Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
KASUS pergerakan tanah di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, semakin meluas. Daerah terluas kedua se-Jawa-Bali ini seolah-olah dikepung bencana pergerakan tanah.
Terakhir, kasus pergerakan tanah di wilayah ini merusak 9 rumah warga rusak di Desa Cibaregbeg, Kecamatan Sagaranten, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Sebanyak lima rumah warga rusak berat sedangkan 4 rumah lainnya mulai terancam pergeseran tanah. Salah satunya rumah milik Sofiah, bagian dapur miliknya nyaris ambruk karena dinding tembok yang sudah terbelah dan kini terancam roboh.
Aparat Desa Cibaregbeg, Syaifullah kepada Metro TV mengatakan, hujan deras yang melanda wilayah Kecamatan Sagaranten menjadi faktor penyebab terjadinya retakan tanah.
"Penyebab pergerakan karena hujan turun cukup lama dari pagi hingga malam hari," ungkapnya pada Rabu, (18/11)
Kondisi terakhir hasil pemantauan ke lokasi kejadian, warga yang terdampak sudah meninggalkan rumah karena khawatir rumah mereka tiba-tiba roboh akibat pergerakan tanah yang terus melebar dengan panjang 10 hingga 20 meter. Namun ada juga yang memberanikan diri kembali kerumah.
"Sebagian warga sudah mengungsi karena takut ada hujan susulan, sebagian lagi ada yang kembali kerumahnya,' kata Syaifullah.
Baca juga: Wali Kota Palangka Raya: Banjir Disebabkan Kiriman dari Hulu Sungai Kahayan
Menurut Sayifullah, pihaknya masih menunggu hasil kajian BMKG untuk mengetahui penyebab dan tingkat kerawanan pergerakan tanah di lokasi tersebut.
Saat ini pemerintah setempat sudah mendirikan posko siaga bencana menyusul terjadinya beberapa bencana alam selama beberapa waktu ke belakang di Kecamatan Sagaranten.
Selain pergerakan tanah di beberapa titik juga terdapat longsoran yang menutupi akses jalan menuju ke perkampungan sehingga warga dihimbau untuk tetap waspada.
Sementara itu Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukabumi Jawa Barat, mencatat 47 Kecamatan di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, saat ini rawan terhadap bencana alam, baik longsor, banjir, pergerakan tanah dan angin puting beliung. (MGN/A-2)
Pesisir pantai selatan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, diwaspadai terjadi potensi banjir rob. Kondisi itu menyusul peringatan dini yang dikeluarkan BMKG.
TANAH longsor, banjir, dan cuaca ekstrem masih mewarnai sejumlah daerah di Jawa Barat.
Pergerakan tanah di wilayah itu terjadi pada Rabu (14/1) sekitar pukul 05.30 WIB. Lokasi tersebut dikenal rawan pergerakan tanah
Sementara itu, cuaca ekstrem berupa angin kencang merusak rumah warga di Bekasi dan Sukabumi.
Wilayah yang terdampak cuaca ekstrem antara lain akses ke kawasan Geopark Ciletuh Palabuhanratu
Dedi berjanji akan menindaklanjuti permintaan itu, sehingga ada kejelasan dan penyelesaian terhadap 500 rumah yang rusak akibat banjir dan longsor.
HUJAN deras yang mengguyur wilayah Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah selama tiga hari berturut-turut memicu terjadinya pergerakan tanah.
Pergerakan tanah di wilayah itu terjadi pada Rabu (14/1) sekitar pukul 05.30 WIB. Lokasi tersebut dikenal rawan pergerakan tanah
Pasca-longsor Citeureup, Bogor,BMKG ingatkan potensi pergerakan tanah di Jawa Barat Selatan hari ini 13 Januari 2026 serta potensi cuaca ekstrem dapat menyebabkan bencana hidrometeorologi.
Ada 18 rumah yang kondisinya terancam pergerakan tanah.
RUAS jalan nasional Bagbagan-Kiaradua di Desa Loji Kecamatan Simpenan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, lumpuh total. Pasalnya badan jalan ambles akibat pergerakan tanah
Dari hasil pemantauan, 70 hektare lahan pertanian terdampak, 6 rumah mengalami kerusakan, 65 rumah berada dalam kondisi terancam
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved