Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Tidak Mengikuti Sistem Zonasi, SD Negeri di Sikka Terancam Tutup

Alexander P Taum
22/9/2019 18:00
Tidak Mengikuti Sistem Zonasi, SD Negeri di Sikka Terancam Tutup
Jumlah siswa SDN Pauklor di Sikka, NTT, minim sehingga terancam ditutup.(MI/Alexander P Taum)

SEKOLAH Dasar Negeri Pauklor, Desa Pruda, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur, terancam ditutup karena kekurangan murid.

Meski sudah dibangun pemerintah pada 11 September 2014, hingga tahun ke-6, jumlah siswa kelas 1 SD Negeri itu hanya 4 orang. Pihak Dinas PKO setempat menegaskan bahwa pembagian siswa menurut tempat tinggal (zonasi) wajib ditaati guna menghindari penutupan sekolah yang telah dibangun pemerintah.

Kepada Media Indonesia, Minggu (22/9), Filiphus Frans, Kepala SDN Pauklor, mengatakan, sekolah yang dipimpinnya terancam ditutup karena dari tahun ke tahun, siswanya semakin berkurang.

"Pada Tahun Ajaran 2019/2020 Juli, hanya 38 siswa, September baru bertambah 6 siswa pindahan dari SDK Pruda, kampung tetangga," ungkap Filiphus.

Sejak 2016 ia menjadi Kepala SDN Pauklor. Namun, dari total 6 kelas, jumlah siswa sampai dengan saat ini total hanya 44 orang. Kurangnya siswa disebabkan jarak dari rumah ke sekolah sedikit lebih jauh daripada ke SDK Pruda.

Selain jarak, buruknya jalan dan ketiadaan jembatan menuju SDN Pauklor, disebut-sebut sebagai penyebab sekolah negeri itu nyaris ditutup. Warga mengaku takut banjir jika musim penghujan.

"Kalau hujan, dan banjir, siswa kelas 1 takut jalan sendiri karena harus menyeberang banjir," ujar Filiphus.

 

Baca juga: Polisi Sebut Perempuan di Video Asusila Berseragam ASN Korban

 

Selain persoalan infrastruktur, kebanyakan warga setempat lebih memilih untuk bersekolah di SD Katolik meskipun berada lebih jauh dari tempat tinggal mereka.

Dikatakan, sekolah itu didirikan sesuai dengan usulan pemerintah karena SDN Pauklor itu berdiri di dusun Pauklor.

Diharapkan, siswa dari Dusun Pauklor yang terdiri atas Kampung Ipirdudun, Kampung Roatena, dan Kampung Nuban, diwajibkan untuk bersekolah di SDN Pauklor.

Bersama sang Kepsek, sekolah itu ditempati 8 guru, terdiri atas 3 guru PNS dan 5 honorer.

"Ada nota kesepakatan antara orangtua dan guru serta pemerintah desa, itu dilakukan pada 16 Agustus 2019 di ruangan kepala sekolah SD Negeri Pauklor, dihadiri oleh kepala desa, Kepala SDK Pruda, dan Kepala SDI Riidueng, serta orangtua murid," sebutnya.

Namun selama 6 tahun, SDN Pauklor merana karena kekurangan murid. Sejak awal berdirinya SDN Pauklor pada 2013/2014 dengan 17 orang, kemudian pada 2014/2015 berjumlah 29 siswa, dan 2015/2016 meningkat menjadi 45 orang, serta 2016/2017 menjadi 56 siswa, 2017/2018  60 siswa, 2018/2019 44 siswa, 2019/2020 berjumlah 44 siswa.

"Problem utama minimnya siswa karena pembagian zona wilayah tidak ditaati. Kalau dalam pembagian zona wilayah dan Dusun Pauklor, semua siswa sekolah di sini, pasti tidak ada problem, tetapi kalau mereka sekolah di SDK Pruda berarti problem buat SDN Pauklor,” ujar Filiphus. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya