Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
PROSES pencarian enam korban yang masih tertimbun tanah longsor di kampung Culu, Desa Tondong Belang, Kecamatan Mbeliling, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) masih dilakukan secara manual.
"Saat ini proses pencarian dilakukan oleh masyarakat secara manual, karena alat berat belum bisa masuk ke lokasi akibat jalan dan beberapa jembatan rusak," kata Kabag Humas Pemkab Manggarai Barat, Paulus Jeramun seperti dilansir dari Antara, Sabtu (9/3).
Baca juga: Khofifah Instruksikan OPD Terlibat Tangani Banjir di Jatim
Dia mengemukakan hal itu, berkaitan dengan perkembangan proses pencarian 6 korban tanah longsor yang belum ditemukan. Enam korban yang belum ditemukan adalah Margareta Ersi, 40, Hilariani Jelita Mensi, 12, Yoseva Nelti, 6, Paulinus Salim, 60, Remigius Sera, 28, Fransiska Tania, 8 bulan.
Menurut dia, saat ini peralatan berat sedang berupaya membuka jalan alternatif menuju lokasi, agar proses pencarian bisa dilakukan dengan menggunakan alat berat.
Dia mengatakan, peralatan berat sangat dibutuhkan di lokasi mengingat tumpukan tanah akibat longsor terlalu tinggi dan padat, sehingga menyulitkan warga mencari secara manual.
"Mudah-mudahan hari ini, sudah bisa ada akses jalan untuk alat berat menuju lokasi," katanya.
Jika peralatan berat sudah bisa sampai ke lokasi kejadian, maka proses pencarian bisa dilakukan lebih mudah. Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda kampung Culu di Manggarai Barat itu menewaskan dua warga, dan enam warga lainnya masih hilang atau tertimbun longsor.
Baca juga: Bom Sisa Perang Dunia II Ditemukan di Papua
"Dari hasil pendataan sementara, ada delapan orang tertimbun tanah longsor. Dua sudah ditemukan, sementara enam lainnya belum ditemukan. Dua korban yang sudah ditemukan dalam keadaan meninggal dunia itu yakni Hironimus Rius, 50, dan Nardus Rifa, 13.
Nardus Rifa merupakan siswa kelas 2 sekolah menengah pertama (SMP), yang ditemukan petugas tidak jauh dari kediaman mereka. (Ant/OL-6)
HUJAN lebat disertai angin kencang yang melanda Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (24/1) dini hari nyaris merenggut nyawa seorang anak perempuan.
Tanah longsor terjadi pada Kamis (22/1) sore akibat curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak pagi hari.
Sebuah pertikaian keluarga berujung pada tewasnya seorang pria berusia 55 tahun, berinisial MG di Rumah Adat Gendang Palit. Korban diduga menjadi korban penganiayaan oleh tiga keponakan.
Penundaan pelayaran ini sejalan dengan peringatan dini cuaca maritim yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Tenau Kupang.
PULUHAN siswa Sekolah Dasar Inpres (SDI) di Pilau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), harus menempuh proses belajar di gedung yang rusak parah.
Dunia usaha di Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan optimisme kuat memasuki awal 2026, seiring meningkatnya investasi dan membaiknya aktivitas ekonomi pada akhir 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved