Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Bertepatan Rabu Trewah, Partisipasi Pemilih Dikhawatirkan Menurun

Palce Amalo
11/3/2019 18:00
Bertepatan Rabu Trewah, Partisipasi Pemilih Dikhawatirkan Menurun
( MI/PALCE AMALO)

PARTISIPASI pemilih di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) dikhawatirkan menurun lantaran penyelenggaraan pemilu 17 April 2019 bertepatan dengan perayaan Rabu Trewah.

Rabu Trewah ialah awal pembuka perayaan Tri Hari Suci Paskah yang dirayakan umat Katolik, tidak hanya di Flores Timur tetapi juga di seluruh Indonesia. Saat itu, Kota Larantuka, ibu kota Flores Timur sepi atau tidak ada aktivitas apapun.

Anggota KPU NTT Yosafat Koli mengatakan pihaknya telah menyampaikan rangkapan perayaan jelang paskah di daerah itu kepada KPU RI, namun sejauh ini belum ada solusi.

Sebelumnya Keuskupan Larantuka dan Bupati Flores Timur minta KPU RI menunda pelaksanaan pemilu karena bertepatan dengan perayaan hari besar keagamaan. Namun KPU RI berpendapat tidak ada alasan menunda pemilu di daerah itu dengan alasan keagamaan.

"Dari diskusi bersama KPU RI, sampai undang-udang yang terbaru belum ada alasan penundahaan pemilu dengan alasan keagamaan," kata Yosafat Koli, Senin (11/3).

Menurutnya KPU RI masih melakukan koordinasi terkait permintaan uskup dan bupati tersebut. Akan tetapi tambah Dia, KPU NTT siap menggelar pemilu jika KPU RI menyebutkan penyelengaraan pemilu di Flores Timur tidak ditunda. 

"Kami tunduk kepada KPU RI termasuk jika pemilu di Flores Timur ditunda. KPU NTT juga siap menjalankan pemilu di Rabu Trewah," ujarnya.

 

Baca juga: Tingkat Partisipasi Pemilih Jadi Perhatian Khusus

 

Sementara itu dalam sosialisasi pemilu di Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang, Yosafat mengatakan KPU terus mendorong warga untuk memberikan hak suaranya di TPS pada pemilu 17 April.

Langkah KPU bertujuan mendorong partisipasi pemilih mencapai target nasional yakni 77,5%. Dia menyebutkan partisipasi pemilih di Nusa Tenggara Timur masih rendah, seperti di Kabupaten Malaka, partisipasi pemilih hanya 60%.

Dia menyebutkan partisipasi pemilih tertinggi terjadi pada pemilu 1999 sebesar 98%. Di pemilu berikutnya, partisipasi pemilih terus menurun. 

Untuk itu program 'KPU Goes to Campus' seperti yang digelar di Sekolah Tinggi Partoral tersebut juga bertujuan meningkatkan partisipasi pemilih serta memberikan edukasi kepada mahasiswa tentang tata cara pencoblosan.

Saat kegiatan sosialisasi tersebut, Yosafat juga memberikan penjelasan mengenai warna surat suara pemilu dan cara mencoblos yang benar. Pada kesempatan tersebut, sejumlah mahasiswa menanyakan mengenai prosedur pindah memilih dan syarat pemilih, namun ada juga mahasiswa yang belum terdaftar dalam daftar pemilih tetap (DPT). (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dwi Tupani
Berita Lainnya