Rabu 28 Oktober 2020, 06:00 WIB

Kawasan Wisata di Konawe Kepulauan tanpa Dukungan Infrastruktur

mediaindonesia.com | Nusantara
Kawasan Wisata di Konawe Kepulauan tanpa Dukungan Infrastruktur

DOK KONAWE KEPULAUAN
Pj Bupati Konawe Kepulauan Muhammad Yusuf menikmati suasana Pantai Kampa, Konawe Kepulauan.

 

DUA destinasi wisata yang menjadi unggulan Kabupaten Konawe Kepulauan, Provinsi Sulawesi Tenggara sampai saat ini belum mendapat perhatian pemerintah. Akibatnya, dua destinasi wisata, yakni Air Terjun Tumburano dan Pantai Kampa masih sepi pengunjung dan belum dikenal oleh wisawatan lokal maupun wisata nasional.

Setelah pemekaran pada 2013, Kabupaten Konawe Kepulauan yang berada di Pulau Wawonii sudah tidak lagi menjadi bagian dari Kabupaten Konawe.

Kondisi Pulau Wawonii dalam kondisi tertinggal tersebut membuat masyarakat yang berdiam di pulau berjuang untuk melepaskan diri dari Kabupaten Konawe pada akhir pada 2013. Setelah itu, kabupaten itu mulai berbenah untuk melakukan pembangunan sendiri.

Kabupaten Konawe Kepulauan secara geografis lebih dekat dengan Kota Kendari, dari pada ibu kota Kabupaten Konawe, yakni Unahaa. Untuk menuju Pulau Wawonii harus melalui Kota Kendari dengan menggunakan kapal feri atau kapal rakyat dengan waktu tempuh 3-4 jam.

Untuk menggunakan kapal Feri yang hanya sehari sekali tersebut warga harus membayar tiket Rp30.000, sedangkan kapal rakyat Rp50.000 sekali jalan.

Warga Wawonii akan bermasalah dengan transportasi laut itu ketika musim angin timur yang menimbulkan terjadi gelombang besar.

Kabupaten Konawe Kepulauan juga dikenal sebagai Pulau Kelapa mempunyai kekayaan wisata alam yang patut dieksplorasi, antara lain air terjun terbesar di Sulawesi, Tumburano. Kawasan ini sering menjadi perbincangan warga lokal untuk destinasi wisata air.

Kabupaten ini juga memiliki destinasi wisata alam yang menarik, seperti Pantai Kampa yang memiliki pemandangan yang indah dengan bantaran pasir putih sepanjang 1,3 km. Selain itu, ada air terjun Kopea, air terjun Lanuku, Air Terjun Ringkulele di Sungai Mesolo. Ada juga Pantai Tengkera, Pantai Kampa, Batu Belah, dan pemandian air panas.

Kabupaten Konawe Kepulauan juga memiliki wisata pantai yang sangat mempesona, Pantai Kampa. Di destinasi wisata ini, Pemkab Konawe Kepulauan telah membanguan vila dan gazebo untuk tempat peristirahatan wisatawan dengan fasilitas yang lengkap.

Jalan rusak
Dari sekian banyak destinasi wisata di Kabupaten Konawe Kepulauan atau Pulau Wawonii yang menjadi perhatian adalah air terjun Tumburano. Dari cerita masyarakat setempat, Air Terjun Tuburano memiliki legenda tentang sepasang kekasih (Durubalewa dan Wulangkinokooti) yang tidak direstui oleh kedua orangtua mereka, kemudian mereka memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka di air terjun tersebut.

Air terjun Tumburano terbagi atas tiga tingkatan dan pada tingkatan ketiga merupakan air terjun yang paling tinggi (80 m) dan bisa diakses melalui air terjun tingkat kedua dengan tinggi sekitar 15 meter. Untuk mencapai air terjun ini, pengunjung harus melalui akar-akar pohon yang berisiko terjatuh. Sementara itu air terjun tingkat pertama memiliki tingginya hanya 10 meter yang juga menarik.

Air Terjun Tuburano berada di Desa Tumburano, Kecamatan Wawonii Utara, belum banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun nasional. Untuk mencapai air terjun Tumburano dari Kota Langara, ibu kota Kabupaten Konawe Kepulauan, bisa ditempuh dengan jarak 7 km dengan kondisi jalan yang masih rusak dan sulit dijangkau oleh kendaraan biasa. Ke air terjun itu, pengunjung harus menggunakan kendaraan doule kabin karena medan yang sulit karena kondisi jalan rusak.

Ketua Bappeda Kabupaten Konawe Kepulauan, Syafiuddin Alibnas mengatakan untuk membuka akses jalan ke Air Terjun Tumburano butuh pendekatan khusus dengan pemilik tanah. Karena untuk mencapai air terjun Tumburano harus melalui kebun warga.

Meskipun destinasi wisata di Pulau Wawonii atau Kabupaten Konawe Kepulauan belum tersentuh oleh infrastruktur, namun Pemkab Konawe terus melakukan upaya-upaya mengenalkan kawasan wisata unggulannya.

“Kita harus promosikan air terjun ini di Kota Kendari dan tempat-tempat pelabuhan, seperti di Langara dan kita siapkan transportasi jika ada yang ingin melihat atau menikmati air terjun Tumburano,” kata Syafiuddin Alibnas.

Salah seorang pengunjung wisata Air Terjun Tumburano Helen mengatakan pesona Air Terjun Tumburano sangat indah dan pesona namun masih memiliki kendala di jalan. “Infrastruktur jalan sangat memprihatinkan, Sebenarnya kalau pemerintah bisa memperbaiki infrasturktur menuju air terjun tempat pasti banyak pengunjungnya,” jelas Helen.

Sementara itu Pj Bupati Konawe Kepulauan, Muhamad Yusuf mengatakan destinasi wisata di daerahnya harus diperkenalkan hingga tingkat nasional. “Untuk mengenalkan destinasi wisata di Kabupaten Konawe Kepulauan disatukan dengan wisata di Kota kendari, Pulau Bokori di Kabupaten Konawe, Pulau Labengki di Kabupaten Konawe Utara dan destinasi wisata di Kabupaten Muna,” ujarnya.

Sejak dimekarkan menjadi Kabupaten Konawe Kepulauan, kabupaten ini baru memiliki bupati definitif satu periode, yakni Bupati Kabupaten Konawe Kepulauan Amrullah dan Wakil Bupatinya Muhamad Lutfi. Mereka terpilih pada Pilkada 2015. Saat ini, mereka kembali maju untuk mencalonkan diri dalam Pilkada 2020, yang akan digelar pada 9 Desember mendatang.

Gubernur Sulawesi Tenggara menunjuk Muhamad Yusuf yang sebelumnya menjabat Kepala Dinas Koperasi Sulawesi Tenggara untuk menjabat sebagai PJ Bupati Konawe Kepulauan. (HM/S1-25)

Baca Juga

ANTARA

Tanah Longsor Timbun Puluhan Rumah Di Pulau Sembilan

👤Denny S 🕔Senin 29 November 2021, 19:01 WIB
SEKIDITNYA 20 rumah penduduk di Desa Maradapan, Kecamatan Pulau Sembilan, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, tertimbun...
DOK MI

Pemkot Bandung Antipasi Munculnya Kasus Varian Omicron

👤Naviandri 🕔Senin 29 November 2021, 18:52 WIB
PEMERINTAH Kota (Pemkot) Bandung, Jawa Barat menyebut hingga sekarang kasus virus Covid-19 varian baru omicron, belum...
ANTARA/Adiwinata Solihin

Ratusan Ribu Hektare Lahan Kritis Di Jabar Berpotensi Timbulkan Bencana

👤Depi Gunawan 🕔Senin 29 November 2021, 18:46 WIB
BERDASARKAN data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2018, sekitar 911 ribu hektare lahan kritis di Jawa Barat berpotensi...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya