Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Bekas Pembuangan Limbah Disulap Jadi Objek Wisata

Liliek Dharmawan
10/5/2019 15:30
Bekas Pembuangan Limbah Disulap Jadi Objek Wisata
Paguyuban Wisata Jengkonang (PWJ) Desa Kalibagor, Kecamatan Kalibagor, Banyumas, Jawa Tengah, membuka wisata baru Lorong Blothong(MI/Liliek Dharmawan)

LORONG selebar 2 meter dengan ketinggian 1,5 meter di Desa Kalibagor, Kecamatan Kalibagor, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng), itu sejatinya gelap.

Hanya ada aliran air pada lorong yang dibangun pemerintah Belanda pada 1839, berbarengan dengan pembangunan pabrik gula Kalibagor. Sebab, terowongan itu digunakan sebagai aliran pembuangan limbah pabrik gula yang mengarah ke Kali Serayu.

Berdasarkan cerita masyarakat setempat, terowongan itu menjadi tempat persembunyian warga di zaman Jepang. Tetapi fungsi utamanya sebagai saluran pembuangan limbah masih berjalan. Ketika pabrik gula bersejarah itu tutup sekitar tahun 1990, lorong masih berfungsi sebagai lorong aliran air dari Kali Pelus menuju ke Sungai Serayu.

Senin (6/5) lalu, warga yang tergabung dalam Paguyuban Wisata Jengkonang (PWJ) Kalibagor membuka terowongan tersebut sebagai obyek wisata. Persiapannya membutuhkan waktu selama satu bulan, dengan melakukan pembersihan dan pembuatan taman di sekitar terowongan.

"Sejak dibuka Senin lalu, ternyata banyak masyarakat antusias datang ke sini. Terutama sore hari sambil ngabuburit atau menunggu buka puasa," kata Ketua PWJ Kalibagor Sumadi.

Baca juga: Kota Semarang Daur Ulang Objek Wisata Lama

Kini, terowongan sepanjang 80 meter itu dinamakan Wisata Lorong Blothong. Di sepanjang lorong tersebut diberi lampu warna warni. Ada warna merah, biru, hijau dan putih. Air yang masih terus mengalir di sepanjang terowongan semakin membuat indah.

Refleksi warna dari air yang mengalir menambah keindahan suasana Lorong Blothong. Pengunjung pun tak melewatkan kesempatan swafoto dengan latar lampu warna-warni dan refleksi di air. Di bagian ujung lorong, pengunjung disuguhkan taman.

Untuk masuk ke tempat wisata ini, PWJ menarik tiket cukup murah hanya Rp3 ribu. Selain lorong, di sekitar lokasi warga juga menjajakan berbagai macam takjil. Sehingga bagi yang ngabuburit di lokasi setempat bisa langsung membeli takjil untuk buka puasa.

Salah seorang penggagas Wisata Lorong Blothong, Bambang Kuswanto, mengatakan kalau blothong itu bahasa Banyumasan yang berarti limbah.

"Dulu, lokasi yang sekarang menjadi pintu masuk merupakan tempat pembuangan sampah warga. Kemudian dibersihkan karena kondisinya sangat kumuh. Sekarang bisa dilihat hasilnya," ujar Bambang.

Sementara seorang pengunjung, Ananda, penasaran dengan wisata Lorong Blothong. Ia mengetahui tempat tersebut dari media sosial dan langsung datang ke lokasi untuk melihat.

"Pada awalnya memang gelap dan ada air yang mengalir. Awalnya pelan-pelan jalannya, ternyata jalan di lorong tidak licin dan di dalam cukup bagus karena ada lampu-lampu yang dipasang. Bangunannya seperti benteng-benteng pertahanan Belanda. Mungkin karena pembuatnya sama, jadi struktur bangunannya tidak berbeda. Puas ke sini sambil ngabuburit. Tiket masuk hanya Rp3 ribu, murah meriah," tutur Ananda.(OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya