Kamis 26 November 2020, 06:47 WIB

Membuat Hantaran Jadi Peluang Bisnis Baru di Temanggung

Tosiani | Nusantara
Membuat Hantaran Jadi Peluang Bisnis Baru di Temanggung

MI/Tosiani
Sebanyak 30 pelaku UMKM terdampak pandemi di Temanggung berlatih membuat kotak hantaran untuk pengantin, Rabu (25/11/2020

 

DI tengah pandemi, geliat bisnis skala rumahan atau UMKM terus berkembang. Pelatihan UMKM pun bertumbuhan seperti di Kabupaten Temannggung, Jawa Tengah baru saja menggelar pelatihan membuat hantaran yang bisa dikembangkan menjadi bisnis. Seperti dilakukan oleh Lusi Suswninanti, 56 yang selama ini fokus pada bisnis busana pengantin di bawah merek Lusi Chan.

Namun sejak pandemi, izin pesta pernikahan dilarang maka orderan pakaian pengantin dibatalkan semua oleh pengorder. Padahal bisnis untuk pembuatan pakaian pengantin cukup menjanjikan. Ia kemudian mencoba bisnis lain agar bisa bertahan hidup.

Dalam sebulan, Lusi bisa menyelesaikan tiga hingga empat pasang gaun pengantin (pria dan wanita), beserta enam hingga delapan unit gaun untuk pengiring dan pendamping pengantin. Semuanya dikerjakan oleh delapan orang pekerjanya. Ia mematok ongkos jahit satu unit gaun pengantin sebesar Rp 2,5 juta. Jika pelanggan memesan gaun berikut kainnya, maka bisa dikenai harga hingga Rp5 juta per unit.

"Karena semua order wedding dress dicancel, maka saya tidak punya penghasilan. Delapan orang pekerja saya terpaksa sempat dirumahkan sementara waktu selama sekitar sebulan di awal pandemi," tutur Lusi, Rabu (25/11).
 
Tak mau bisnis yang dirintisnya bertahun-tahun runtuh dihantam pandemi covid-19, ibu dua anak ini terus memutar otak untuk mencari alternatif usaha agar ia brand Lusi Chan terus berproduksi. Sekitar Maret mulai terpikir membuat masker dari kain-kain batik yang dijahit halus. Lusi mempromosikan masker buatannya melalui media sosial, dan ternyata malah direspon bagus konsumen. Ketika itu masker amat dibutuhkan untuk mencegah penularan Covid-19. Tanpa pikir panjang ia langsung memutuskan memproduksi masker kain.

"Para pekerja langsung saya panggil untuk bekerja kembali. Penjualannya luar biasa. Dalam sebulan saya bisa mendapat omzet Rp6  juta-Rp7 juta. Waktu awal pandemi memang volume penjualan masker amat tinggi," ungkap Lusi.

Seiring berjalannya waktu, popularitas masker kain produksi Lusi Chan menurun. Penghasilannya juga berkurang menjadi hanya kisaran Rp5 juta per bulan. Namun belakangan, sekitar sebulan terakhir  sudah mulai diperbolehkan ada resepsi dengan menjaga protokol kesehatan, sehingga pesanan wedding dress mulai timbul lagi, meski jumlahnya masih kecil.

"Karena dapat pelatihan membuat kotak hantaran ini bisa saya kembangkan jadi bisnis baru. Akan saya jual terpisah kotak hantarannya pada konsumen yang memesan wedding dress. Ini sepertinya akan sangat lumayan," ujar Lusi.

Rizki Alhidayah,27, pengelola toko pakaian sekaligus produsen kopi di Desa Tegowanu Kaloran merasakan hal yang sama. Yakni adanya peluang bisnis membuat kotak hantaran sebagai alternatif usahanya yang sedang lesu dihajar pandemi Covid-19.

Biasanya, dalam kondisi normal, penghasilan dari toko bajunya bisa mencapai Rp800 ribu-Rp900 ribu per dua minggu. Sejak pandemi tokonya tutup. Bahkan pada Idul Fitri lalu dalam waktu tiga minggu ia hanya mendapat Rp200 ribu.

"Rasanya sangat sedih karena pendapatan berkurang drastis. Saya menghabiskan waktu selama pandemi untuk menulis novel. Sudah ada 11 novel yang diterbitkan. Harapan saya, dengan pelatihan ini ada ketrampilan baru dan peluang bisnis baru," tutur Rizki.

baca juga: Berdayakan Warga dengan Gerakan Terus Menanam

Kepala Bidang Koperasi dan Usaha kecil menengah, Disperindagkop dan UKM Kabupaten Temanggung Rahmaningrum, mengatakan pelatihan membuat kotak hantaran ini diikuti 30 orang pelaku UKM yang semuanya terdampak pandemi Covid-19. Pihaknya memprioritaskan UKM bidang kerajinan yang diberi pelatihan. Pematerinya adalah Jeanne Pattalawa, Owner Jenny Collection Semarang yang sudah 23 tahin menjalankan bisnis kotak hantaran.

"Kami bikin pelatihan hantaran karena ingin mengembangkan ketrampilan di semua sektor UKM, baik UKM yang akan tumbuh atau yang sudah jalan. Target kita menumbuhkan usaha mikro agar naik kelas menjadi usaha kecil. Hantaran itu kerajinan yang tidak digeluti semua orang. Ini sisi lain peluang usaha yang bisa dikembangkan," pungkas Rahma. (OL-3)
 

Baca Juga

dok.mi

KPU Sumenep: Achmad Fauzi-Dewi Khalifah Pemenang Pilkada 2020

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 24 Januari 2021, 02:35 WIB
KPU Sumenep, Jawa Timur menetapkan Achmad Fauzi-Dewi Kholifah sebagai pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Sumenep terpilih berdasarkan...
MI/Solmi

Puluhan Alat Berat Penambang Ilegal Bebas Beroperasi di Aceh Barat

👤Amiruddin Abdullah Reubee 🕔Minggu 24 Januari 2021, 01:45 WIB
SEKITAR 100 unit alat berat eskavator jenis becho masih beroperasi melakukan penambangan ilegal di kawasan hutan lindung Kabupaten Aceh...
MI/Gabriel Langga

Longsor Isolir Sepuluh Desa di Ende

👤Gabriel Langga 🕔Minggu 24 Januari 2021, 00:25 WIB
AKIBAT longsor yang terjadi di Desa Ranggase, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, memutus transportasi di sepuluh desa...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya