Sabtu 09 Maret 2019, 13:59 WIB

Difabel dan Lansia Diprioritaskan saat Pemungutan Suara

Ardi Teristi Hardi | Nusantara
Difabel dan Lansia Diprioritaskan saat Pemungutan Suara

MI/Ardi Teristi Hardi

 

SEKITAR pukul 09.10, Sarwadi tiba di tempat pemungutan suara (TPS) yang ada di halaman Goa Selarong, Kecamatan Pajangan, Bantul, DIY. Dengan tubuh membungkuk dan berjalan tertatih-tatih, lelaki berusia sekitar 75 tahun ini digandeng putranya, Hadi.

Karena sudah lanjut usia dan tubuh yang renta, Sarwadi pun dipersilakan oleh Ketua KPPS untuk langsung mendaftar. Tidak tunggu lama, petugas KPPS pun memanggil namanya agar segera mengambil surat suara.

Baca juga: Pencarian Korban Longsor di Manggarai NTT Dilakukan Secara Manual

Hadi pun mengambil surat suara tersebut dan menjemput ayahnya menuju bilik  suara. Lima lembar surat suara dan ukuran surat suara yang besar membuatnya lama di dalam bilik suara. Dari kejauhan, sang anak yang mendampingi tampak membantu membukakan surat suara dan memberi tahu cara mencoblos surat suara.

Sekitar enam menit, Sarwadi berada di dalam bilik suara. Ia pun kemudian keluar dan memasukan kelima surat suara ke lima kotak suara yang ada. Setelah itu, ia pun menyelupkan salah satu jarinya ke tempat tinta. "Ya sudah sering ikut Pemilu. Tidak menghitung saya," kata Sarwidi dengan suara terbata-bata usai menggunakan hak suaranya, Sabtu (9/3).

Ia pun mengaku tidak kesulitan menggunakan hak pilihnya. Hanya saja, Sarwidi tidak tahu, pencoblosan yang baru saja dilakukannya hanyalah simulasi. "Jadi besok tanggal 17 April masih nyoblos lagi?" tanya Sarwidi polos ketika diberitahu bahwa pencoblosan tersebut hanya simulasi.

Ilham Saputra, salah satu komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI mengatakan simulasi nasional ini yang terakhir dilakukan KPU RI. Dari pantauannya, Ilham mengingatkan agar Ketua KPPS menandatangani semua surat suara yang akan digunakan pemilih agar surat suara tersebut sah.

Menurut dia, dari simulasi sebelumnya di Bogor dengan jumlah pemilih 300 orang, penghitungan suara di plano bisa selesai pukul 23.30. Namun,  pekerjaan di TPS bisa lebih lama karena harus mengisi formulis C1 yang harus diberijan kepada saksi dari parpol-parpol dan pengawas TPS.

Anggota Bawaslu RI Rahmat Bagja menilai, sisi aksesibilitas simulasi nasional di Goa Selarong bagus. Ia hanya meminta KPPS memperhitungkan kemungkinan menjaga surat suara apabila cuaca hujan.

Baca juga: Khofifah Instruksikan OPD Terlibat Tangani Banjir di Jatim

"Untuk simulasi ini, catatan lainnya, saat memilih di bilik suara bisa terlihat dari samping luar," kata dia. Hal tersebut perlu diperbaiki karena menyangkut kerahasiaan pemilihan.

Simulasi ini diharapkan bisa menjadi gambaran proses Pemilu lima kotak suara pada 17 April 2019 mendatang. (OL-6)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Fransisco Carolio

Menteri PUPR Minta Perbaikan Tol Trans Sumatera Tuntas Akhir April

👤Fetry Wuryasti 🕔Sabtu 22 Januari 2022, 12:40 WIB
Beberapa segmen jalan harus dilakukan rekondisi dan rekonstruksi, termasuk levelling oprit jembatan yang mengalami penurunan karena berada...
ANTARA FOTO/Umarul Faruq

BMKG: Sulut Diguncang Gempa dengan Magnitudo 6,1

👤Mediaindonesia 🕔Sabtu 22 Januari 2022, 10:15 WIB
Dalam informasi yang diterima dari BMKG di Jakarta, Sabtu, lokasi gempa berada di 3.67 lintang utara dan 126.82 bujur...
DOK Pribadi.

Wapres PNLG Tunjukkan Pengelolaan Kawasan Pesisir Jelang Pertemuan Oktober

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 22 Januari 2022, 08:58 WIB
Sejumlah keberhasilan itu tampak pada program pembangunan rumah untuk keluarga nelayan di daerah itu, termasuk bantuan perahu hingga jaring...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya