Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Japerdas Sosialisasikan Antihoaks dan Kampanye Damai

Bayu Anggoro
07/4/2019 15:45
Japerdas Sosialisasikan Antihoaks dan Kampanye Damai
Kelompok Japerdas mengampanyekan antihoaks dan kampanye damai(MI/Bayu Anggoro)

JARINGAN Pemilih Cerdas (Japerdas) Jawa Barat melakukan sosialisasi kampanye damai dan penolakan terhadap hoaks dan fitnah jelang Pemilu Presiden 2019, di kawasan bebas kendaraan (car free day) Dago, Bandung, Minggu (7/4). Acara ini dihadiri 50 peserta yang terdiri dari komunitas mahasiswa, organisasi kepemudaan, aktivis sosial dan masyarakat umum.

Dalam aksinya, mereka memperlihatkan sejumlah spanduk dan alat peraga lainnya yang mengajak seluruh warga agar lebih cerdas dalam menyikapi informasi dan tidak mudah dipecah belah. Selain itu, mereka pun berinteraksi dengan sejumlah pengunjung car free day untuk menginformasikan peredaran hoaks dan fitnah terkait pemilu.

Koordinator Japerdas Jawa Barat, Sakti Herliansyah, mengatakan, jelang pemilu, peredaran informasi menyesatkan itu semakin menjadi di masyarakat. Selain membodohi masyarakat, informasi menyesatkan bisa merusak keutuhan bangsa sehingga harus ditangani serius.

"Ini bentuk dari keresahan kami. Kami berasal dari beberapa masyarakat yang concern untuk menjaga persatuan dan kualitas pesta demokrasi," kata Sakti.

Dia menjelaskan, peredaran hoaks ini paling banyak terkait pemilu presiden yang diikuti dua pasang kandidat.

"Itu bukan rahasia lagi ketika kedua kubu itu saling menjatuhkan, hoaks di mana-mana. Ini pemecah bangsa," ungkapnya seraya menyebut peredaran hoaks paling banyak dilakukan di media sosial.

Baca juga: TKN: Rakyat Apresiasi Kerja Pemerintah dan Antihoaks

Sebagai contoh, lanjutnya, hoaks terkait calon presiden banyak dilakukan terutama di media sosial. Isinya seakan-akan dari kandidat yang saling berbalas pantun untuk meraih suara masyarakat.

"Sudah sejak dulu Presiden Joko Widodo dituduh sebagai PKI, anti aseng dan kriminalisasi ulama. Begitu juga ke Prabowo, pelanggar HAM, akan mengubah sistem. Itu semua belum tentu benar," tuturnya.

Oleh karena itu, dia mengajak masyarakat khususnya generasi muda untuk cermat dalam memilah informasi yang diterima.

"Kami akan merangkul semua masyarakat agar semakin banyak yang tercerahkan," imbuhnya seraya mengimbau masyarakat pengguna internet khususnya generasi muda agar meningkatkan literasi.

Dosen ilmu politik Unpad yang juga Ketua Japerdas Jawa Barat, Caroline Paskarina, menambahkan, kegiatan seperti ini tidak hanya dilakukan di Bandung, tetapi juga di Maluku, Tasikmalaya dan Cimahi.

"Ini kerja sama antara Departemen Politik dan Pemerintahan UGM dengan Fisip Unpad," tutur Caroline.

Sosialisasi ini sudah dilakukan sejak tahun lalu agar semakin banyak warga yang tercerdaskan. Caroline menilai, generasi muda menjadi sasaran empuk peredaran hoaks dan fitnah politik. Hal ini karena belum banyaknya pemahaman mereka tentang politik, sehingga dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab untuk meraup sejumlah keuntungan.

"Yang tak kalah mengkhawatirkan, ini berpotensi untuk menimbulkan apatis dari mereka," tukasnya.

Oleh karena itu, dia berharap seluruh generasi muda memiliki sikap kritis yang baik sehingga bisa selektif dalam memilah informasi.

"Harus selektif dalam melihat informasi, harus bisa menilai informasi, dan menggunakan informasi untuk pengambilan keputusan dalam memilih siapa," pungkasnya.(OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya