Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
WARGA Desa Boru, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur (Flotim), Nusa Tenggara Timur memprotes dana desa ternyata dipinjamkan ke pihak lain.
Mereka pada Kamis (5/9) berunjuk rasa memprotes peminjaman dana desa tersebut di kantor desa.
Mereka menduga terjadi penyelewengan dana desa karena telah dipinjamkan ke pihak lain yang tidak prosedural dan transparan.
Dalam aksi ini, warga menuntut agar pemerintah desa segera memberikan klarifikasi dan mengembalikan dana desa yang telah dipinjamkan ke pihak lain tersebut.
Salah seorang warga, Andi Liwu, mengatakan aksi ini merupakan bentuk akumulasi kekecewaan warga terhadap kinerja pemerintah desa yang dinilai tidak transparan dalam pengelolaan dana desa.
"Aksi ini kami gelar untuk meminta pertanggungjawaban kepala desa dan perangkatnya, terkait pengelolaan dana desa. Mengapa dana desa itu harus dipinjamkan ke pihak lain tanpa proses yang tepat? Apalagi tidak jelas peruntukannya. Dana desa yang adalah dana efisiensi kok dipinjam ke pihak lain? Apakah itu sudah sesuai regulasi?"tegas Andi.
"Untuk itu kami minta segera menagih kembali dana desa yang telah dipinjamkan tersebut dan mengembalikan kepada masyarakat untuk dikelola sesuai kebutuhan. Kami juga meminta agar perangkat desa dirombak dan pengelolaan dana desa harus transparan, karena selama ini terkesan ditutupi," sambung Andi.
Selain itu, lanjutnya, warga juga mendesak pihak kepolisian untuik mengusut dugaan penyelewengan dana desa tersebut.
Baca juga: Pemprov NTT Ancam Gusur Perumahan di Lahan Pertanian
Kepala Desa Boru Benediktus Baran Liwu mengakui dana desa yang dipinjamkan lebih dari Rp60 juta. Dan baru sebagian yang dikembalikan.
"Sudah dikembalikan Rp10 juta. Dan sisanya nanti akan segera ditagih secepatnya untuk dikembalikan," ujar Benediktus. (X-15)
Perlindungan satwa adalah bagian tak terpisahkan dari mitigasi bencana dan keseimbangan ekosistem.
Sejak 2019, Faris terjun ke NTT untuk melakukan misi sosial dalam penanganan masalah kesehatan di daerah itu.
IA sampai pada ujung hidupnya. Tapi narasi kepergiannya tak berujung. Ia pergi dalam sunyi. Pamit dalam diam. Diam dan sunyi itu menjadi saksi terakhir ziarah hidupnya.
KOMISI Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta lembaga terkait memberikan pendampingan psikososial untuk saudara dan keluarga anak korban bunuh diri di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sebelum peristiwa tragis tersebut terjadi, korban sering meminta ibunya untuk melakukan pencairan dana Program Indonesia Pintar (PIP) untuk memenuhi kebutuhan sekolah.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti, menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas berpulangnya siswa tersebut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved