Headline
Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.
Kumpulan Berita DPR RI
INVESTOR individual di Indonesia masih kesulitan untuk menemukan produk investasi yang berdampak sosial dan berkelanjutan. "Padahal, potensi produk investasi kepada wirausaha sosial sangat besar," ungkap pakar keuangan dari Universitas Trisaksi Maria R Nindita, di Bandung, kemarin.
Berbicara dalam diskusi publik soal impact investment, yang digelar PT Amartha Mikron Fintek dan PT Principal Asset Ma-nagement, Maria menambahkan impact investmen atau investasi berdampak ialah hal baru yang perlu dipopulerkan. "Kuncinya adalah edukasi, mulai dari regulasi hingga menghubungkan berbagai pemangku kepentingan."
Sementara itu, Aria Widyanto, Chief Risk & Sustainability Officer Amartha mengungkapkan Amartha dengan 70 ribu pendana milenial. "Mereka menjadi pendana di Amartha karena didorong dampak sosial yang mereka ciptakan bersama kami."(BY/N-2)
Industri startup Indonesia yang semakin kompetitif tidak selalu memberikan ruang bertahan bagi perusahaan teknologi finansial.
UBS menggelar UBS OneASEAN Summit untuk ke-14 kalinya dengan menghadirkan lebih dari 850 investor institusional, pembuat kebijakan, serta pemimpin industri dari berbagai negara.
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, mengingatkan para investor untuk tetap bersikap rasional di tengah konflik Timur Tengah.
Pasar saham akan dibayangi sentimen risk off. Hal itu menyusul memburuknya situasi geopolitik di Timur Tengah pascaserangan terkoordinasi AS-Israel terhadap Iran.
Tren investasi pada 2026 diproyeksikan semakin mengarah pada penguatan portofolio yang mampu bertahan di tengah gejolak pasar.
Ketidaksinkronan antara data administratif dan realitas pasar ini menjadi salah satu alasan mengapa lembaga internasional mulai mempertanyakan kredibilitas tata kelola ekonomi nasional.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved