Senin 03 Mei 2021, 09:57 WIB

Relawan Bangkitkan Semangat Anak-Anak Korban Bencana Adonara

Gabriel Langga | Nusantara
Relawan Bangkitkan Semangat Anak-Anak Korban Bencana Adonara

MI/Dok Simpa Sio Institute
Anak-anak korban bencana alam Adonara, NTT beraktivitas bersama para relawan.

 

MUSIBAH bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi 4 April lalu di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur menyisakan kesedihan mendalam bagi para korban. Pasalnya, para korban harus kehilangan sanak keluarga dan harta benda hingga menyisakan duka dan sedih yang mendalam.

Aktivitas keseharian yang tadinya aman dan nyaman berubah karena mereka harus tinggal di tenda pengungsian untuk sementara waktu.

Bencana Adonara memaksa semua orang tergerak hati terutama para relawan untuk membantu saudara-saudara yang mendeirta dengan cara masing-masing. Salah satunya relawan Simpa Sio Institute yang bermarkas di jalan Jendral Sudirman RT/RW 007/002, Kota Sau, Sarotari Tengah, Larantuka, Kabupaten Flores Timur.

Baca juga: Gempa Bumi Mignitudo 5.7 Guncang Mentawai, Warga Panik

Sudah empat minggu lamanya para relawan Simpa Sio Institute yang terdiri dari belasan orang ini tersebar di tenda-tenda pengungsian korban bencana Adonara. Selain mendistribusikan bantuan, para relawan ini juga memberikan pendampingan pada anak-anak korban bencana.

Setiap harinya, anak-anak dikumpulkan oleh para relawan untuk diajak bermain seperti olahraga bersama, menggambar, menyanyi dan sejumlah
permainan lainya.

Aktivitas setiap harinya para relawan ini dalam memberikan pendampingan pada anak-anak ternyata disambut gembira orangtua anak korban bencana. Pasalnya, meski dalam keadaan susah, orangtua jadi tidak sedih melihat anak-anak bisa bercanda tawa dan berkreasi yang dihibur oleh relawan Simpa Sio Institute dengan beralaskan terpal biru.

Selama kegiatan, anak diberi kesempatan berbicara mengenai perasaan dan pengalaman yang mereka alami terkait musibah yang dialami melalui bercerita, menggambar dan menulis.

Kegiatan ini juga berlaku di beberapa tenda pengungsian.  Bahkan hasil karya anak-anak korban musibah ini ditampilkan membuat para relawan meneteskan air mata.

Apa yang dirasakan oleh anak-anak juga dirasakan oleh para relawan salah satunya koordinator Umum Simpa Sio Institute, Magdalena Tukan.

Ia pun bercerita selama berjalan mau empat minggu di Adonara, dirinya bersama teman-teman lainnya yang tergabung dalam Simpa Sio Institute memberikan pendampingan pada anak-anak musibah bencana Adonara di tenda-tenda pengungsian.

Perempuan kelahiran 9 Maret 1993 ini menuturkan relawan Simpa Sio Institute tidak memberikan trauma healing karena trauma healing ini hanya bisa didiagnosa oleh tenaga profesional seperti psikiater atau psikolog.

Tetapi, mereka memberikan pendampingan pada anak dengan fokus utama di tiga posko pengungsian seperti posko MAN Adonara Timur, SDI Adonara Timur, dan Sausina dengan sejumlah permainannya.

Diceritakan Magdalena sapaan akrabnya, setiap harinya ia bersama relawan memberikan pendampingan anak seperti mendongeng, lapak baca, melukis, menggambar, mewarnai, musik corner, gelar pameran yang mana hasil karya anak-anak dipamerkan dan kegiatan lainnya.

"Kami setiap hari di posko. Kita langsung tinggal di posko untuk memberikan pendampingan kepada anak yang sudah berjalan mau empat minggu
ini. Kadang-kadang juga kita mendengarkan curhat-curhat dari orangtua anak," tandas gadis berambut ombak ini yang juga tiap harinya membantu memasak bagi korban bencana selama berada di tenda pengungsian

Ia mengaku melihat anak-anak pengungsian bisa tertawa dan ceria dalam mengikuti kegiatan yang mereka gelar itu sudah membuat para relawan juga ikut bahagia.

Bencana bisa membuat anak-anak bisa bermain seperti ketika mereka berada di rumah masing-masing. Kegiatan seperti ini juga dilakukan olehnya selama berada dua bulan di bencana gunung erupsi di Kabupaten Lembata

Dirinya berharap dalam pendampingan ini yang masih teruskan dilakukan di bencana Adonara, anak-anak mulai pelan-pelan melupakan peristiwa yang melandanya.

"Sekurang-kurang aktivitas yang kami berikan setiap harinya, anak-anak tidak punya banyak waktu untuk mengingat peristiwa kemarin. Anak-anak harus terus bangkit dan berjuang untuk kembali kehidupan yang normal," ujar dia yang masih berada di Adonara, Minggu (2/5). (OL-1)

Baca Juga

Dok Kementerian PDTT

Gus Menteri Minta Desa Wisata untuk Terapkan Protokol Kesehatan

👤Micom 🕔Sabtu 08 Mei 2021, 23:02 WIB
Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar meminta desa-desa wisata yang dibuka saat libur Lebaran agar menerapkan protokol kesehatan yang sudah...
dok/tokopedia

Tokopedia Bagikan 5 Inspirasi Makanan Sehat Saat Lebaran

👤Media Indonesia 🕔Sabtu 08 Mei 2021, 21:55 WIB
Tokopedia berkolaborasi dengan Serasa Salad Bar, membagikan tips dan inspirasi makanan sehat saat...
dok/pribadi

Ketegasan Polri Soal Mudik Tunjukan Hasil

👤Media Indonesia 🕔Sabtu 08 Mei 2021, 21:50 WIB
Penyekatan dilakukan sebagai bentuk langkah preventif. Tujuannya, agar kasus tidak bertambah...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Kualitas Kompetisi Harus Ditingkatkan

Regulasi yang dibuat operator dan regulator harus bisa meningkatkan standar liga dan klub

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya