Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
PELAKSANAAN pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur yang sudah memasuki hari ke 11 dan berakhir pada 11 Mei mendatang ternyata gagal menekan penyebaran covid-19.
Hal ini terlihat dari jumlah penyebaran pasien covid-19 di kota udang tersebut. Jumlah pasien positif covid-19 di Sidoarjo bertambah pesat setiap harinya. Data sementara hingga Jumat (8/5) jumlah pasien positif covid-19 mencapai 152 orang dan 16 di antaranya meninggal dunia. Jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) berjumlah 214 orang dan 18 di antaranya meninggal dunia. Sementara jumlah orang dalam pemantauan (ODP) mencapai 832 orang dan dua meninggal dunia.
Padahal pada 26 April 2020 atau dua hari sebelum PSBB, total pasien yang terkonfirmasi positif di kabupaten Sidoarjo baru 80 orang dengan jumlah PDP 172 orang dan jumlah ODP 662 orang.
"Target PSBB menekan penyebaran covid-19 hingga 30% sepertinya agak berat," kata Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Nur Ahmad Syaifuddin, Jumat (8/5).
Baca Juga: Penumpang MRT Positif Korona, Dinas Perhubungan DKI: Belum Dengar
Menurut Nur Ahmad, melihat semakin banyak penderita covid-19 ini, pihaknya akan melakukan rapid test lebih banyak lagi. Dan rapid test ini harus dilakukan untuk mendeteksi lebih dini agar penanganannya cepat.
"Untuk itu semua harus instropeksi, semuanya, para petugas juga demikian, masyarakat juga demikian, kita harus sadar bahwasannya ini bahaya benar-benar mengancam karena perkembangannya sangat luar biasa," kata Nur Ahmad yang juga pelaksana tugas Bupati Sidoarjo tersebut.
Salah satu rapid test dilakukan di pasar-pasar, karena di sejumlah pasar ditemukan pedagang positif terpapar virus korona. Dan setelah dilakukan rapid test, ternyata juga ada beberapa pedagang yang reaktif atau diduga terpapar virus mematikan tersebut.
Diakui Nur Ahmad, tidak mudah melakukan upaya penekanan penyebaran covid-19. Sebab upaya yang dilakukan tidak bisa menyeluruh. Seperti kasus di pasar, meskipun sudah ditemukan ada yang positif, tidak bisa serta merta melakukan penutupan pasar. Sebab roda perekonomian juga tetap harus berjalan.
Demikian pula di pabrik-pabrik tidak bisa otomatis melakukan penutupan. Bisa dilakukan penutupan apabila manajemen pabrik tetap bisa membayar gaji pekerja selama mereka dirumahkan sementara.
"Kita ingin selesai mengatasi masalah covid-19, tapi kita juga tidak ingin ekonomi menjadi ambruk, ya, itu masalahnya," tegas Nur Ahmad.
Nur Ahmad juga belum bisa memastikan apakah PSBB di Sidoarjo diperpanjang atau tidak. Sebab hal itu juga harus dibicarakan dulu dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. (OL-13)
Baca Juga: Citilink Batalkan Penerbangan Jakarta-Solo-Jakarta
Memahami perbedaan mendasar antara Super Flu, Influenza, dan Covid-19 bukan hanya soal ketenangan pikiran, tetapi juga tentang ketepatan penanganan medis untuk mencegah komplikasi serius.
GURU Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Dominicus Husada, menilai penularan virus Nipah tidak sebesar kasus covid-19 yang menjadi pandemi.
Secara sederhana, zoonosis adalah penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia.
Ia menjelaskan, salah satu langkah pencegahan yang dilakukan adalah melakukan vaksinasi untuk kepada masyarakat.
Bencana banjir di Sumatra memicu kritik terhadap respons pemerintah. Sosok almarhum Achmad Yurianto kembali dikenang atas perannya sebagai juru bicara pemerintah saat pandemi Covid-19.
Termometer perlu disterilisasi untuk membunuh kuman dan bakteri jika digunakan pada banyak orang.
Presiden Joko Widodo mengaku bingung dengan banyaknya istilah dalam penangan covid-19, seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar hingga Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat.
Demi membantu UMKM untuk bangkit kembali, influencer Bernard Huang membuat gerakan yang diberi nama PSBB atau Peduli Sesama Bareng Bernard dii Kota Batam.
Kebijakan itu juga harus disertai penegakan hukum yang tidak tebang pilih, penindakan tegas kepada para penyebar hoaks, dan jaminan sosial bagi warga terdampak.
Dari jumlah tes tersebut, sebanyak 20.155 orang dites PCR hari ini untuk mendiagnosis kasus baru dengan hasil 6.934 positif dan 13.221 negatif.
Untuk menertibkan masyarakat, tidak cukup hanya dengan imbauan. Namun harus dibarengi juga dengan kebijakan yang tegas dalam membatasi kegiatan dan pergerakan masyarakat di lapangan.
Epidemiolog UI dr.Iwan Ariawan,MSPH, mengungkapkan, untuk menurunkan kasus Covid-19 di Indonesia, sebenarnya dibutuhkan PSBB seperti tahun 2020 lalu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved