Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
FAJAR Saputra, 16, atlet difabel tolak peluru dan lempar cakram warga
Desa Basin, Kecamatan Kebonarum, Klaten, mendapat bantuan kursi roda dan santuan dari Polres Klaten.
Bantuan kursi roda untuk Fajar, atlet difabel Klaten, diserahkan
Kapolres Ajun Komisaris Besar Eko Prasetyo, Kamis (13/1) lalu. Pemberian kursi roda ini untuk mendukung aktivitas Fajar sehari-hari.
Kapolres yang didampingi pejabat utama Polres Klaten, menyerahkan
langsung bantuan kursi roda di rumah Fajar, dengan disaksikan
Forkopimcam Kebonarum dan perangkat Desa Basin.
Fajar, anak sulung pasangan Nur Arifin dan Maryanti, kehilangan kaki
kirinya akibat kecelakaan lalu lintas saat berusia 11 tahun. Setelah tidak sekolah, Fajar fokus berolahraga tolak peluru dan lempar cakram.
Pemberian bantuan ini untuk menunjang aktivitas Fajar, sekaligus
dorongan semangat agar atlet difabel itu giat berlatih guna meningkatkan prestasi di bidang olahraga tersebut.
"Harapan kami bantuan kursi roda ini bermanfaat bagi atlet penyandang
disabilitas itu, terutama untuk mendukung semangat dan aktivitas
sehari-hari," kata Kapolres.
Selain memberikan bantuan kursi roda dan santunan, Polres Klaten melalui tim Bidang Dokkes juga memberikan vaksinasi covid-19 dosis pertama kepada Fajar dan Adinda Huriah, adiknya.
Sementara itu, Maryanti, orangtua Fajar, menyampaikan terima kasih
kepada Kapolres Klaten telah memberikan bantuan kursi roda dan
santunan untuk Fajar Saputra.
"Kami berterima kasih atas perhatian dan kepedulian Kapolres Klaten yang telah memberikan bantuan kursi roda. Ini sangat bermanfaat bagi Fajar untuk beraktivitas sehari-hari," pungkasnya. (N-2)
Fokus utama KND bukan sekadar pada perolehan medali, melainkan memastikan negara hadir dalam memberikan hak yang setara bagi atlet disabilitas.
Lestari Moerdijat mengatakan pemenuhan hak anak berkebutuhan khusus (ABK) dan disabilitas harus terus digencarkan di berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hal pendidikan.
Kisah Grisna Anggadwita menunjukkan bagaimana pemberdayaan dan pendekatan manusiawi membuka peluang ekonomi inklusif.
Sejumlah pekerjaan rumah dalam pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas di tanah air harus dituntaskan.
Kegiatan ini lahir sebagai respons atas masih adanya kesenjangan antara potensi penyandang disabilitas dengan realitas praktik rekrutmen di dunia kerja.
Upaya penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas membutuhkan kolaborasi nyata antara negara dan masyarakat sipil.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved