Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
Harga jual berbagai jenis ikan di pasar Palu, Sulawesi Tengah, melonjak. Penyebabnya, banyak nelayan yang tidak melaut akibat gelombang tinggi.
Pantauan mediaindonesia.com di Pasar Tradisional Inpres Manonda Palu, Kamis (13/8), harga ikan rata-rata mengalami penaikan Rp20 ribu per kilogram (kg).
Ikan kembung misalnya. Jika sebelumnya dijual Rp15 ribu/kg, kini menjadi Rp35/kg. Ikan ekor kuning dan cakalang yang biasanya dijual Rp50 ribu/kg, kini menjadi Rp70 ribu/kg.
Tidak hanya itu, ikan karang, yakni ikan katamba kini mencapai Rp80 ribu/kg. Padahal semula harganya Rp60 per kg.
Menurut pedagang, stok ikan yang sedikit masuk ke pasar menjadi penyebab mahalnya harga ikan.
"Stok sedikit masuk ke pasar karena banyak nelayan yang tidak turun melaut. Alasan para nelayan karena gelombang tinggi yang sudah terjadi sejak dua minggu terakhir," ujar Andi Kamal, pedagang di pasar, Kamis (13/8).
Baca juga: Produktif di Tengah Pandemi, Petani Jirak Panen Padi SRI Organik
Seorang nelayan di kampung nelayan Kelurahan Tondo, Kecamatan Palu Timur Burhan Mangge menyebutkan sudah dua minggu cuaca tidak bersahabat di perairan Selat Makassar.
Hal tersebut yang membuat banyak nelayan dari Palu dan Donggala tidak turun melaut. "Gelombang mencapai empat meter. Bahkan di tengah laut itu bisa mencapai tujuh meter. Jelas itu jadi penghambat kami untuk melaut," paparnya.
Berdasarkan prakiraan tinggi gelombang yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mulai awal Agustus hingga akhir Agustus, gelombang sedang, tinggi, dan sangat tinggi masih terjadi di beberapa perairan Indonesia. Termasuk perairan Selat Makassar yang tinggi gelombangnya bisa mencapai tujuh meter.
Oleh karena itu, BMKG juga mengeluarkan imbauan agar sejumlah nelayan untuk tidak melaut sampai gelombang bisa kembali normal. (OL-14)
BMKG mengeluarkan peringatan dini gelombang laut tinggi hingga 4 meter disertai angin kencang dan hujan, sehingga sebagian besar nelayan memilih tidak melaut demi keselamatan.
Gelombang tinggi disertai hujan badai di perairan selatan mencapai 1,25-6 meter dan di perairan utara 1,25-2,5 meter cukup berbahaya terhadap aktivitas pelayaran.
Tinggi gelombang antara 1,25-2,5 meter (sedang) berpeluang terjadi di perairan Laut Sulawesi, perairan utara Sulawesi Utara, dan perairan Kabupaten Minahasa Utara.
BMKG juga menyampaikan peringatan dini gelombang sedang hingga tinggi di sejumlah perairan, termasuk Perairan Kuala Pembuang, Teluk Sampit, dan Kuala Kapuas.
BMKG: gelombang tinggi disertai hujan badai masih berlangsung di perairan utara Jawa Tengah hingga Minggu (18/1) ini.
Tidak hanya itu, akibat gelombang tinggi penyeberangan antar pulau baik Jepara-Karimunjawa maupunTanjung Emas Semarang-Karimunjawa juga terhenti, termasuk kapal layar motor
Pemkot Semarang mengalokasikan anggaran sekitar Rp87 juta dari pengalihan beberapa kegiatan di Dinas Perikanan untuk mendukung program tersebut.
Angin kencang yang bertiup saat ini kecepatan naik dua kali lipat dibandingkan kondisi normal. Jika memaksakan diri untuk melaut bisa mengancam keselamatan mereka.
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menegaskan bahwa kemandirian pangan nasional tidak akan tercapai maksimal tanpa melibatkan potensi maritim secara progresif.
Nelayan setempat sudah tidak melaut sejak dua minggu terakhir akibat cuaca buruk.
Ribuan kapal dan perahu nelayan di sejumlah daerah di Pantura Jawa Tengah masih bertahan sandar di sejumlah pelabuhan perikanan dan muara sungai akibat gelombang tinggi dan badai.
Nelayan yang ingin melaut diimbau untuk waspada dan selalu mencari informasi terkait cuaca.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved