Selasa 22 Februari 2022, 21:15 WIB

Ono Menantang Generasi Muda Mampu Berdaya Saing Unggul

Bayu anggoro | Nusantara
Ono Menantang Generasi Muda Mampu Berdaya Saing Unggul

MI/BAYU ANGGORO
Ketua PDIP Jawa Barat, Ono Surono

 


BONUS demografi saat ini harus dimanfaatkan dengan baik. Salah satunya dengan menciptakan generasi muda yang berdaya saing unggul.

Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Barat Ono Surono mengatakan, dalam
beberapa tahun belakangan ini Indonesia terus disadarkan dengan jumlah
populasi anak muda yang semakin meningkat. Penduduk yang masuk dalam
generasi Y atau yang disebut kaum milenial dan generasi Z semakin
bertambah.

Dia pun mengingatkan beberapa hal yang perlu diperhatikan dari kaum muda Indonesia. "Pertama, pengunaan teknologi, smartphone, WiFi, layanan aplikasi streaming," kata Ono saat memberikan sambutan dalam program Milenial Talks yang digagas Jabar Punya Milenial bertajuk "Milenial Bisa Apa?", Selasa (22/2).

Dalam talkshow yang membahas pentingnya Generasi Milenial dalam Era
Disrupsi Digital ini, Ono mengingatkan tentang perilaku ekonomi yang
dapat mendorong perbaikan pengelolaan keuangan, cara berbelanja,
menabung dan investasi serta biaya pendidikan. Kemudian, penggunaan sosial media yang lebih memilih konten berdurasi pendek

"Perlu diperhatikan juga motivasi karier, mengejar gaji yang besar,
sehingga mereka tidak ragu untuk berinvestasi dalam pelatihan
keterampilan," beber anggota DPR RI itu.

Dalam dunia pekerjaan, kemajuan teknologi yang semakin canggih dan maju berdampak pada informasi lebih cepat, bekerja lebih cepat dan efisien, dan lebih suka bekerja sendiri.

"Dari titik inilah kemudian menyeruak berbagai persoalan yang dihadapi
generasi muda saat ini," ungkapnya.

Ono mempertanyakan generasi muda saat ini memiliki peran penting yang sama sebagaimana yang pernah dilakukan oleh para pendahulunya.

Pertanyaan lain yang muncul, kata dia, di antaranya apakah relevan
mempersoalkan peran penting generasi muda saat ini dalam perjalanan
sejarah bangsa, ketika pemberitaan yang muncul mengenai tawuran
(perkelahian), penggunaan narkotika dan obat- obatan terlarang, dan kejahatan anak muda lainnya.

"Apa yang diharapkan oleh bangsa Indonesia saat ini kepada generasi milenialnya saat ini? Berbagai pertanyaan mungkin akan menyusul. Jawaban terhadap setiap pertanyaan tersebut mungkin juga pernah dijadikan beberapa topik seminar, lokakarya, maupun diskusi yang diselenggarakan oleh berbagai pihak," ujar dia.

Menurut Ono, generasi milenial memiliki peran penting dalam perjalanan
sejarah setiap bangsa di dunia. Di negara-negara yang dianggap sudah
memiliki sistem demokrasi yang sudah matang dan perekonomian yang mapan pun, generasi muda memiliki peranan yang penting.

"Sejarah mencatat adanya fenomena flower generation (generasi bunga)
yang merebak di negara-negara di Eropa Barat dan Amerika Serikat pada
1970-an. Sejarah juga mencatat demonstrasi besar-besaran menentang
perang Vietnam di Amerika Serikat yang dimotori oleh generasi muda," ungkapnya.

Menurut Ono, demonstrasi para kaum intelektual yang dilakukan di
Perancis pada 1960-an dan 1970-an juga dimotori oleh para kaum muda
milenial pada zamannya.

Kemudian, lanjutnya, peristiwa Kongres Pemuda II pada 1928 yang dipelopori kaum milenial pada saat itu yang kemudian melahirkan Sumpah Pemuda merupakan sebuah teks yang tidak dapat dilepaskan dari konteks politik, sosial, dan budaya yang melingkupinya.

Karena itu, kata dia, ketika muncul pertanyaan akan seperti apakah peran generasi muda saat ini, maka dengan konteks situasi politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang saat ini ada, tentunya teks yang akan dihasilkan pun akan berbeda dengan apa yang telah dihasilkan pada 1928 dalam bentuk Sumpah Pemuda.

"Semangat persatuan untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Hindia-Belanda yang menjiwai kaum milenial di setiap zaman seperti milenial pada 1928 yang berhasil merumuskan satunya bahasa dan bangsa. Juga kaum milenial pada 1945 yang mampu melepaskan bangsa ini dari penjajahan," tambah Ono.

Ono menegaskan generasi milenial saat ini harus dapat menjawab berbagai
persoalan bangsa saat ini. Dia membeberkan persoalan kemiskinan,
distribusi sumber daya ekonomi yang tidak merata, korupsi,
penyalahgunaan narkoba, dan kebanggaan terhadap budaya asing yang menjangkiti banyak kaum milenial saat ini, merupakan kondisi objektif yang memerlukan penyikapan subjektif yang tepat.

"Belum lagi ditambah dengan dampak sosial ekonomi akibat pandemi
covid-19. Semangat nasionalisme generasi muda saat ini harus dapat
dimanifestaikan sebagai sebuah cara pandang dalam melakukan pemetaan
posisi dan penyusunan rangkaian rencana untuk menjawab tantangan zaman
saat ini. Melalui Milenial Talk, semoga bisa mendorong kaum milenial
untuk bisa ikut serta membangun bangsa dan negara, membangun Jawa Barat
yang jauh lebih baik lagi," tegasnya. (N-2)

Baca Juga

Antara/Fikri Yusuf

Tren Healing Melukat di Carangsari, Berkahnya Mengalir Hingga ke APBD Kabupaten

👤Iis Zatnika 🕔Sabtu 25 Juni 2022, 23:09 WIB
Berkendara 90 menit saja dari Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, kita akan tiba di Desa Wisata Carangsari, Kabupaten Badung,...
Ist

Jogja Fair 2022 Digelar Bersamaan Perayaan HUT ke-266 Kota Yogyakarta 

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 25 Juni 2022, 23:00 WIB
Event berkelas yang memadukan dari segi bisnis, edukasi, dan hiburan ini akan dihelat di Jogja Expo Center pada 6-9...
DOK Sahabat Ganjar

Emak-Emak Kuningan Deklarasi Dukung Ganjar Pranowo

👤Widhoroso 🕔Sabtu 25 Juni 2022, 21:35 WIB
DUKUNGAN terhadap Ganjar Pranowo untuk maju dalam pilpres 2024 terus mengalir. Kali ini, dukungan terhadap Gubernur Jawa Tengah itu datang...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya