Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH Provinsi DKI Jakarta mengungkapkan bahwa penduduk resmi yang sudah teregistrasi secara adminduk hanya 11 juta orang.
Namun merujuk dari laporan global World Urbanization Prospects (WUP) dari PBB, secara fungsional penduduk meningkat drastis hingga 42 juta orang.
Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Chico Hakim menjelaskan setiap harinya jutaan orang dari 8 kota/kabupaten sekitar Jakarta pergi beraktivitas ke Ibu Kota.
"Kota Bogor, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Bogor, Tangerang Selatan, Depok, Kota Bekasi, Kota Tangerang, Kabupaten Bekasi," ujar Chico melalui keterangannya, Kamis (27/11).
Chico menjelaskan, mereka datang ke Jakarta dengan berbagai tujuan mulai untuk bekerja, sekolah, kuliah, berbisnis, berobat, hingga mengurus layanan publik.
"Mobilitas inilah yang membuat Jakarta terasa jauh lebih padat daripada jumlah penduduk resminya," bebernya.
Lebih lanjut, Politikus PDIP itu menerangkan, Jakarta dihitung dengan dua cara berbeda yakni secara fungsional yang menacapi 42 juta dan secara Administratif 11 juta orang resmi yang memiliki NIK.
Chico menegaskan, angka 42 juta yang menjadi rujukan beberapa media nasional untuk melihat kepadatan penduduk tersebut, merupakan prediksi pergerakan urbanisasi.
"Jadi 42 juta itu adalah prediksi Pergerakan urbanisasi di kota megapolitan," bebernya.
Sebagai informasi, dari laporan PBB tentang World Urbanization Prospects 2025, Jakarta menempati urutan pertama sebagai kawasan urban terbesar di dunia.
Dengan populasi mencapai 42 juta jiwa, wilayah megapolitan Jabodetabekpunk membentuk pusat urbanisasi yang melampaui kota-kota besar lain di Asia maupun global.
Menyusul Jakarta, Dhaka berada di posisi berikutnya dengan sekitar 37 juta penduduk, mencerminkan lonjakan urbanisasi yang cepat di Bangladesh.
Di belakangnya, Tokyo menempati peringkat selanjutnya dengan 33 juta jiwa, mempertahankan statusnya sebagai salah satu megacity paling stabil dalam pertumbuhan populasi.
Di urutan berikutnya, New Delhi mencatat sekitar 30 juta penduduk, setara dengan Shanghai yang juga berada pada kisaran 30 juta jiwa, menunjukkan bagaimana dua pusat ekonomi terbesar Asia ini terus tumbuh sebagai magnet migrasi dan aktivitas ekonomi.
Lebih ke selatan China, Guangzhou menyusul dengan 28 juta jiwa, memperlihatkan ekspansi kawasan Delta Sungai Mutiara sebagai super-region yang semakin signifikan. Setelah itu, pusat sejarah dan budaya di Afrika Utara, Kairo, mencatat 26 juta penduduk, menjadikannya megacity terbesar di benua tersebut.
Di Asia Tenggara, Manila mencatat 25 juta jiwa, menunjukkan bagaimana urbanisasi di Filipina bergerak cepat dan terkonsentrasi di satu kawasan metropolitan besar. Sementara itu, Kolkata berada pada kisaran 23 juta penduduk, memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat urban tertua dan terpadat di India.
Menutup daftar sepuluh besar dunia, Seoul berada pada angka 22 juta jiwa, menggambarkan bagaimana Korea Selatan tetap memiliki konsentrasi penduduk yang tinggi di ibu kotanya meskipun laju pertumbuhan mulai melambat. (Z-10)
Pelaksanaan OMC dilakukan secara terukur dengan merujuk pada data prakiraan cuaca terbaru.
BPBD DKI Jakarta melaporkan 10 ruas jalan dan 16 RT terendam banjir setinggi 10–70 cm akibat hujan deras sejak Sabtu malam (17/1/2026).
Pada pagi hari, seluruh wilayah Jakarta diperkirakan akan hujan ringan. Namun, potensi hujan petir sudah mulai muncul sejak pagi menjelang siang.
Kondisi ini dipicu oleh penguatan Monsun Asia dan adanya sistem tekanan rendah di selatan Nusa Tenggara Barat yang membentuk pola konvergensi atau pertemuan angin.
Transformasi digital ini merupakan komitmen nyata pemerintah dalam menjamin kedaulatan air di Ibu Kota
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved