Jumat 30 Agustus 2019, 13:45 WIB

Kalsel Batasi Produksi Batu Bara

Denny Susanto | Nusantara
Kalsel Batasi Produksi Batu Bara

Antara
Kalsel membatasi produksi batu bara agar cadangan hasil tambang itu tidak habis pada 2030.

 

PEMERINTAH Provinsi Kalimantan Selatan akan membatasi produksi batu bara guna menjaga ketersediaan cadangan sumber energi bagi kebutuhan pembangkit dan industri dalam negeri. Produksi batu bara Kalsel pada 2018 mencapai 150 juta ton, dan tercatat sebagai daerah penghasil batubara terbesar kedua di Indonesia setelah Kalimantan Timur.       
Kepala Bidang Energi, Perencanaan dan Pelaporan, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalsel, Sutikno Jumat (30/8), mengatakan saat ini Pemprov Kalsel sedang menyusun Peraturan Daerah tentang Rencana Umum Energi Daerah (RUED).

"Dalam RUED yang sedang kita susun nantinya secara bertahap produksi batu bara akan dibatasi dan dikendalikan. Guna menjaga ketersediaan cadangan energi dalam negeri," tuturnya.

Berdasarkan hasil kajian, jika tidak dibatasi dengan produksi batu bara yang mencapai 150 juta ton per tahun maka pada 2030 cadangan batu bara Kalsel akan habis.

"Jika eksploitasi batu bara terus dilakukan secara masif, maka akan menjadi ironi nantinya Kalsel akan menjadi pengimpor batu bara," ujarnya.

Menurutnya dalam RUED tersebut akan diatur mengenai pengurangan produksi batubara dari 150 juta ton menjadi hanya 100 juta ton per tahun. Pembatasan produksi ini juga menjadi bagian upaya penataan sektor pertambangan dan lingkungan serta menjaga kestabilan harga batu bara di pasaran. Lebih jauh Sutikno mengatakan disamping mengandalkan batu bara Pemprov Kalsel juga terus menjajaki pemanfaatan energi terbarukan seperti gas, air, surya dan angin. Kalsel menargetkan pada 2050 mendatang komposisi pemanfaatan energi terbarukan ini mencapai 24,8 persen atau sekitar 2.000 megawatt dari total pemanfaatan energi 8.600 mw.

Kepala Bidang Minerba Dinas ESDM Kalsel, Gunawan Harjito, mengatakan saat ini komposisi penjualan batubara adalah 70% untuk ekspor dan 30% untuk kebutuhan dalam negeri.

"Ini memang harus dibatasi. Kalsel menjadi pemasok utama batubara untuk keperluan pembangkit Jawa-Bali, selain kebutuhan pembangkit dan industri di Kalsel sendiri," tuturnya.

baca juga: Pemkot Tasikmalaya Tak Punya Wewenang Tutup Pertambangan

Di Kalsel tersisa 222 Izin Usaha Pertambangan (IUP) ditambah beberapa perusahaan pemegang PKP2B dan sekitar 80-an perusahaan yang sudah aktif berproduksi. Terlebih terkait pembangunan ibu kota negara di Kalimantan diyakini kebutuhan energi akan semakin besar. Sehingga cadangan energi batu bara serta upaya menggarap potensi energi terbarukan perlu ditingkatkan. (OL-3)

 

Baca Juga

Antara/Basri Marzuki.

Harga Pupuk Nonsubsidi Melejit, Petani Sawit Babel Menjerit

👤Rendy Ferdiansyah 🕔Kamis 26 Mei 2022, 14:39 WIB
Harga pupuk KCL sebelumnya Rp300 ribu kini naik menjadi Rp850 ribu per karung. Harga NPK Kebomas dari Rp270 ribu per karung naik menjadi...
MI/Rommy Pujianto

Inilah Aksi-Aksi Satpam Bank Menjaga Keamanan Nasabah dan Karyawan

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 26 Mei 2022, 13:48 WIB
Dikenal ramah, murah senyum pada nasabah, satpam bank berikut memiliki keberanian yang tak diragukan demi keamanan...
MI/M Ghozi

Kesulitan Pupuk ZA Lantaran Keterlambatan Transportasi

👤Tosiani 🕔Kamis 26 Mei 2022, 13:36 WIB
Menurutnya, ada pergeseran tanam tembakau pada musim tahun ini, sehingga pemupukan juga bergeser dari April menjadi...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya