Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
IRFAN tidak akan pernah lupa dengan bencana yang menimpanya beberapa bulan lalu. Nelayan di Makassar, Sulawesi Selatan, itu, dihantam ombak setinggi 3 meter.
Ia kehilangan perahunya. Di perairan Kodingareng, itu, Irfan terombang-ambing ombak selama lima jam. Ia selamat setelah ditolong nelayan lain.
"Sudah 10 tahun saya jadi nelayan. Saya hapal, seharusnya ombak besar tidak datang saat itu," paparnya.
Irfan tidak sendiri. Di masa yang seharusnya ombak paling tinggi hanya 1 meter itu, sudah terjadi 4 kecelakaan akibat hempasan ombak besar.
Telunjuk Irfan dan nelayan lain pun mengarah ke Queen of The Neherlands, sebuah kapal milik PT Royal Boskalis yang melakukan penambangan pasir di sekitar wilayah tangkapan nelayan. Pasir digunakan untuk proyek Makassar New Port.
Tidak hanya berdampak pada kecepatan dan tinggi ombak, kapal dengan panjang 230,71 meter dan lebar 32 meter tersebut membuat air di wilayah tangkapan nelayan menjadi keruh. Dampaknya, nelayan sulit mendapat ikan karena lokasi tempat ikan berkumpul terganggu.
"Bencana telah terjadi di sini. Ikan jadi hilang, air laut jadi keruh, ditambah saya harus kehilangan kapal," keluh Irfan.
Dulu, setiap kali memancing, Irfan bisa mendapat 10 ikan tengiri yang dihargai Rp90 ribu per kilogram. "Saya bisa kantongi Rp500 ribu-Rp1 juta. Sekarang, maksimal hanya bisa membawa 2 ikan tenggiri, seringnya tangan kosong."
Kondisi itu, membuat sejumlah istri nelayan berunjuk rasa di depan kantor Gubernur Sulawesi Selatan, kemarin. Mereka menuntut pencabutan izin penambangan pasir laut.
"Konsesi penambangan pasir laut tumpang tindih dengan wilayah tangkapan nelayan. Kehidupan nelayan semakin sulit," kata Direktur Walhi Sulsel Muhammad Al Amien.
Kali ini, Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah tidak berpihak pada nelayan. "Kalau membatalkan izin, kami bisa dituntut."
Bencana alam
Di sejumlah daerah, bencana alam juga terus terjadi mengiringi datangnya musim penghujan. Di Cianjur selatan, Jawa Barat, kejadian banjir, abrasi, dan tanah longsor kembali terjadi di Kecamatan Sindangbarang, Agrabinta, dan Leles.
Di Sindangbarang, banjir luapan Sungai Ciwaduk merendam sekitar 400 rumah. Di Leles, tanah longsor menutup ruas jalan utama. Adapun warga Agrabinta juga terancam bencana karena abrasi terjadi di bantaran Sungai Cibuni.
Hujan deras juga membuat sungai di Kelurahan Cigugur Tengah, Cimahi Tengah, Kota Cimahi, meluap. Sedikitnya 50 rumah terendam. Dinding tiga rumah lainnya jebol.
"Warga masih bertahan di rumah dan belum mengungsi. Kami sudah menyiapkan upaya evakuasi," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Asep Bachtiar.
Kesiapsiagaan menghadapi bencana juga mulai dilakukan di Cirebon, Jawa Barat; Brebes dan Banyumas, Jawa Tengah.
"Kami menyiapkan anggaran Rp4,3 miliar untuk penanggulangan bencana dampak musim hujan saat ini. Cadangan lain yang bisa digunakan berasal dari anggaran belanja tak terduga senilai Rp40 miliar," kata Bupati Banyumas Achmad Husein. (BB/DG/BK/JI/LD/UL/N-3)
INTENSITAS bencana tanah longsor akibat cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi di Kota Depok, Jawa Barat per Februari 2026 meningkat.
Bencana hidrometeorologi melanda negara bagian Minas Gerais, Brasil. Sedikitnya 32 orang tewas dan ribuan warga kehilangan tempat tinggal akibat curah hujan ekstrem.
Bencana longsor dan banjir melanda Minas Gerais, Brasil. 30 orang tewas dan 39 lainnya masih hilang di bawah puing-puing bangunan.
Hujan deras dengan intensitas tinggi yang melanda wilayah Kabupaten Tasikmalaya menyebabkan tebing setinggi sekitar 30 meter longsor.
Sebanyak 35 rumah rusak berat serta tertimbun akibat tanah longsor yang terjadi pada November 2025.
BENCANA longsor yang melanda Desa Sibio-bio, Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, pada 25 November sekitar pukul 11.00 WIB menyisakan duka mendala.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved