Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Ketua ABMI Sebut Petani Bawang Brebes Tangguh

Supardji Rasban
14/2/2019 10:02
Ketua ABMI Sebut Petani Bawang Brebes Tangguh
(MI/Supardji Rasban)

KASUS petani bawang merah di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah (Jateng), Mohammad Subhan yang menangis di hadapan Calon Wakil Presiden (Capres) nomor urut 02 Sandiaga Uno saat curhat tentang harga bawang merah yang turun sehingga menyebabkan dia mengalami kerugian di Desa Krasak, Kecamatan/Kabupaten Brebes pasa Senin (11/2), masih menjdi perbincangan.

Ketua Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Pusat, Juwari, mengaku pihaknya kenal dan tahun betul sosok Subhan. Namun, ABMI kurang sependapat dengan apa yang disampaikan Subhan kepada Sandiaga.

Juwari menyampaikan petani bawang merah Brebes itu tangguh dan tidak cengeng.

"Petani Bawang Merah Brebes ini dikenal tangguh, dan ulet. Keuletan dan ketangguhan petani Brebes telah diakui banyak pihak," ujar Juwari, Kamis (14/2).

Juwari bertutur dalam kondisi apapun, mereka tetap menanam bawang merah sebagai penopang ekonomi rumah tangganya. Boleh dibilang, bawang merah telah mandarah daging sebagai komoditas andalan brebes.

"Yang jelas, para petani bawang merah Brebes tidak mau dipolitisasi dan menolak segala jenis intervensi politik," terang Juwari.

Baca juga: Subhan, Petani Bawang yang Dianggap Cengeng

Dia menjelaskan, luas panen tanaman bawang merah di Brebes pada Januari-Februari mencapai 9.000 hektare (Ha). Sedangkan luasan panen yang begitu besar turut menekan harga di tingkat petani.

"Beberapa daerah panen bareng pada Februari. Jadi wajar jika harga tertekan. Namun, kami yakin harga akan terus membaik. Saya menyarankan agar pedagang besar bantu membeli hasil petani, disimpan untuk dikeluarkan saat Maret-April nanti, petani juga bisa pergunakan gudang penyimpanan bawang, keluarkan sedikit-sedikit," pintanya.

Selain itu, sambung Juwari, kerja sama dengan industri pengolahan juga perlu ditingkatkan.

"Saya mohon Bulog dan Kemendag dapat membantu menyerap bawang merah petani dan menyimpannya di Gudang CAS (controlled atmosphere storage)," ucapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Subhan, 45, petani asal Desa Tegalglagah, Kecamatan Bulakamba, Brebes, tidak kuasa menahan tangis saat curhat kepada Sadiaga Uno atas nasibnya.

Akibat harga bawang anjlok, ia terancam kehilangan rumah orangtuanya yang dijadikan jaminan pinjaman di bank. Hal itu karena hasil panen yang didapat tidak bisa untuk menutup pinjaman untuk modal tanam bawang.

Namun, curhatannya itu malah dituding di media sosial sebagai sebuah sandiwara karena sebenarnya ia bukan petani.

Subham pun sudah mengklarifikasi surat terbuka yang kemudian beredar luas di group WhatsApp maupun medsos, bahwa dia mengaku tidak menulis surat yang berisi permintaan maaf kepada publik.

"Saya tidak tahu itu yang menulis siapa. Apa yang saya lakukan di hadapan Pak Sandi Uno benar-benar saya alami," kata Subhan yang mantan Komisioner KPU Brebes tersebut.(OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya