Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Boyolali mewaspadai perubahan status aktivitas Gunung Merapi yang bergeser dari Waspada (level II) ke Siaga (Level III). Pemkab pun menyiapkan seluruh perangkat dan relawan kebencanaan serta pemerintah desa yang wilayahnya masuk kawasan rawan bencana (KRB) III untuk mengevakuasi warga, jika gunung tersebut erupsi.
"Begitu mendapatkan pemberitahuan perubahan situasi Merapi dari Waspada (Level II) menjadi Siaga atau level III, Sekda Boyolali segera memerintahkan BPBD untuk berkoordinasi dengan Camat Selo dan kepala desa yang ada di bawahnya. Pun segenap relawan kebencanaan untuk bergerak dan bersiap mengevakuasi warga dari bahaya erupsi Merapi," kata Kepala BPBD Boyolali Bambang Sinungharjo kepada Media Indonesia, Kamis (5/11) malam.
Saat ini, seluruh logistik kebencanaan menghadapi erupsi sudah tersedia dan mencukupi, termasuk penyediaan 100 ribu masker untuk mengantisipasi infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) akibat debu vulkanik yang dilontarkan saat terjadi erupsi. Para pengelola desa bersaudara juga diminta bersiap menerima warga yang dievakuasi.
Bambang Sinungharjo menyebut, pemberitahuan dari Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta tentang perubahan status itu langsung disikapi dengan serius, mengingat dampaknya akan sangat luar biasa. Dampak tersebut bukan saja dirasakan warga yang tinggal di wilayah KRB namun juga sampai ke wilayah kaki Merapi.
BPBD Boyolali terus menyimak perkembangan Merapi sejak statusnya menjadi Siaga mulai Kamis (4/11) pukul 12.00 WIB. Tiga desa di Kecamatan Selo yakni Jrakah, Tlogolele dan Klakah menjadi perhatian utama dalam rangka penyelamatan atau evakuasi, sepereti rekomendasi BPPTKG Yogyakarta.
Baca juga: Status Gunung Merapi Naik ke Level Siaga
Kondisi jalur evakuasi pun segera dicek, sehingga bisa mempercepat proses pemindahan penduduk ke wilayah aman atau masuk ke lokasi Desa Bersaudara, yang menjadi tujuan penampungan warga terdampak erupsi Merapi.
"Semua sudah disiapkan. Kita sudah mendata berapa dukuh yang harus dievakuasi dari tiga desa di wilayah Kecamatan Selo yang masuk dalam KRB III. Seluruh organ BPBD sudah siap di lapangan terutama relawan Merapi. Koordinasi dengan Polri dan TNI, PMI dan lembaga SAR dari daerah terdekat juga sudah dilakukan," tukasnya.
Sementara itu, Kades Jrakah Tumar mengatakan warga yang bermukim di enam dukuh terdekat puncak Merapi sudah diberitahu terkait perubahan status hingga kemungkinan berubah ke level I atau Awas Merapi saat erupsi.
Enam dukuh di Desa Jrakah yang sangat rawan dari dampak erupsi atau masuk dalam KRB III adalah dukuh Sepi, Jarak Kidul, Kajor, Tosari dan Jrakah.
"Semua warga yang bermukim di KRB III sudah kita beritahu tentang perubahan status yang masuk ke level II atau Siaga, hingga kemungkinan erupsi yang tidak dapat diduga kapan datangnya. Nanti semua warga akan diungsikan di Desa Bersaudara di Desa Karanggeneng, Sunggingan," ucap Tumar.
Warga juga sudah mengamkan barang berharga seperti sertifikat, ijazah dan dokumen penting lainnya untuk dibawa mengungsi saat erupsi. Pihak pemerintah daerah pun sudah menyiapkan lokasi pengamanan ternak seperti sapi, kambing dan lainnya.(OL-5)
Peralatan pemantau aktivitas Gunung Merapi mencatat lonjakan kegempaan selama periode Jumat (9/1) hingga Kamis (15/1), dengan total 1.277 kejadian gempa.
Jarak luncur ke-8 kali awan panas guguran itu maksimum 1.500 meter dari puncak dan mengarah ke barat daya atau mengarah ke hulu Kali Krasak, Bebeng dan Sat/Putih.
BPPTKG Yogyakarta melihat adanya sedikit perubahan morfologi pada kubah barat daya Gunung Merapi, akibat perubahan volume kubah dan aktivitas guguran lava.
BPPTKG Yogyakarta menyatakan luncuran awan panas guguran maupun lava Gunung Merapi, masih dalam jarak aman dari permukiman maupun destinasi wisata di lereng gunung itu.
BADAN Geologi ESDM menyebut dari sekitar 500 gunung api di Indonesia, pertengahan Desember ini sebanyak 3 gunung berstatus siaga, 24 waspada, dan total 127 gunung api berstatus aktif.
"Jadi memang wajar (terjadi guguran) ketika musim hujan di bulan November, Desember (2025), kemudian puncaknya nanti Januari, Februari (2026) itu intensitas guguran akan sedikit meningkat,"
Namun di beberapa titik terparah di Pekalongan, genangan masih mencapai 80 hingga 100 sentimeter, terutama di kawasan Tirto dan sekitarnya.
Berdasarkan data BPBD, di Kabupaten Pekalongan jumlah pengungsi mencapai 1.411 orang dan di Kota Pekalongan meningkat dari sebelumnya 1.472 orang menjadi 2.400 orang.
Senin (19/1) banjir di Kota Pekalongan meluas dari sebelumnya melanda 2 Kecamatan, kini telah merendam ribuanvrunah di 5 kecamatan yakni Wiradesa, Tirto, Sragi, Siwalan, dan Wonokerto.
Berdasarkan pemantauan terbaru, jumlah pengungsi mulai menunjukkan tren penurunan seiring dengan surutnya genangan di beberapa wilayah.
Proses distribusi dilakukan secara terukur agar bantuan tepat sasaran sesuai dengan eskalasi kebutuhan di setiap lokasi.
Selain warga Jakarta Barat, terdapat delapan KK warga Kelurahan Cipete Utara yang terpaksa mengungsi di Mushalla Nurul Iman.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved