Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Upaya Pramono Atasi Banjir Jakarta Dinilai Sudah Tepat

Akmal Fauzi
26/1/2026 22:48
Upaya Pramono Atasi Banjir Jakarta Dinilai Sudah Tepat
Ilustrasi(Antara)

KETUA Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (KATAR), Sugiyanto (SGY), menegaskan bahwa penjelasan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo terkait banjir Jakarta pada Januari 2026 sudah tepat dan berbasis data ilmiah.

Ia menilai kritik yang menyudutkan penjelasan gubernur tersebut keliru karena tidak menempatkan peristiwa banjir ekstrem dalam konteks yang utuh. Menurutnya, curah hujan ekstrem yang mencapai 200 hingga 267 milimeter per hari menjadi faktor utama meluasnya genangan di berbagai wilayah Jakarta, jauh melampaui kondisi normal.

SGY menilai penjelasan Gubernur Pramono yang menyoroti hujan ekstrem sebagai pemicu banjir Januari 2026 tidak dapat dipahami secara parsial. Ia mengakui Jakarta memang memiliki persoalan banjir struktural yang kompleks, namun dalam peristiwa tersebut hujan ekstrem merupakan penyebab langsung yang tidak terbantahkan.

‎"Dengan curah hujan setinggi itu, sangat logis jika sistem drainase dan pompa air tidak mampu bekerja secara optimal. Gubernur menjelaskan sebab utama peristiwa banjir yang terjadi, bukan menutup mata terhadap persoalan tata kelola jangka panjang," kata SGY dalam keterangan tertulis, Senin (26/1).

‎Ia menjelaskan, secara geografis dan historis, Jakarta menghadapi banjir akibat tiga faktor utama, yakni banjir kiriman dari wilayah hulu, rob di kawasan pesisir, serta curah hujan tinggi dan berkepanjangan. Dalam kasus Januari 2026, faktor hujan ekstrem menjadi dominan.

‎SGY mengacu pada klasifikasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyatakan hujan ekstrem terjadi ketika curah hujan melebihi 150 milimeter per hari. Sementara itu, rata-rata curah hujan harian Jakarta dalam kondisi normal hanya sekitar 10–20 milimeter.

‎"Artinya, hujan 200 hingga 267 milimeter per hari setara lebih dari sepuluh kali lipat kondisi normal. Secara ilmiah, penjelasan tersebut tidak bisa dibantah," ucapnya.

‎Terkait Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), SGY menyebut, kebijakan itu juga kerap disalahpahami. Ia menegaskan, OMC bukan bertujuan menghentikan hujan, melainkan mengalihkan awan hujan agar tidak turun di daratan Jakarta.

‎“OMC merupakan langkah mitigasi jangka pendek dan menengah dalam situasi darurat cuaca ekstrem. Kebijakan ini bersifat teknis, terukur, dan dilakukan dengan perhitungan matang oleh lembaga terkait,” ujarnya.

SGY menilai, respons Pemprov DKI Jakarta dalam penanganan banjir sudah berjalan cepat dan terarah. Sejumlah kebijakan darurat diterapkan, mulai dari pengaturan kerja dari rumah dan pembelajaran jarak jauh hingga pengerahan lebih dari seribu pompa air di titik rawan banjir.

‎Selain penanganan darurat, pemerintah juga tetap menjalankan strategi jangka menengah dan panjang melalui normalisasi sejumlah sungai, seperti Ciliwung, Krukut, dan Cakung Lama, guna meningkatkan kapasitas aliran air.

‎SGY mengapresiasi, langkah Gubernur Pramono yang turun langsung ke lapangan untuk meninjau lokasi terdampak banjir sekaligus memastikan distribusi bantuan logistik dan kebutuhan dasar warga berjalan dengan baik.

‎Menurutnya, mulai surutnya genangan di banyak wilayah serta pulihnya layanan publik, termasuk operasional transportasi umum, menjadi indikator bahwa penanganan darurat dilakukan secara efektif.

‎"Secara keseluruhan, langkah Gubernur Pramono mencerminkan respons cepat, kebijakan teknis yang terukur, serta strategi jangka menengah dan panjang yang sejalan dengan prinsip manajemen bencana. Karena itu, kritik yang menyebut penjelasan gubernur keliru jelas tidak tepat sasaran," pungkasnya. (P-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya