Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
SERANGAN nyamuk Aedes Aegypti atau Demam Berdarah Dangue (DBD) masih terus terjadi di 39 Kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya. Penyebab utamanya karena tingkat kesadaran di masyarakat untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) masih rendah, terutama kebersihan lingkungan yang kurang bersih.
"Jadi saat ini hampir seluruh wilayah berada di Kabupaten Tasikmalaya masuk endemis DBD. Masyarakat sendiri saat ini kurang menyadari berkaitannya dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Seperti halnya menguras bak mandi, menutup penampungan air, dan menimbun barang bekas sebagai media genangan tetapi tindakan PSN sangat murah meskipun semua kegiatan yang dilakukan oleh warga masih kesulitan," kata Kepala Bidang Pencengahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Kabupaten Tasikmalaya, Atang Sumardi, Sabtu (26/1).
Atang mengatakan serangan nyamuk Aedes Aegypti atau DBD telah terjadi pada musim hujan. Saat ini tercatat 6 orang yang masih dalam perawatan berada di RS Singaparna Medika Citrautama (SMC) dan RSUD dr Soekardjo, Kota Tasikmalaya.
Wabah DBD dipastikan akan mengalami peningkatan, karena masing-masing Puskesmas berada di Kabupaten Tasikmalaya telah merawat pasien dengan kasus yang sama.
"Tingkat kesadaran masyarakat melaksanakan PSN selama ini masih rendah, tetapi petugas juga telah berupaya menyosialisasikannya agar mereka bisa melakukan kegiatan supaya serangan DBD tidak terjadi," ungkapnya.
Baca juga: Cegah DBD, Klaten Intensifkan Program RW Sehat
Ia mencontohkan, setiap petugas di beberapa Puskesmas juga tengah berupaya memberikan obat jentik secara gratis. Tujuannya supaya warga menaburkannya di rumah mereka masing-masing.
"Siklus lima tahunan serangan DBD di Kabupaten Tasikmalaya dulu hanya menimpa beberapa kecamatan tetapi sekarang ini hampir menyeluruh," ujarnya.
Ia mencatat, endemis DBD di Kabupaten Tasikmalaya meliputi Kecamatan Singaparna, Ciawi, Cineam, Salopa, Jamanis, Pageurageung, Cikalong, Cipatujah, Rajapolah, Karangnunggal, Manonjaya, Bojonggambir, Gunungtanjung, Padakembang, Sukaratu, Cisayong, Sukahening, Taraju, Puspahiang dan Sodonghilir. Untuk itu, Dinas Kesehatan sendiri telah membentuk Gerakan Masyarakat Anti Jentik (Gema Antik).
Sementara itu, Kepala Seksi Pencengahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan, Kota Tasikmalaya, Juhandi, memprediksi kasus DBD akan mengalami peningkatan. Untuk itu Dinas Kesehatan sendiri selama itu telah membentuk Gema Antik yang bertujuan supaya warga melakukan langkah agar lingkungannya tetap bersih.
"Dengan membentuk Gerakan Masyarakat Anti Jentik (Gema Antik) supaya masyarakat sadar dengan kebersihannya terutama melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui Mengurus, Menutup dan Mendaur Ulang dan Mengubur barang bekas (M3).
Ia pun menyatakan hingga kini pihaknya belum melakukan fogging (pengasapan). Akan tetapi di sisi lain, masyarakat belum sadar dalam kebersihan lingkungannya. (OL-3)
KASUS demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung, pada Maret mengalami peningkatan dibandingkan Februari.
SEPANJANG periode Januari hingga Maret 2026, tercatat sebanyak 44 warga di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, positif terserang Demam Berdarah Dengue (DBD).
Kemitraan ini bertujuan untuk memperkuat pencegahan, kesiapsiagaan, dan ketahanan masyarakat terhadap bahaya demam berdarah melalui aksi nyata berbasis komunitas.
Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Tasikmalaya petugas kesehatan dan beberapa puskesmas harus terlibat menggerakan masyarakat supaya lingkungan bersih.
Kementerian Kesehatan menerapkan teknologi Wolbachia untuk menekan penyebaran demam berdarah dengue (DBD).
Data menunjukkan bahwa kelompok umur 15-44 tahun menyumbang 42% dari total kasus dengue, sementara 41% kematian justru ditemukan pada anak-anak usia 5-14 tahun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved