Rabu 24 Februari 2021, 13:30 WIB

Pemanfaatan Energi Terbarukan Bisa Diadopsi Pesantren dan Sekolah

Mediaindonesia.com | Nusantara
Pemanfaatan Energi Terbarukan Bisa Diadopsi Pesantren dan Sekolah

Dok.SUN
Diskusi tentang potensi pemanfaatan energi surya untuk menyukseskan program Pesantren Hijau.

 

DALAM suasana hari jadi Nahdlatul Ulama (NU) yang ke-95 tahun, SUN Energy sebuah perusahaan pengembang lokal Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) bersama dengan Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) membuka kerjasama dan diskusi tentang potensi pemanfaatan energi surya untuk menyukseskan program Pesantren Hijau yang dicanangkan oleh Lembaga Perubahan Iklim PBNU, bekerjasama pula dengan Radesa Institute. Hal ini merupakan awal diskusi dari kedua belah pihak untuk menjajaki seberapa besar manfaat yang bisa didapatkan baik dari sisi penghematan listrik maupun dari sisi ilmu pengetahuan tentang perkembangan teknologi PLTS di Indonesia.

Dalam pengelolaan energi nasional, pemerintah melalui Peraturan Pemerintah No 79 Tahun 2014 (PP 79/2014) tentang Kebijakan Energi Nasional mencanangkan target bauran energi dengan kontribusi energi baru terbarukan sebesar 23% pada 2025. Kebijakan itu diperkuat lagi dengan Peraturan Presiden Nomor Nomor 22 tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional yang menargetkan energi nasional sebesar 23% dari energi baru terbarukan.

Baca juga: Lima PLTS Siap Menerangi Desa-Desa di NTT

“Prospek Pengembangan energi surya sangat besar sekali. Dari potensi energi surya 207.8 GW, sekarang baru dimanfaatkan kurang dari 200 Mwp. Ini menunjukan kesenjangan yang sangat besar, yang di satu sisi adalah tantangan tetapi di sisi lain merupakan peluang untuk memanfaatkan energi surya,” kata ketua Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Andhika Prastawa dalam diskusi virtual.

Ia menambahkan bahwa dibanding dengan negara-negara di ASEAN, Indonesia masih tertinggal dalam pemanfaatan matahari menjadi energi surya. Oleh karena itu perlu adanya upaya dan dorongan pemerintah dalam memanfaatkan energi surya, salah satunya adalah NU melalui pesantren dan sekolah.

“Penerapan energi surya di pesantren dengan menggunakan PLTS dapat mempercepat pencapaian target pemerintah untuk menciptakan 23% energi baru terbarukan. Pemasangan PLTS atap juga sangat mudah, murah,  tidak memerlukan area yang luas, dan bisa dipasang di tempat grup kecil atau bangunan yang tersebar. Pemanfaatan energi surya di pesantren umumnya digunakan untuk penerangan bagi kegiatan belajar mengajar, catut daya, maupun untuk pompa air. Terlebih untuk di masa pandemi ini, PLTS atap cocok digunakan dalam penghematan pembayaran listrik PLN,” tutur Andhika Prastawa.

Hal senada  diungkapkan anggota komisi VII DPR, Syaikhul Islam. Ia menyatakan  PLTS adalah solusi untuk memenuhi target 23% bauran energi dan bisa dikembangkan secara masif karena tidak memerukan investasi yang mahal.

“Pemanfaatan PLTS di pesantren sangat mendesak. Pesantren bisa menjadi agen perubahan yang bisa mendorong masyarakat untuk memanfaatan energi surya. Dan akan lebih baik lagi jika pesantren itu bisa badan usaha yang bisa menghasilkan listrik untuk dijual ke PLN, bukan hanya memanfaatkan energi surya untuk mencukupi kebutuhan listrik mereka,” tegas Syaikhul Islam.

Hijroatul Maghfiroh dari Lembaga Perubahan Iklim PBNU mengatakan bahwa NU sangat peduli terhadap masalah lingkungan karena lingkungan sangat berpengaruh kepada perubahan iklim.

“Ini bisa menjadi momentum bagi semua pesantren binaan PBNU untuk menggalakkan Kembali program Pesantren Hijau. Kami cukup aktif menerapkan program pengelolaan sampah, pemanfaatan sumber air. Namun belum sempat mengembangkan penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT). Maka dari itu pertemuan kali ini sungguh bermanfaat bagi Lembaga Perubahan Iklim PBNU dan berharap nantinya dapat diterapkan dan menjadi media belajar yang baik bagi para santri.”

Pada kesempatan yang sama, Head of Business Solution SUN Energy, I Made Aditya Suryawidya mengatakan bahwa sekarang ini semakin banyak kebijakan pemerintah dalam mempermudah pemanfaatan energi surya. “Beberapa tantangan yang dihadapi pihak yang dalam pemasangan PLTS adalah seperti investasi, teknis pemasangan, dan lain sebagianya. Di sinilah SUN Energy hadir dalam menciptakan energi surya. SUN Energy menyediakan investasi sebesar 0% bagi pesantren yang akan memasang PLTS atap.“

I Made Aditya Suryawidya mengatakan bahwa SUN Energy menerapkan skema pembayaran dan penyewaan PLTS. Pelanggan hanya membayar produksi listrik oleh PLTS berdasarkan pemakaian berapa Kwh yang diproduksi PLTS atap.  Dengan menggunakan PLTS atap, pesantren bisa menghemat sebesar 10% - 15% tagihan listrik bulanan. (RO/A-1)

Baca Juga

MI/Lilik Darmawan

Perisai Negara Jangkau Pelosok Hutan Lindungi Penyadap Pinus

👤Lilik Darmawan 🕔Jumat 03 Desember 2021, 08:55 WIB
MENJANGKAU peserta harus ke lapangan untuk memberitahukan bahwa menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan itu sangat banyak...
dok.Ant

Terjerat Kasus Hukum, Jerinx Tetap Jadi Duta Narkoba Bali

👤Arnoldus Dhae 🕔Jumat 03 Desember 2021, 08:30 WIB
JERINX tetap menjadi duta Narkoba Bali dan tidak ada hubungannya dengan kasus hukum yang...
dok.Ant

Inflasi di DIY Naik Namun Masih Terkendali

👤Agus Utantoro 🕔Jumat 03 Desember 2021, 08:15 WIB
INFLASI di Daerah Istimewa Yogyakarta pada November 2021 ini mengalami kenaikan dibanding dengan bulan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya