Rabu 16 September 2020, 15:07 WIB

Sebanyak 28 Desa Dilanda Kekeringan di Kabupaten Bogor

Ferdian Ananda Majni | Nusantara
Sebanyak 28 Desa Dilanda Kekeringan di Kabupaten Bogor

Medcom.id
Ilustrasi

 

SEBANYAK 28 Desa di 11 Kecamatan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat dilanda kekeringan, sebagai dampak dari Hari Tanpa Hujan (HTH) selama musim kemarau tahun 2020. Adapun rincian desa dan wilayah yang terdampak kekeringan meliputi Desa Koleang, Desa Pamagersari, Desa Barengkok, Desa Situ, Desa Curug, Desa Kalong Sawah, Desa Tegal Wangi, Desa Sipak dan Desa Jugalajaya di Kecamatan Jasinga.

Baca juga: Empat Anggota Positif, Gedung DPRD DIY Disterilisasi Tiga Hari

Kemudian Desa Hambalang, Desa Sukahati dan Desa Tajur di Kecamatan Citeureup, Desa Tegal Panjang dan Desa Mekarwangi di Kecamatan Cariu, Desa Cigudeg di Kecamatan Cigudeg, Desa Leuwikaret dan Desa Nambo di Kecamatan Klapanunggal.

Selanjutnya Desa Sukasirna, Desa Weninggalih, Desa Singga Jaya, Desa Nyangegeng, Desa Garung dan Desa Jonggol di Kecamatan Jonggol, Desa Antajaya dan Desa Sirnasari di Kecamatan Tanjungsari, Desa Batangsari di Kecamatan Rancabungur, Desa Kirapandak di Kecamatan Sukajaya, Desa Ciampea di Kecamatan Ciampea dan Desa Kalongliud di Kecamatan Nanggung.

Menurut laporan dari Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor pada Selasa (15/9) pukul 14.30 WIB, bencana kekeringan itu juga berdampak pada 10.613 KK.

Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Bogor terus melakukan kaji cepat, berkoordinasi dengan instansi terkait dan telah mendistribusikan bantuan air bersih ke beberapa titik di 9 Kecamatan dan wilayah lain secara bertahap. Hingga laporan yang diterima, total air yang sudah didistribusikan sebanyak 280.000 liter.

Sementara itu, menurut prakiraan cuaca dan musim dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia masih dapat berlangsung hingga bulan Oktober, khususnya di sebagian besar Pulau Jawa.

Sedangkan musim hujan di Indonesia akan dimulai secara bertahap di akhir bulan Oktober, terutama dimulai dari wilayah Indonesia Barat dan sebagian besar wilayah Indonesia.

Baca juga: Wabup Yalimo Mabuk Sambil Nyetir Tabrak Polwan Hingga Tewas

Melihat adanya dampak dari bencana yang dipicu oleh faktor cuaca dan hasil prakiraan cuaca dari BMKG tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta agar pemangku kebijakan di daerah dapat lebih siap dan antisipatif terhadap kemungkinan dampak musim kemarau terutama di wilayah yang rentan terhadap bencana kekeringan meteorologis.

Para pemangku-kepentingan di daerah juga diharapkan dapat lebih optimal melakukan penyimpanan air pada musim hujan ini untuk memenuhi danau, waduk, embung, kolam retensi, dan penyimpanan air buatan lainnya di masyarakat melalui gerakan memanen air hujan. (OL-6)
 

Baca Juga

DOK MI

Babel Fokus Tangani Stunting di Tiga Kabupaten

👤Rendy Ferdiansyah 🕔Selasa 13 April 2021, 19:13 WIB
PEMERINTAH Provinsi Bangka Belitung (Babel) terus berupaya menurunkan  angka stunting khususnya di tiga kabupaten yaitu Bangka Selatan...
innovativegenomics.org

Libur Panjang, Pasien Covid-19 di Cianjur Meningkat

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 13 April 2021, 18:45 WIB
Angka penularan terlihat bertambah dari jumlah pasien di ruang isolasi RSUD Cianjur yang sebelumnya tinggal puluhan orang menjadi 175...
Humas Pemkab Tuban

Pemkab Tuban Minta Pusat Percepat Proyek Pengendali Banjir

👤M Yakub 🕔Selasa 13 April 2021, 18:37 WIB
PEMERINTAH Kabupaten Tuban, Jawa Timur meminta Pemerintah Pusat melakukan percepatan pelaksanaan sejumlah proyek pengendali banjir di...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Salah Kaprah Salurkan Energi

Kenakalan remaja pada masa lalu hingga masa kini masih ada, bahkan semakin meninggi. Itu terjadi karena remaja sering kali mementingkan solidaritas grup.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya