Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
Kabut asap yang bersumber kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Provinsi Riau, Minggu (28/7), kembali menyelimuti Kota Pekanbaru. Meski cukup pekat, kabut asap tidak terlalu menimbulkan bau menyengat seperti pada Kamis (24/7) lalu.
Berdasarkan pantauan Media Indonesia, kabut asap hasil pembakaran lahan sudah tampak sejak Sabtu (27/7) malam. Asap cukup pekat pada pandangan mata terlihat pada Minggu (28/7) pagi dengan kondisi langit biru dan awan terselimuti kabut putih.
Adapun bau asap tidak terlalu terasa saat tidak beraktivitas namun ketika berkendaraan sepeda motor bau sisa-sisa
pembakaran lahan itu sudah mulai menyengat hidung dan menyesakkan dada.
"Saya harus pakai masker karena tidak tahan bau kabut asap kalau naik motor. Sehari sebelumnya, kabut asap ini sempat hampir hilang dan saat ini kembali datang," ungkap Rika warga Jalan Nenas Pekanbaru, Minggu (28/7).
Kabut asap yang melanda Kota Pekanbaru diduga berasal dari Karhutla di sejumlah kabupaten. Saat ini kebakaran hebat sedang terjadi di Kabupaten Siak seluas 35 hektare (ha) dan Pelalawan seluas 5 ha. Sedangkan Karhutla di Kota Pekanbaru seluas 15 ha dan Kabupaten Kampar seluas 5 ha sudah berhasil dikendalikan tim pemadam.
Komandan Manggala Agni Daops Siak Ihsan Abdillah mengatakan Karhutla seluas 30 ha terjadi di Desa Sri Gemilang, Kecamatan Koto Gasib, Kabupaten Siak.
Kebakaran menghanguskan sebagian lahan PT Wahana Sawit Subur Indah (WSSI) yang bertekstur tanah gambut dengan pepohonan kelapa sawit dan semak belukar. Perusahaan sawit PT WSSI pada 2016 silam tercatat sudah pernah ditetapkan sebagai tersangka kasus Karhutla Riau.
"Pemadaman dilaksanakan pada satu tempat menggunakan mesin Max 3 sebanyak 2 unit. Upaya pemadaman dilakukan penyekatan antara yang sudah terbakar dan yang belum terbakar supaya api tidak menjalar dan meluas," jelas Ihsan,
Minggu (27/7).
Dia menjelaskan, jenis kebakaran pada lahan gambut terjadi di areal permukaan dan bawah tanah. Sebanyak puluhan petugas gabungan dari unsur Manggala Agni, TNI, Polri, Masyarakat Peduli Api (MPA), BPBD Siak, BPBD Riau, petugas pemadam PT WSSI, dan tim kantor kecamatan, masih bertukus lumus melakukan upaya pemadaman di lokasi.
Selain itu, upaya pemadaman Karhutla seluas 5 ha juga dilakukan di Kecamatan Dayun. Kebakaran di lokasi ini merupakan areal lahan masyarakat yang berdekatan dengan instalasi aliran pipa minyak bumi milik Badan Operasi Bersama (BOB) PT Bumi Siak Pusako (BSP) dan PT Pertamina Hulu.
Sementara kebakaran di Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan Riau terjadi berdekatan dengan kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Arah angin yang saat ini bertiup dari selatan ke utara diperkirakan bisa membawa asap
Karhutla di lokasi itu ke wilayah Kota Pekanbaru.(OL-09)
Awal 2026 yang seharusnya berada dalam periode musim hujan justru ditandai dengan lonjakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terutama di ekosistem gambut.
BMKG Stasiun Pekanbaru mendeteksi lonjakan signifikan titik panas di Provinsi Riau. Hingga Kamis pukul 07.00 WIB, jumlah hotspot tercatat mencapai 160 titik
Patroli pencegahan telah mulai digencarkan, khususnya di Provinsi Riau, untuk mengantisipasi peningkatan kerawanan karhutla.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Gelombang panas ekstrem melanda tenggara Australia. Enam kebakaran besar berkobar di Victoria, suhu tembus 48,9 derajat Celcius.
Cile dilanda krisis kebakaran hutan hebat. 20 orang tewas dan kota-kota di wilayah selatan hangus. Warga sebut tragedi ini lebih buruk dari tsunami.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved