Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
WARGA Ternate yang pada Senin (8/7) dini hari mengungsi akibat gempa berkekuatan 7 pada Skala Richter yang berpotensi tsunami di daerah itu dan sejumlah wilayah lainnya di Maluku Utara, Senin (8/7) pagi, mulai kembali ke rumah masing-masing.
"Tadi malam sesaat setelah setelah terjadi gempa yang terasa sangat kuat dan mendapat informasi bahwa berpotensi menimbulkan tsunami, saya dan seluruh anggota keluarga segera bergegas mengungsi ke daerah ketinggian di Kelurahan Tabahawa," kata salah seorang warga Ternate, Lutfi, di Ternate, Senin (8/7).
Lutfi yang rumahnya berada di Soa-Sio, salah satu kelurahan di Pantai Ternate bersama warga pesisir lainnya yang pada Senin (8/7) dini hari mengungsi, sebenarnya sudah mengetahui sejam setelah gempa bahwa peringatan tsunami dari BMKG dicabut. Akan tetapi, mereka memutuskan kembali ke rumah pada Senin (8/7) pagi agar tidak diliputi kekhawatiran pascabencana itu.
Warga Ternate lainnya, Rusmin, mengaku setelah terjadinya gempa lalu ia menyuruh anggota keluarganya untuk mengungsi ke daerah ketinggian, sedangkan dirinya tetap bertahan di rumah untuk mengantisipasi kemungkinan adanya pencurian yang biasa terjadi jika ada kepanikan masyarakat.
Baca juga: Maluku Utara dan Sulut Diguncang Gempa
Warga Ternate tidak mengalami kesulitan mengungsi jika terjadi gempa dan berpotensi tsunami, seperti Senin (8/7) dini hari, karena daerah ketinggian di Ternate relatif dekat dari pesisir.
Selain itu, mereka sudah mendapat sosialisasi dari berbagai pihak mengenai langkah yang harus dilakukan jika terjadi gempa dan berpotensi tsunami.
Dari Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ternate diperoleh keterangan bahwa sejauh ini belum diperoleh laporan dari masyarakat, baik yang di Pulau Ternate maupun tiga pulau lainnya di Kota Ternate, mengenai adanya korban jiwa dan kerusakan fisik akibat gempa 7 SR itu.
Namun, BPBD terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk seluruh lurah di Kota Ternate, serta menurunkan tim ke berbagai wilayah untuk memastikan kondisi terakhir pascagempa yang melanda daerah itu dan wilayah lainnya di Malut, Senin (8/7) dini hari.
Kepala BMKG Ternate Kustoro Hariyatmoko menyebutkan gempa yang semula tercatat 7,1 SR, kemudian dikoreksi menjadi 7,0 SR berpusat di Laut Maluku, tepatnya di 0,50 Lintang Utara dan 126,17 Bujur Timur atau 136 kilometer barat daya Ternate pada kedalaman 10 kilometer.
Gempa yang disebabkan pergeseran lempeng mayau itu dirasakan di sejumlah wilayah di Malut, seperti Ternate, Tidore Kepulauan, dan Halamhera Barat dengan kekuatan 4 MMI serta Halmahera Utara dan Kabupaten Pulau Morotai dengan kekuatan 3 MMI.
BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami pascagempa tersebut dengan wilayah yang berpotensi terdampak tsunami adalah sejumlah wilayah di Malut dan Sulawesi Utara. Namun, sejam kemudian peringatan dini itu dicabut. (OL-2)
BMKG Ambon mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi hingga 4 meter di Laut Arafura dan perairan Maluku lainnya. Berlaku 8-12 Januari 2026.
Potensi yang ada harus dimaksimalkan untuk meningkatkan pendapatan daerah, dan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Di Ambon, Dubes Brazier mengunjungi Pemakaman Commonwealth di Ambon, untuk meletakkan karangan bunga di tugu peringatan bagi warga Australia yang gugur dalam peperangan di Indonesia.
BADAN Gizi Nasional (BGN) melaksanakan Pelatihan Petugas Penjamah Pangan pada Dapur Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) untuk mitigasi mencegah keracunan makanan MBG
Sementara itu, bibit siklon tropis 93W di timur Filipina berpotensi persisten dengan arah gerak ke barat laut, membawa dampak di wilayah timur Indonesia.
Dengan adanya sinergi antar level pemerintahan dan dukungan anggaran yang berkesinambungan, maka diharapkan dapat melahirkan atlet tangguh.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved