Headline
Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.
Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.
Kumpulan Berita DPR RI
KENDATI gempa dengan kekuatan 6,5 magnitudo yang mengguncang Ambon, Maluku, dan sekitarnya merusakkan sejumlah fasilitas publik, aktivitas warga berangsur normal kembali.
Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon mengajak warga kota yang mengungsi kembali ke rumah masing-masing.
"Setelah reda, kami mengimbau warga kembali ke rumah masing-masing karena tidak terjadi gempa susulan dalam skala lebih besar," kata Wakil Wali Kota Ambon, Syarif Hadler, di Ambon, kemarin.
Hanya warga yang tinggal di pesisir pantai memilih bertahan karena khawatir gempa susulan yang berdampak tsunami. Untuk itu warga diarahkan kembali ke rumah sambil tetap waspada.
"Situasi relatif aman, tetapi harus waspada. Jangan dengar berita di media sosial atau pesan Whatsapp. Pastikan informasi resmi BMKG dan BPBD," lanjut Syarif.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB, Agus Wibowo, mengungkapkan fasilitas umum yang mengalami kerusakan, yakni sambungan Jembatan Merah Putih, jembatan kabel pancang di Kota Ambon, sejumlah gedung di Universitas Pattimura, gedung BLK Ambon, Badan Ketahanan Pangan Maluku, Dinas Sosial Provinsi Maluku, Pasar Apung di Negeri Pelau, Kabupaten Maluku Tengah, jalan utama menuju dermaga feri Desa Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, pusat perbelanjaan Citi Mal, masjid di Gunung Malintang, Kota Ambon, dan Gereja Rehoboth, Kota Ambon.
Selain itu, beberapa rumah penduduk juga rusak, yaitu dua rumah rusak berat di Desa Toisapu, Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon, dan satu rumah di Hative Kecil, Kota Ambon.
"Warga waspada terhadap gempa susulan dan tidak terpancing informasi palsu yang menimbulkan kepanikan," ujar Agus melalui rilis, kemarin.
Gempa dengan kekuatan 6,5 magnitudo kemarin mengguncang Maluku pukul 06.46 WIB dengan kedalaman 10 kilometer pada 40 kilometer timur laut Ambon. BNPB melaporkan hingga pukul 18.00, korban meninggal dunia akibat gempa bumi mencapai 20 orang. Sebanyak 107 orang mengalami luka-luka akibat gempa tersebut.
"Enam mengalami luka ringan di Kampung Iha Desa Liang. Kurang lebih 100 orang luka-luka di Desa Liang dan seorang luka berat di Desa Waisama, Seram bagian Barat," imbuh Agus.

Bandara aman
Berdasarkan pemantauan BMKG hingga pukul 12.30, telah terjadi 66 kali gempa susulan dengan magnitudo terbesar 5,6 dan terkecil 3.0.
"Pembangkit gempa diduga kuat ialah struktur sesar di Kecamatan Kairatu Selatan. Struktur sesar ini berarah barat daya-timur laut dan memiliki pergerakan mendatar-mengiri (sinistral strike-slip)," ungkap Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono.
PT Pertamina (persero) memastikan sarana dan fasilitas terminal BBM, depot pengisian pesawat udara, dan SPBU di Maluku, khususnya Ambon dan Masohi, dapat beroperasi normal pascagempa bumi.
"SPBU telah melayani konsumen dan hanya satu SPBU di Tulehu yang berhenti karena lokasinya dekat episentrum gempa," kata Unit Manager Communication, Relations, & CSR MOR VIII Pertamina, Brasto Galih Nugroho.
Bandara Pattimura Ambon yang dikelola PT Angkasa Pura I (persero) beroperasi normal pascagempa. "Penerbangan dari dan menuju Bandara Pattimura sesuai jadwal. Tidak ada kerusakan fasilitas bandara, baik di area landside maupun airside," tandas Corporate Secretary PT Angkasa Pura I, Handy Heryudhitiawan, melalui pernyataan resminya. (Rif/Ind/Ata/Ant/DD/X-3)
Sarah Nuraini Siregar dari BRIN menyoroti penggunaan istilah "oknum" untuk anggota polisi, menegaskan tindakan individu mencerminkan institusi.
Penanganan kasus dipastikan berjalan paralel, baik dari sisi tindak pidana umum maupun pelanggaran kode etik profesi Polri.
Kapolri menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan pelanggaran berat yang mencoreng nama baik Korps Brimob Polri.
Proses hukum terhadap tersangka, yang merupakan oknum anggota Brimob berinisial Bripda MS, harus dilakukan secara terbuka tanpa ada upaya menutupi fakta.
Kementerian PPPA tengah melakukan koordinasi dengan dinas setempat terkait kasus anak berinisial AT (14) yang dianiaya oleh anggota Brimob di Tual, Maluku, hingga meninggal dunia.
Kementerian PPPA memastikan koordinasi dengan dinas setempat dan kepolisian terkait kasus anak meninggal dunia diduga akibat kekerasan oknum Brimob di Kota Tual, Maluku.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved