Headline

Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.

Alissa Wahid: Jika Gus Dur Masih Hidup, Dia takkan Golput

Furqon Ulya Himawan
23/2/2019 16:26
Alissa Wahid: Jika Gus Dur Masih Hidup, Dia takkan Golput
(MI/ADAM DWI )

PUTRI sulung Presiden Keempat Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Alissa Wahid, percaya jika Gus Dur masih hidup, akan menggunakan hak pilihnya dalam Pemilihan Presiden pada April nanti.

Hal itu disampaikan Alissa Wahid usai menjadi pembicara dalam diskusi peringatan Haul Gus Dur ke 9 dengan tema Ziarah Pemikiran Gus Dur: Menguatkan Narasi Pribumisasi Islam Di Indonesia, di UGM, Yogyakarta, Sabtu (23/2).

Baca juga: BRG Benarkan belum Intervensi Pulau Rupat

Menurut putri Gus Dur bernama lengkap Alissa Qotrunnada Munawaroh ini, pada Pilpres mendatang, lebih baik masyarakat menggunakan hak pilihnya untuk memilih pemimpin Indonesia yang akan datang karena ada calon yang bisa dipilih, berbeda dengan masa Orde Baru.

"Bagi saya saat ini, lebih baik memilih untuk menentukan wajah kepemimpinan ke depan karena ada calonnya yang lebih dari satu kalau Orde Baru kan gak ada (pilihan) calonnya," katanya.

Alissa pun meyakini, jika Gus Dur masih hidup, pasti akan menentukan pilihan dan mengajak untuk tidak Golput. Terlebih jika melihat para calon membawa isu soal idiologi Islam.

"Saya meyakini itu. Juga karena ada faktor-faktor misalnya soal ideiologi Islam yang diusung masing-masing calon, itu pasti akan membantu Gus Dur berbeda pandangannya saat ini," imbuh Alissa.

Menurut Alissa, Gus Dur sendiri membela orang yang Golput karena Golput adalah hak apalagi di masa Orde Baru memang tidak ada pilihan. Namun pada 1998 Gus Dur tidak Golput dan pada 2004 ikut terlibat politik praktis.

"(Orde Baru) calonnya tidak ada yang berkontestasi, adanya itu atau golput. Kalau sekarang kan ada kontestasi. Jadi saya masih berpikir, kalau tidak dapat yang ideal, maka kita dapatkan yang paling mendekati ideal menurut kita," terang Alissa.

Munculnya wacana Golput dalam Pilpers mendatang, menurut Alissa, merupakan bentuk perlawanan. Kedua calon masih kurang memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang strategi atau konsep benegara seperti apa yang ditawarkan, mereka juga masih kurang memberikan alasan kepada warga negara untuk menatapkan pilihan, baik calon 01 maupun 02.

"Yang ada hanya saling serang dan saling hajar menunjukkan kelemahan, apalagi sekarang kedunya menggunakan simbol agama. Jadi banyak yang muak dan tidak bisa melihat apa bedanya idiologi demokrasi yang dibawa seperti apa, atau kebijakan ekonomi seperti apa yang mereka usung, kan
gak kelihatan," tegasnya. (OL-6)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya