Selasa 28 Juli 2020, 15:11 WIB

Jatim Tergetkan Angka Stunting di Bawah 25% pada 2024

mediaindonesia.com | Nusantara
Jatim Tergetkan Angka Stunting di Bawah 25% pada 2024

Ist
Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak saat menjadi keynote speaker dalam webinar yang diselenggarakan YAICI bersama PP Aisyiyah, Selasa (28/7)

 

DATA Riskesdas 2018 mengungkapkan bahwa prevalensi stunting Jawa Timur (Jatim) saat ini tidak terpaut jauh dari angka nasional, yaitu mencapai 26,91% dengan resiko stunting tertinggi pada kabupaten Probolinggo, Trenggalek, Jember, Bondowoso dan Pacitan.

Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Emil Elestianto Dardak saat menjadi keynote speaker dalam webinar yang diselenggarakan YAICI bersama PP Aisyiyah, Selasa (28/7).

“Ini PR (pekerjaan rumah) bersama mengingat di dalam roadmap penurunan stunting, pada 2024 harapannya bisa di bawah 25%. Karena itu, langkah awal dengan memastikan ibu dan bayi mendapat gizi yang baik,” ujar Emil Dardak.

Emil mengatakan, permasalahan gizi memang erat kaitannya dengan ekonomi masyarakat. Namun stunting tidak melulu terjadi karena kemiskinan, melainkan karena ketidakdisiplinan masyarakat.

Stunting tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat ekonomi rendah, karena penerapan disiplin gizi bukan hanya berkaitan dengan kemampuan membeli makanan, tapi juga pilihan pangannya,” jelas Emil.

Lebih lanjut, Emil mengungkapkan sebuah program yang pernah dilakukan di Pandeglang pada 2019 dimana ditemukan bahwa stunting terjadi karena kesalahpahaman masyarakat yang beranggapan kental manis adalah susu dan diberikan kepada anak.

“Lalu dilakukan upaya terpadu, kental manis di ganti susu dan ada perbaikan. Ini kemudian dikoordinasikan dengan dinas kesehatan propinsi untuk dilakukan upaya yang sama di Jatim,” ungkap Emil.

Dalam kesempatan tersebut, Emil Dardak juga menyampaikan apresiasi terhadap YAICI dan PP Aisyiyah atas konsistensinya menggalakkan edukasi dan literasi gizi untuk masyarakat. Namun, ia berharap target dari literasi gizi tidak hanya menyasar ibu dan anak, namun lingkungan sekitar yang mempengaruhi ibu.

“Ibu-ibu muda saat ini yang rata-rata kelahiran 1990 - 2000, adalah generasi millenial yang pastinya melek teknologi dan informasi. Tapi terkadang, pengambilan keputusan juga dipengaruhi oleh orang-orang disekitarnya, orang tua, mertua atau nenek. Karena itu, edukasi mengenai gizi dan kental manis juga harus diberikan kepada generasi yang lebih tua ini,” imbuh Emil.

Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani yang hadir dalam kesempatan tersebut mengingatkan, pembicaraan mengenai gizi anak harus berawal dari keluarga. Oleh karena itu, tingkat edukasi orang tua sangat mempengaruhi kualitas anak dan keluarga tersebut.

Sayangnya, berdasarkan profil keluarga BKKBN, sebanyak 16,95% atau kurang lebih 10 juta keluarga Indonesia masuk kategori prasejahtera. Sementara berdasarkan tingkat pendidikan kepada keluarga,terdapat 51,5% kepala keluarga yang menginjak pendidikan hanya sampai jenjang SD.

“Bisa dibayangkan dengan situasi seperti ini, bagaimana tumbuh kembang anak-anak kita, belum lagi saat ini kita memasuki masa pandemi,” ungkap Netty.

Karena itu, dibutuhkan kerja sama multi stakeholder untuk mengadvokasi keluarga keluarga prasejahtera, dan keluarga rentan miskin agar kebutuhan gizi anak dan keluarga tetap tercukupi.

Di samping itu, Netty mengatakan perlu menyadarkan masyarakat  dalam menghindari makanan atau minuman (mamin) yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan, baik jangka pendek maupun jangka panjang seperti stunting dan gizi buruk.

“ Salah satunya dalam hal pemberian susu kepada anak-anak, dimana masih  banyak orang tua yang sering salah memahaminya. Masih banyak para orang tua, utamanya dari masyarakat tidak mampu, itu menganggap susu kental manis sebagai pilihan tepat bagi anaknya.,” jelas Netty.

Dra. Chairunnissa. M. Kes, Ketua Mejelis Kesehatan PP Aisyiyah, dalam kesempatan itu kembali mengingatkan kepada seluruh kader dan jajaran Aisyiyah, untuk tidak memasukkan kental manis dalam bantuan sosial dimasa pandemi Covid 19 ini.

“Mengedukasi dengan memberikan bantuan sembako yang benar adalah hal-hal yang kita lakukan untuk mengetasi stunting dimasa pandemi ini,” jelas Chairunnisa.

Ia juga mengingatkan, balita yang sudah terbiasa mengkonsumsi kental manis dapat berisiko terkena malnutrisi.

Sebagai organisasi yang bergerak di bidang kepedulian terhadap upaya peningkatan kesehatan masyarakat, Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) dan Majelis Kesehatan PP Aisyiyah sejak tahun 2018 telah berkomitmen melakukan edukasi gizi dan cara bijak mengkonsumsi susu kental manis untuk masyarakat diberbagai daerah di Indonesia. (RO/OL-09)

 

 

Baca Juga

medcom

Kasus Positif Covid-19 di Klaten Tembus 2.001 Orang

👤Djoko Sardjono 🕔Minggu 06 Desember 2020, 07:58 WIB
Klaten menambah jumlah kasus positif sebanyak 28 orang sehingga jumlah akumulasi kasus positif menjadi 2.001...
Dok.MI

342 Tenaga Medis Gugur IDI Beri Peringatan

👤(Van/E-3) 🕔Minggu 06 Desember 2020, 05:55 WIB
TIM Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengumumkan dari Maret hingga Desember total 342 tenaga medis dan tenaga kesehatan...
heri susetyo

3M Amankan Pesta Demokrasi

👤HERI SUSETYO 🕔Minggu 06 Desember 2020, 05:50 WIB
SEUSAI subuh, sejumlah petugas sudah datang ke tempat pemungutan suara. Mereka menyemprot seluruh meja, kursi, peralatan, dan lantai dengan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya