Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
PERINGATAN Sumpah Pemuda ke-91 tahun 2019 dilakukan dengan berbagai cara. Di Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT, mahasiswa melakukan aksi peduli lingkungan dengan menanam pohon di hutan lindung yang terbakar beberapa hari lalu.
Mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) itu menanam ratusan anakan mahoni di Nggolong Tede, Kelurahan Waso, Kecamatan Langke Rembong, Minggu (27/10) sore.
"Nggolong Tede merupakan kawasan hutan lindung sekaligus sumber air bagi warga kota Ruteng. Kami tak ingin kawasan ini menjadi gundul pasca kebakaran. Itulah sebabnya kami melakukan reboisasi di sini," ujar Ketua Presidium PMKRI Ruteng, Ignasius Padur.
Nggolong Tede termasuk dalam kawasan hutan lindung yang merupakan salah satu sumber air yang dikelola oleh PDAM Tirta Komodo milik Pemkab Manggarai.
Baca juga : Laskar Timor Indonesia Bubarkan Ceramah Eks HTI di Kupang
Beberapa hari lalu, kawasan hutan ini terbakar. Upaya pemadaman yang dilakukan oleh petugas bersama masyarakat tak sampai memadamkan api. Beruntung hujan segera turun sehingga api yang membakar hutan pun berhasil dipadamkan.
Ignas menambahkan, kegiatan reboisasi tak hanya saat peringatan HUT Sumpah Pemuda. Pihaknya akan akan terus memonitor secara berkala agar pohon yang ditanam terus bertambah dan bisa bertumbuh dengan baik.
Ia juga mengharapkan keterlibatan banyak pihak untuk sama-sama menjaga kelestarian hutan di pegunungan bagian selatan kota Ruteng itu.
Saat ini, hujan mulai mengguyur kawasan tersebut. Awal musim hujan ini sangat tepat untuk melakukan penanaman anakan pohon di lokasi-lokasi bekas kebakaran.
"Kondisi kota Ruteng sekarang sedang musim hujan. Kesempatan ini perlu dimanfaatkan untuk menanam pohon agar hutan kita tidak gersang tetapi tetap dilestarikan dengan baik sehingga tidak mengalami masalah kekurangan air bersih di kemudian hari," ujar Ignas. (OL-7)
SETIAP 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai penjuru Nusantara berikrar untuk bersatu: Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa, Indonesia.
Dulu perjuangan dilakukan dengan bambu runcing dan pena, kini perjuangan itu menuntut transformasi ekonomi, kemandirian finansial, dan keadilan sosial.
Menumbuhkan kesadaran lingkungan sejak dini menjadi langkah penting dalam membangun generasi muda yang peduli dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan kembali pentingnya pemulihan kawasan Puncak sebagai hulu DAS Ciliwung yang menopang kehidupan di wilayah hilir.
Momentum ini menjadi titik temu antara penegakan hukum, pelestarian lingkungan, tanpa melupakan sisi anugerah alam yang bisa dijadikan sumber mata pencaharian masyarakat.
Dalam sejarah, Sumpah Pemuda 1928 dapat dibaca sebagai upaya membangun imajinasi kolektif di bawah kondisi keterpecahan dan penindasan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved