan atau acara pesta masyarakat sebagai kudapan khas masyarakat Jangkat," ungkap Arif dalam keterangannya.
Lebih lanjut, Arif menjelaskan proses pembuatan jaudah yang sebetulnya tidak terlalu berbeda dengan pembuatan dodol pada umumnya. Akan tetapi, ada satu resep khusus yang membuat jaudah tahan lama.
"Proses pembuatan selama seharian, menggunakan tepung ketan dan gula. Dodol jaudah tidak seperti dodol pada umumnya, jaudah tidak menggunakan santan membuat jaudah tahan lama tanpa bahan pengawet. Tahan hingga satu tahun," jelas Arif.
"Kenapa dibakar? Karena dengan dibakar, jaudah khas Jangkat rasanya akan lebih legit, lebih empuk. Itulah yang membuat jaudah Jangkat berbeda dengan dodol-dodol khas dari daerah lainnya," lanjut pria berkacamata tersebut.
Baca juga: Di Sikka Ada Desa Khusus Buat Anak-anak Menjamin Pengasuhan Terbaik
Tidak hanya awet selama satu tahun, pembuatan jaudah asal Jangkat pun dibuat dengan cara yang berbeda. Jaudah ala Jangkat dicetak menggunakan bambu dan dipotong kecil-kecil, sebelum disajikan untuk disantap.
Lebih lanjut, Arif menyatakan jika festival yang baru pertama kali ini berpeluang besar menjadi ajang tahunan di Jangkat. Bukan tidak mungkin, Festival Jangkat juga akan jadi kegiatan nasional di Jambi.
"Seperti kita tahu, jika di Jambi ada festival-festival yang sifatnya nasional seperti Festival Candi Muaro Jambi dan Festival Kerinci. Jadi, bisa saja Festival Jangkat pun menyusul menjadi event nasional," tutur Arif.
Sementara itu, Gubernur Jambi Al Haris mengatakan, pariwisata dan budaya merupakan dua unsur yang tidak bisa dilepaskan. Bahkan, Indonesia lebih terkenal dengan keunggulan wisata budayanya. Hal itu, lanjut dia, menurut data yang didapat dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sangat disukai oleh wisatawan Nusantara maupun wisatawan mancanegara.
"Komposisinya adalah 45% wisata budaya, 35% wisata alam, dan 20% wisata buatan yang ada di Indonesia," ungkapnya.
Al Haris menambahkan, festival-festival yang sukses dan menjadi perhatian masyarakat maupun wisatawan akan dijadikan calender of event yang konsisten dan resmi di Provinsi Jambi.
"Dan festival yang baik adalah festival yang memiliki tanggal yang tepat, tanggal yang tidak berubah, tanggal yang selalu konsisten dari tahun ke tahun, karena dengan begitu wisatawan maupun masyarakat akan punya persiapan untuk hadir dan mempromosikan festival festival kita, " pungkasnya.
Pada gelaran ini, Festival Jangkat juga didukung oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) di bawah inisiasi Ditjen Kebudayaan. Selain itu, kegiatan Festival Jangkat ini termasuk dari bagian rangkaian kegiatan Kenduri Swarnabumi.(RO/S-2)
Dalam konsep piramida gizi seimbang, susu hanyalah salah satu opsi dari kelompok sumber protein.
Pilihan mengolah pangan dengan cara dikukus membawa dampak signifikan bagi kesehatan tubuh.
Hilangnya kedekatan masyarakat dengan pangan lokal bukan sekadar masalah perubahan selera.
JAGUNG pipil yang dikembangkan kelompok tani di Desa Gunung Putri, Kecamatan Bunguran Batubi, menjadi harapan baru bagi petani lokal di Kabupaten Natuna.
SATUAN Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mutiara Keraton Solo, Bogor, yang dikelola oleh Sujimin atau Jimmy Hantu, menegaskan komitmennya dengan menggunakan bahan pangan lokal.
BADAN Gizi Nasional (BGN) menegaskan komitmen memperkuat rantai pasok pangan lokal melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia menekankan bahwa kualitas fasilitas mencerminkan pengelolaan kawasan.
Hal yang sering sekali terlihat kurang dalam pemanfaatan cagar budaya disebabkan oleh titik berat dan bobotnya lebih berat kepada komersialisasi pariwisata.
Malaysia raih 42,2 juta wisman di 2025, sementara Indonesia lampaui target dengan 15,3 juta kunjungan. Simak perbandingan strategi pariwisata kedua negara di sini.
Bosan dengan Bali? Temukan 7 destinasi WFA terbaik di Indonesia tahun 2026. Panduan lengkap infrastruktur internet, biaya hidup, dan komunitas digital nomad.
Minat wisatawan Indonesia terhadap perjalanan internasional dengan pengalaman yang lebih personal dan bermakna terus menunjukkan peningkatan.
Capaian ini sejalan dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Samosir dari tahun ke tahun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved