Sabtu 19 September 2020, 11:22 WIB

Kemarau Air Bersih Tidak Menetes di Radabata

Ignas Kunda | Nusantara
 

MUSIM kemarau sudah dirasakan masyarakat Nusa Tenggara Timur sejak Juli, membuat warga di Desa Radabata, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Ibu-ibu di Desa Radabata harus turun lembah Meki Sesi untuk menimba air. Kemarau menyebabkan bak-bak penampung air hujan telah berkurang karena sudah tidak ada lagi hujan. 

"Sejak kecil saya ambil air di sini dan sekarang saya sudah umur 40 tahun. Tahun ini air di bak sudah habis sejak Juli. Jadi kami terpaksa ambil air di sini. Lelah sudah biasa kami harus lawan, kalau tidak kami mau minum pakai apa," kata Anastasia, Sabtu (19/9).

Mereka juga harus menempuh perjalanan hingga satu kilo meter dari rumah mereka sekedar untuk mengabil air di lembah. Rasa letih dan lelah menjadi teman keseharian ketika memikul jerigen di tangan dan kepala. Karena hanya dari sumber mata air ini lah mereka dapat minum. Ketika musim kemarau makin panjang hingga membuat sumber air debitnya mengecil ratusan jerigen bersusun menunggu giliran. 

Sebagian warga ada yang rela turun ke mata air sejak pukul 4 pagi untuk menimba air agar tidak mengantri lama dan kebagian air minum. Bagi warga bila banyak yang mengantri maka air hanya dipakai buat minum dan masak.

“Kalau musim kemarau panjang, ratusan jerigen tersusun di sini. Kadang kami ribut antarkami karena ada yang bawa banyak jerigen. Tidak ingat berapa orang yang hanya bawa sedikit jerigen. Kalau ada uang maka kami beli tangki air 5 ribu liter dengan harga Rp.150 ribu," keluhnya.   

Kepala Desa Radabata, Wilhelmus Muga pernah mengusulkan ke pemerintah untuk pembanguanan sumur bor namun hingga kini belum ada realisasinya. Wilhelmus juga membeberkan sumber mata air Meki Sesi menjadi harapan warga lebih dari 600 jiwa yang tersebar di empat RT berada di dua dusun. Kini warga hanya pasrah berharap ada bantuan dari pemerintah karena usaha untuk mendatangkan air bersih tak pernah direspons.

"Sudah lama warga saya mengalami krisi air karena keterjangkauan air bisa sampai satu kilo meter untuk jarak terdekat. Saya sudah pernah memohon kepada pemerintah daerah antara tahun 2010 hingga 2016 namun belum terjawab, karena kita minta sumur bor. Ada lebih dari 600 jiwa yang bergantung pada sumber air ini ” katanya.

baca juga: Bupati Temanggung Surati Dua Menteri Perjuangkan Nasib Tembakau

Dengan napas tersengal – senggal dalam balutan masker, para ibu ini masih terus berpacu menaiki tebing di tengah rimbunnya pohon bambu. Dua jerigen dalam bere (nampan anyaman dari daun pandan) di kepala ikut mengayun serirng ayunan leher si ibu-ibu itu.

"Semoga masih ada harapan adanya bantuan agar air bisa lebih dekat ke kampung,” harap Anastasia. (OL-3)
 

Baca Juga

DOK MI

Kasus Covid-19 di Sumsel Terus Bertambah

👤Dwi Apriani 🕔Rabu 20 Januari 2021, 17:27 WIB
Kasus positif covid-19 di Sumsel...
DOK MI

Bioskop di Tegal Dibuka Kembali Pada Februari

👤Supardji Rasban 🕔Rabu 20 Januari 2021, 17:12 WIB
Masing-masing bioskop harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Daya tampung penonton maksimal diisi 50...
ANTARA/Hendra Nurdiansyah

Selama PPKM, Kasus Covid-19 di DIY Turun 5 Persen

👤Ardi Teristi 🕔Rabu 20 Januari 2021, 17:02 WIB
Jika diperpanjang, PPKM perlu dimodifikasi untuk menghindari kerumunan dan lebih meningkatkan disiplin dalam menerapkan protokol...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya